Bukan Pesugihan, Warga Gunung Kawi Beber Berkah Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono

20 Juli 2026 11:23 20 Jul 2026 11:23

Thumbnail Bukan Pesugihan, Warga Gunung Kawi Beber Berkah Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono

Deretan penjual bunga tabur di kawasan Pesarean Gunung Kawi Kabupaten Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Aroma bunga tabur bercampur dinginnya udara pegunungan menyambut setiap peziarah yang datang ke Pesarean Gunung Kawi, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Di tempat yang selama puluhan tahun menjadi tujuan ziarah lintas agama dan lintas budaya itu, berkah ternyata hadir dalam bentuk sederhana, berputarnya roda ekonomi warga.

Bagi masyarakat sekitar, ramainya peziarah bukan sekadar angka. Mereka adalah sumber penghidupan.

Yuni, salah seorang penjual bunga ziarah, menjadi saksi bagaimana aktivitas di kawasan pesarean menghidupi banyak keluarga. Setiap hari ia melayani peziarah yang membeli bunga untuk berdoa di makam Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono.

"Kalau sedang ramai bisa dapat sekitar Rp300 ribuan sehari. Hari biasa sekitar Rp100 ribuan. Semua disyukuri. Alhamdulillah," katanya.

Baginya, rezeki itu adalah berkah dari ramainya para peziarah, bukan seperti cerita-cerita mistis yang selama ini beredar.

"Ini berkah dari Eyang Jugo sama Eyang Iman Soedjono. Berkahnya ya seperti ini, bukan pesugihan apalagi tumbal," ujarnya.

Harapan Yuni sederhana. Ia ingin masyarakat tidak lagi termakan gosip yang selama ini melekat pada nama Gunung Kawi.

"Semoga tidak ada gosip macam-macam lagi, supaya orang tidak takut datang ke Pesarean Gunung Kawi," katanya.

Cerita serupa datang dari Hartono, petugas parkir di kawasan pesarean. Penghasilannya sangat bergantung pada jumlah pengunjung yang datang.

Pada hari biasa, ia memperoleh sekitar Rp100 ribu per hari. Namun ketika memasuki malam Jumat Kliwon, Senin Pahing, peringatan haul, hingga perayaan Imlek, penghasilannya bisa melonjak hingga sekitar Rp500 ribu sehari.

"Kalau ada acara-acara seperti Imlek atau haul, pengunjung dari luar kota membludak," katanya.

Foto Warung dan penginapan pun menjamur di kawasan Pesarean Gunung Kawi Kabupaten Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)Warung dan penginapan pun menjamur di kawasan Pesarean Gunung Kawi Kabupaten Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)

Menurut Hartono, isu pesugihan yang belakangan kembali ramai memang sempat membuat banyak orang penasaran sehingga datang untuk melihat langsung. Namun di sisi lain, ia mengaku khawatir jika stigma negatif itu justru membuat masyarakat enggan berziarah.

"Saya selalu tanya pengunjung, mau ziarah atau apa. Kalau memang mau ziarah ya silakan. Tapi kalau mencari yang lain, saya jelaskan di sini tempat untuk berziarah. Kalau ingin yang lain, saya bilang di sini bukan tempatnya," ujarnya.

Ramainya peziarah memang bukan hal baru di Gunung Kawi.

Eko, petugas keamanan Pesarean Gunung Kawi, mengatakan lonjakan pengunjung selalu terjadi pada malam Jumat Kliwon maupun Senin Pahing. Bahkan pelataran pesarean kerap tidak mampu menampung seluruh peziarah yang datang.

"Orang-orang sampai tidak cukup pelataran ini. Bisa ratusan yang ingin ziarah. Mereka datang dari berbagai daerah, berbagai suku dan agama. Cara berdoanya juga bermacam-macam," ujarnya.

Keberagaman itu juga tercermin dari data kunjungan yang dikelola pengelola pesarean.

Staf media sosial Pesarean Gunung Kawi, Ananda Fatma, mengatakan jumlah pengunjung justru meningkat setelah pandemi COVID-19 berakhir.

Pada akhir pekan, jumlah peziarah rata-rata dapat mencapai sekitar seribu orang. Sementara pada Senin Pahing dan Jumat Kliwon jumlahnya bahkan lebih padat dibandingkan akhir pekan biasa.

Adapun pada hari kerja, jumlah pengunjung berkisar 100 hingga 200 orang per hari.

"Kalau weekend bisa sekitar seribu orang. Kalau Senin Pahing sama Jumat Kliwon malah lebih padat lagi," jelasnya.

Ia menambahkan, kawasan pesarean dibuka mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Sementara area pendopo memiliki jam istirahat karena mengikuti jadwal juru kunci.

Di balik ramainya aktivitas tersebut, pengelola mengaku masih harus menghadapi persoalan lain, yakni stigma pesugihan yang terus berulang di media sosial.

Foto Para peziarah menjadi berkah bagi warga sekitar kompleks Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)Para peziarah menjadi berkah bagi warga sekitar kompleks Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)

Menurut Ananda, narasi negatif itu tidak hanya merugikan pengelola, tetapi juga langsung memukul perekonomian warga yang menggantungkan hidup dari aktivitas ziarah.

"Sebenarnya stigma negatif itu membawa dampak buruk bukan hanya ke pengelola, tetapi juga masyarakat sekitar. Masih banyak warga yang bekerja sebagai pedagang maupun pelaku UMKM yang menggantungkan hidup di Pesarean Gunung Kawi," ujarnya.

Ia menilai, ketika isu-isu tersebut kembali mencuat, sebagian masyarakat menjadi takut datang sehingga jumlah pengunjung ikut terpengaruh.

"Padahal kalau mau mencari informasi lebih jauh sebelum menyimpulkan, di sini tidak ada hal-hal seperti itu," katanya.

Bagi warga sekitar, Gunung Kawi bukanlah tempat mencari kekayaan secara instan seperti yang sering digambarkan dalam berbagai cerita populer.

Di balik kisah-kisah mistis yang kerap beredar, denyut ekonomi itulah yang sesungguhnya menjadi berkah terbesar Pesarean Gunung Kawi bagi masyarakat di sekitarnya. 

Tombol Google News

Tags:

gunung kawi pesugihan Gunung Kawi Pesarean Gunung Kawi Eyang Djoego Raden Mas Iman Soedjono