KETIK, MALANG – Di kawasan Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang, berdiri sebuah pohon yang tak pernah lepas dari perhatian para peziarah. Pohon itu adalah dewandaru, yang oleh sebagian masyarakat dipercaya membawa berkah dan keberuntungan bagi siapa saja yang kejatuhan daun maupun buahnya.
Keberadaan pohon dewandaru bermula setelah wafatnya Eyang Djoego. Saat itu, Eyang Raden Mas Iman Soedjono menetap di Gunung Kawi untuk merawat makam sekaligus menata kawasan pesarean. Selain menanam berbagai jenis tanaman seperti nangka, nagasari, duku, dan kepel, ia juga menanam pohon dewandaru di sisi kanan Pendopo Agung Pesarean Gunung Kawi.
Di antara berbagai koleksi tanaman tersebut, pohon dewandaru menjadi yang paling dikenal karena kisah dan kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat.
Salah seorang peziarah, Eko, mengatakan masyarakat dahulu meyakini pohon tersebut berasal dari tongkat milik Eyang Djoego yang ditancapkan ke tanah hingga kemudian tumbuh menjadi pohon.
"Pohon dewandaru itu dulu dipercaya berasal dari tongkat Eyang Djoego. Ditancapkan di situ lalu tumbuh menjadi pohon dewandaru. Dulu banyak yang berdoa di bawahnya berharap kejatuhan daun atau buahnya. Sekarang sudah tidak banyak lagi. Lebih banyak yang datang untuk mendoakan Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono," ujarnya.
Di balik kisah spiritualnya, dewandaru juga dikenal sebagai tanaman yang memiliki manfaat kesehatan. Pohon dengan nama ilmiah Eugenia uniflora ini sebenarnya berasal dari Amerika Selatan, namun telah lama dibudidayakan di Indonesia.
Buahnya yang berwarna merah hingga jingga mengandung antioksidan dan sejumlah vitamin. Dalam pengobatan tradisional, daun maupun buah dewandaru kerap dimanfaatkan sebagai herbal untuk membantu mengatasi demam, diare, hingga membantu mengontrol tekanan darah. Kendati demikian, manfaat tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan tidak menggantikan penanganan medis.
Hingga kini, pohon dewandaru tetap menjadi salah satu ikon Pesarean Gunung Kawi. Bukan hanya karena usianya yang telah puluhan tahun, tetapi juga karena kisah, tradisi, dan nilai budaya yang terus hidup di tengah para peziarah yang datang dari berbagai daerah.
.png)