Restoran Lama di Kota Malang Berguguran, Ternyata Ini Biang Keroknya

7 Oktober 2026 16:50 7 Okt 2026 16:50

Nurul Aliyah, Gumilang

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Restoran Lama di Kota Malang Berguguran, Ternyata Ini Biang Keroknya

Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki menanggapi persoalan banyak restoran lama di Kota Malang yang tutup permanen. (Foto: Aliyah/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Ketua Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang memberikan tanggapan terkait banyak restoran yang telah lama berdiri di Kota Malang tiba-tiba tutup. Ini bukan hanya sekadar tempat makan yang tak jual lagi, namun cara manajemen bertahan di era ini.

Akhir-akhir ini, terdapat topik yang sedang ramai di sosial media, terkait beberapa restoran yang telah berdiri di Kota Malang tiba-tiba telah tidak beroperasional.

Tentunya ini menjadi kabar yang cukup mengagetkan bagi warga Malang yang mungkin telah memiliki kenangan di beberapa restoran tersebut.

Tutupnya beberapa gerai kuliner ini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Malang. Pasalnya mereka ingin tahu penyebab restoran yang telah lama berdiri dan menjadi destinasi mengisi perut bagi warga Malang tiba-tiba tutup permanen.

Agoes Basoeki, Ketua PHRI Kota Malang menilai tutupnya bisnis Food and Beverage (F&B) di Kota Malang disebabkan beberapa faktor.

Menurutnya generasi penerus bisnis menjadi bagian penting untuk bisa menjaga dan meningkatkan kualitas sesuai dengan perkembangan zaman.

Ia menilai kualitas menu wajib untuk dijaga. Faktor ini juga membuat pelanggan lebih memilih beralih ke restoran lain jika kualitas tidak dijaga dengan baik. Ia juga mengatakan jika saat ini bisnis F&B tengah mengalami persaingan yang ketat.

Banyak kedai-kedai baru yang lebih murah dan lezat. Sehingga, berdampak pada restoran-restoran yang telah berdiri lama.

Agoes Basoeki juga menyampaikan jika banyak restoran tutup disebabkan biaya operasional dan manajemen tidak dapat tercukupi. Selain itu, di era kemajuan teknologi, inovasi menjadi salah satu yang wajib untuk dikembangkan untuk dapat mempertahankan bisnis F&B.

Menurutnya, banyak restoran yang tutup disebabkan karena kurang inovasi, strategi dan adaptasi dengan perkembangan teknologi.

"Yang jelas yang terjadi di Malang itu generasi penerusnya tidak mau melanjutkan, tidak dapat menjaga kualitas menu dan pelayanan. Sehingga pelanggannya beralih ke resto lain. Kemudian, tidak bisa mengikuti perkembangan karakter dan perilaku konsumen di era sekarang," jelas Agoes Basoeki.

"Selain itu, persaingan yang ketat, beban biaya operasional dan manajemen yang tidak mencukupi. Serta, kurang inovasi, strategi dan adaptasi dengan perkembangan tekhnologi," imbuhnya.

Di sisi lain, Agoes Basoeki mengungkapkan bahwa Kota Malang untuk bisnis F&B masih tergolong bagus. Menurutnya, bisnis F&B memang harus bisa mengikuti perkembangan zaman. 

Ia menyebut bahwa strategi dan konsep yang bagus itu perlu untuk mempertahankan bisnis F&B. Agoes Basoeki mengatakan basa saat ini pangsa pasar lebih banyak ke anak muda. Sehingga, bisnis F&B perlu mempertimbangkan kesukaan para anak muda.

Sementara itu, kualitas menu, estetika, pelayanan, serta kemampuan marketing perlu tetap diperhatikan. Menurutnya, pemasaran melalui sosial media kini harus terus ditingkatkan.

"Kalau secara bisnis di Kota Malang untuk F&B masih bagus. Namun, perlu strategi dan konsep yang bagus, serta mempertimbangkan bahwa bisnis F&B saat ini pangsanya banyak ke anak muda, mahasiswa yang perlu diperhatikan di samping kualitas menu adalah faktor estetika dan pelayanan, serta kemampuan bermarketing menggunakan sosial media," ungkap Agoes Basoeki.(*)

Tombol Google News

Tags:

agoes basoeki PHRI Kota Malang Ketu Phri Malang Restoran Lama Tutup restoran malang Kota Malang