KETIK, MALANG – Es Teler Dempo No 7 telah menjadi salah satu kuliner legendaris di Kota Malang yang menjadi destinasi wajib bagi wisatawan. Bukan hanya menjadi sajian segar, tetapi juga tempat nostalgia bagi lulusan SMA Dempo.
Kuliner memang menjadi salah satu daya tari dari Kota Malang. Banyak sajian yang membuat wisatawan selalu kembali berkunjung, mulai dari makanan berat hingga hidangan segar menjadi incaran banyak pendatang.
Salah satunya adalah Es Teler Dempo No 7 yang telah hadir sejak tahun 1978. Kedai es ini menjadi spot kuliner legendaris yang selalu dikunjungi oleh wisatawan. Meski telah berdiri puluhan tahun, kedai ini masih tetap melestarikan resep otentik dari sang nenek.
Pelanggan sedang menikmati semangkuk es teler dan es mocca di Es Teler Dempo No 7. (Foto: Aliyah/Ketik.com)
Adi, generasi ketiga pemilik Es Teler Dempo No 7 bercerita bahwa dulunya sang nenek berjualan es menggunakan gerobak dan stay di samping SMA Dempo atau SMA Katolik St. Albertus. Menu awal yang dijual pada saat itu adalah es mocca, di mana sirup moka yang digunakan memang asli buatan sendiri.
Di tahun 90-an, es moka sendiri dibanderol dengan harga Rp1.200. Saat ini, Es Teler Dempo No 7 memiliki beberapa menu, yakni es mocca, es teler, es buah, es campur, es kacang ijo yang dibanderol dengan harga 15.000. Sementara es mocca dan es teler yang ditambahkan durian dibanderol dengan harga Rp25.000.
Adi mengungkapkan jika sirup gula yang menjadi andalan di semua menu kedainya. Ia mengatakan jika sirup yang digunakan memang hasil dari buatan sendiri.
Selain itu, kedai ini juga menggunakan isian yang memang buah-buahan, khususnya pada es teler. Tak heran jika banyak pengunjung yang ketagihan dengan sajian es di kedai Es Teler Dempo No 7, seperti alpukat, nangka, dan kelapa.
Adi juga menuturkan jika semua bahan yang ia pilih memang memiliki kualitas tinggi. Sehingga, dengan harga yang ia tawarkan masih worth it untuk mendapatkan satu mangkuk es full berisikan buah-buahan.
Salah satu buah yang membuktikan kualitas premium adalah kelapa. Adi menggunakan kelapa muda yang memang pas, tidak terlalu tua, sehingga menciptakan tekstur lembut disetiap gigitannya.
"Kita tidak ada jeli-jeliannya, full buah. Buah pun aja kita pilih yang premium. Tidak yang asal-asalan. Kelapa juga nggak yang tua, alat gitu.Kita ada standarnya sendiri memang," tuturnya.
Ia juga menyampaikan bahwa meski harga bahan melambung tinggi, harga es tidak dinaikkan. Sehingga, ia mengurangi untung yang ia dapatkan untuk membeli buah-buahan yang premium. Menurutnya, naik turun harga adalah risiko ketika menjaga kepercayaan pelanggan.
"Ibarat, kalau harga lagi turun, kita bisa laba Rp100.000. Kalau harga naik, kita dapat untung cuma Rp20.000. Minimal kita pelanggan tetap kembali. Kalau kita mindset-nya sih gitu. Jadi jangan sampai pelanggan tidak jadi beli atau kalau nggak gitu, kita ganti. Kalau kita ganti pakai jelly. Nanti malah pelanggan malah, kok jadi gini Jadi tidak jajan lagi," ujar Adi.
Berlokasi di Jalan Gede No.24, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Kedai Es Teler Dempo No 7 telah menjadi tempat wajib untuk dikunjungi, terutama para alumni SMA Dempo. Adi menuturkan jika kebanyakan pengunjung yang datang adalah wisatawan, justru jarang untuk warga Malang sendiri.
"Jadi di sini lebih ke orang-orang wisata-wisata. Ya, memang ada orang Malangnya. Soalnya kalau di sini, kalau rame itu pasti liburan. Jadi orang luar kota," ungkapnya.
Setiap harinya, kedai ini buka dari pukul 08.30 WIB hingga 16.00 WIB. Namun saat bulan puasa, kedia ini tutup di pukul 19.00 WIB.
Di era banyaknya pedagang es, Adi menjelaskan jika kualitas premium tetap menjadi sesuatu yang terus dijaga untuk memiliki pelanggan. Es Teler Dempo No 7 juga tersedia di aplikasi online. Sehingga, masyarakat Malang yang ingin menikmati namun tidak ingin pergi ke kedai bisa memesan melalui aplikasi ojek online.
"Iya, tantangan banget. Kompetitor makin banyak. Apalagi setelah korona itu kan orang banyak PHK terus pada jualan semua. Jadi kompetitor makin banyak, tidak kayak dulu. Dulu yang jualan bisa dihitung, sekarang pada jualan semua," jelas pria berusia 30 tahun tersebut.
"Jadi semua jualan siapa yang beli kan gitu. Terus bahan naik semua, terus gimana kita caranya dengan bahan naik semua, tapi tetap kualitas premium. Jadi pasti yang ditekan ya marginnya itu, keuntungannya nipis," pungkasnya.
Bagi para pecinta kuliner segar, Es Teler Dempo No 7 wajib menjadi sajian legendaris yang harus dicoba ketika berada di Kota Malang.(*)
