KETIK, SURABAYA – Pernah tidak membayangkan melintas di bawah Jembatan Suramadu? Ada berbagai alternatif untuk merasakannya, melewati dan melihat kokohnya bangunan jembatan terpanjang di Indonesia itu.
Pertama, menyewa perahu nelayan di kawasan Tambak Wedi, Surabaya, dan berlayar hingga di bawah tiang pancang tengah jembatan.
Kedua, menumpang kapal jurusan Lombok dari Tanjung Perak, yakni KM Kirana VII dan KM Dharma Kencana. Keduanya merupakan kapal milik perusahaan pelayaran PT Dharma Lautan Utama (DLU).
Setiap hari, kedua kapal tersebut memiliki jadwal berlayar bergantian. KM Kirana VII melayani rute dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju Pelabuhan Lembar di Lombok dan sebaliknya, sedangkan KM Dharma Kencana bersandar di Pelabuhan Gili Mas dan sebaliknya.
Pengalaman melintas di bawah Jembatan Suramadu dari atas dek KM Dharma Kencana agak berbeda dengan KM Kirana VII. Meski berasal dari perusahaan yang sama, karakter bangunan kedua kapal tersebut berbeda, terutama pada bagian dek atau paling atas kapal.
Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Ro-Ro di Tanjung Perak. Deru mesin kapal mulai terdengar perlahan saat kapal meninggalkan sandarannya di dermaga.
Di sisi kanan, kiri, depan, dan belakang, terlihat kapal-kapal yang didominasi kapal barang. Ada yang sedang bongkar muat di dermaga, ada pula yang terparkir dengan menambatkan jangkar di tengah laut.
Setelah kapal berputar balik dari Pelabuhan Ro-Ro dan melintas di Selat Madura, tampak gagah berdiri Jalesveva Jayamahe. Patung seorang prajurit perwira menengah TNI Angkatan Laut tersebut berdiri tegap sambil memegang tongkat dan menghadap ke samudra.
Di sekitarnya berjajar kapal-kapal perang yang di lambungnya bertuliskan KRI, diikuti nomor sebagai identitas kapal yang merupakan salah satu alat utama sistem senjata (alutsista) milik bangsa ini.
"Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita akan melintasi bawah Jembatan Suramadu. Para penumpang dipersilakan ke bagian dek," ujar kru KM Dharma Kencana melalui pengeras suara.
Di atas kapal, Jembatan Suramadu semakin tampak jelas berdiri kokoh. Semakin dekat dan semakin dekat. Di geladak kapal, tepatnya bagian paling atas, puluhan orang dengan kamera handphone siap merekam momen tersebut.
Tentu bersejarah karena tidak setiap saat bisa melintas di bawah Jembatan Suramadu. Momen "mahal" tersebut pun sayang untuk dilewatkan begitu saja.
Dari jarak beberapa ratus meter, para penumpang sudah memenuhi bagian dek maupun geladak kapal luar, baik sisi kanan, kiri, depan, maupun belakang. Mayoritas mengabadikan momen tersebut melalui handphone atau kamera masing-masing.
Saat kapal hanya berjarak beberapa meter dari tiang pancang tengah jembatan, suara bel kapal terdengar sangat keras.
"Teeeeettttt....," bunyi lengkingan klakson dari sang nakhoda seolah menyapa Suramadu. Suara tersebut membuat suasana semakin berkesan dan menumbuhkan momentum tersendiri bagi para penumpang.
Berfoto bersama dengan latar Jembatan Suramadu dari laut atau dengan latar tiang pancang tengah dan bagian bawah jembatan menjadi pengalaman tak terlupakan.
"Kapan lagi foto di bawah Suramadu. Sangat rugi kalau tidak melihat dan merasakan langsung pengalaman seperti ini, apalagi juga baru pertama kali," tutur Yono, salah seorang penumpang.
Jembatan Suramadu adalah jembatan kabel pancang yang menghubungkan Surabaya di Pulau Jawa dan Kabupaten Bangkalan bagian selatan di Pulau Madura, Indonesia.
Resmi dibuka pada 10 Juni 2009, jembatan sepanjang 5,4 kilometer ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia dan terpanjang kedua di Belahan Bumi Selatan. Peresmian dilakukan oleh Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (*)
