KETIK, MALANG – Berdasarkan catatan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 5.000 dari 8.000 desa di Jawa Timur rawan terjadi bencana. Kepala daerah pun diminta untuk memperkuat mitigasi bencana.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BNPB Suharyanto saat menghadiri Lokakarya Pembelajaran Praktik Baik Desa Tanggap Bencana (Destana) dan Integrasi dalam Sistem Perencanaan dan Penganggaran Desa, di Kota Malang.
"Kita tinggal di daerah yang rawan bencana. Jawa Timur memiliki 8.000 desa, dan 5.000 di antaranya rawan bencana. BNPB memetakan dari 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, tidak ada satu pun yang risiko bencananya rendah, minimal berisiko sedang," ujarnya, Rabu, 5 Agustus 2026.
Hingga 5 Agustus 2026, BNPB Pusat telah mengerahkan bantuan untuk 1.372 kejadian bencana besar. Jumlah tersebut belum termasuk dengan bencana yang berhasil ditangani mandiri oleh daerah.
"Jenis bencana saat ini mulai bergeser meski memasuki musim kemarau dan kekeringan. Dua hari lalu Kota Padang masih dilanda banjir bandang akibat fenomena siklon. Hal ini merusak infrastruktur rehabilitasi dan rekonstruksi yang dibangun sejak 2025," lanjutnya.
Dalam menghadapi hidrometeorologi kering, setiap daerah diminta mendata kebutuhan sumur bor, pipanisasi, hingga mobil tangki. Untuk rehabilitasi dan rekonstruksi bencana di Sumatera sendiri pemerintah telah mengalokasikan anggaran hingga Rp101,3 triliun selama 3 tahun.
"Biaya penanganan pascabencana jauh lebih besar dibandingkan investasi pencegahan, perbandingannya bisa mencapai 1 berbanding 100. Oleh karena itu, program pencegahan dan kesiapsiagaan sangat strategis," katanya.
Meskipun Jatim menjadi ranking ketiga dengan jumlah bencana tertinggi selama 2016-2025, ia menilai kesadaran dan alokasi anggaran penanggulangan bencana yang dimiliki sudah sangat baik.
"Kepala daerah yang belum peduli bencana harus sadar bahwa bencana tidak bisa dihindari. Pada tahun 2025 tercatat ada 4.787 kejadian bencana. Saat ini fokus penanganan juga tertuju pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," jelasnya. (*)
