KETIK, MALANG – Akademisi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Brawijaya (UB) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) mendorong generasi muda untuk bisa mengetahui sejarah Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI) melalui karya sastra dengan berbagai sudut pandang.
Ia menyebutkan dalam film dokumenter G30S PKI terdapat sudut pandang hegemoni, ya mana film itu dibuat oleh siapa yang berkuasa saat itu.
G30S PKI sampai saat ini masih menjadi sejarah yang terus dikenang. Jasa para pahlawan revolusi terus menjadi pengingat bahwa Pancasila pernah menjadi senjata paling kuat dalam menjaga persatuan Indonesia. Hingga, sehari setelah tragedi G30S PKI langsung diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila.
Karya sastra menjadi salah satu media di mana generasi saat ini bisa mengetahui sejarah yang terjadi di masa lampau. Dalam hal ini, sejarah G30S PKI nyatanya memiliki sudut pandang yang berbeda di setiap karya sastra pada tahun 1965. Sehingga, sejarah tak hanya dapat dilihat melalui film dokumenter.
Muh. Fatoni Rohman, M.Pd., Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) menyampaikan bahwa terdapat beberapa karya sastra berupa novel yang mengangkat cerita pada tahun 1965, di mana tahun tersebut terdapat banyak sekali tragedi PKI di Indonesia.
Dalam kajian sastra, waktu terjadinya cerita menjadi background penting untuk diketahui. Fatoni Rohman mengungkapkan bahwa banyak karya sastra dengan latar belakang tahun 1965, di mana tahun itu bukan hanya 6 Jenderal dan 1 perwira TNI AD yang dibunuh dan dimasukkan ke dalam lubang buaya tetapi banyak tragedi PKI di beberapa daerah Indonesia.
Fatoni Rohman menjelaskan bahwa dalam kajian sastra, penelitian Sosiologi Sastra memiliki tujuan untuk menemukan zaman di mana karya sastra tersebut terbit. Beberapa karya sastra hadir dengan berbagai sudut pandang.
"Maka ada beberapa tema yang melekat seperti tema sastra sebagai dokumen sosial, sastra sebagai cermin zaman, dan seterusnya. Itu adalah tema-tema yang melekat pada Sosiologi Sastra. Dari karya sastra yang diproduksi, kita bisa melihat bagaimana zaman itu berjalan, karena sastra itu bagian dari budaya, budaya itu terbentuk karena jiwa zaman atau jikis. Itu menurut saya, data yang saya temukan," ujarnya.
Tentunya ini menunjukkan bahwa tragedi G30S PKI tidak hanya terjadi di lubang buaya. Beberapa karya sastra Indonesia mengangkat kisah di tahun 1965 dari berbagai daerah, salah satunya Malang. Dengan penelitian karya sastra, akhirnya beragam sudut pandang berbeda-beda dapat ditemukan.
Untuk mengetahui sejarah 1965, generasi muda tidak hanya bisa mengandalkan film dokumenter. Novel berlatar tragedi G30S/PKI juga dapat memberikan sudut pandang berbeda, seperti novel "Buku Harian Keluarga Kiri" karya Dhianita Kusuma Pertiwi yang menceritakan seseorang yang dituduh sebagai anggota PKI, kemudian ditangkap, dipenjara di Lowokwaru, Malang, dan dibuang ke Pulau Buru.
Fatoni Rohman mengungkapkan bahwa dalan film G30S PKI, terdapat sudut pandang hegemoni, di mana ada tokoh yang berkuasa dalam film tersebut. Fatoni Rohman mengutip salah satu kalimat dalam novel George Orwell yang ia tafsir.
"Siapa yang menguasai masa lalu, masa kini, dia akan menguasai masa depan. Siapa yang menguasai masa lalu, dia akan menguasai masa depan. Dan siapa yang menguasai masa kini, dia akan menguasai masa lalu," tafsirannya dari kalimat novel George Orwell.
Menurutnya, dalam kutipan tersebut menunjukkan hukum sejarah yang mana sejarah ditulis oleh pemenang. Ia menyampaikan bahwa siapa yang berkuasa hari ini kemungkinan dapat menentukan sejarah.
"Sebagaimana perspektif yang dia inginkan karena saya yakin bahwa sejarah itu akan memunculkan beragam perspektif. Satu konflik itu kan pasti, karena konflik ada dua perspektif. Siapa yang menang konflik itu, cenderung menggunakan perspektif yang dia yakini," jelas Fatoni Rohman.
Dalam hal ini, Fatoni Rohman menuturkan bahwa ketika berposisi sebagai pembaca sejarah, anak muda diberikan peluang untuk mengetahui dari berbagai perspektif. Sehingga memunculkan narasi yang lebih komprehensif dan tidak menjadi keberpihakan buta.
"Sehingga keberpihakan kita itu bukan keberpihakan buta, tapi kebepihakan berdasarkan satu perspektif yang kokoh, secara data, secara referensi, secara informasi," tutur Fatoni Rohman.
"Itu yang menurut saya penting untuk kita cermati hari ini. Bagi teman-teman pembaca hari ini, kita itu pembaca sejarah. Maka sudah selayaknya kita membaca sejarah dari berbagai perspektif, sehingga kita memiliki konklusi sendiri, memiliki simpulan sendiri terhadap sebuah peristiwa," imbuhnya.
Sementara itu, menurut Fatoni Rohman ketika para siswa sekolah diminta untuk menonton film dokumenter G30S PKI adalah membangun memori kelam. Ia menyebutkan tragedi pembantaian para jenderal harusnya menjadi momen yang dilupakan.
Menurutnya, secara ideologi dari pemutaran film dokumenter G30SPKI harus diluruskan dan ketika film tersebut diputar kepada anak sekolah disarankan untuk bisa memberikan sandingannya.
"Saya secara pribadi mengakui bahwa film G30S PKI itu salah satu film paling keren, tetapi secara ideologi ada beberapa yang perlu diluruskan. Ada penculikan? Iya. Ada pembunuhan jenderal? Iya. Itu peristiwa yang tidak bisa kita bantah karena memang itu terjadi," jelas Fatoni Rohman.
"Cuma dampaknya, karena yang dituduh menculik itu, ini kan besar, kemudian eksisnya, eksis dari ideologi itu menjadi besar, maka yang menjadi seperti yang kita lihat hari ini. Kalau saya, apabila memang ada pemutaran film G30S PKI atau film-film ideologis yang lain, monggo, tetapi ada sandingannya," tambahnya.
Ia menegaskan bahwa dalam film tersebut terdapat narasi hegemoni yang dianggap kebenaran. Sehingga, harus ada narasi pembandingnya untuk dapat mendukung narasi tersebut. Menurutnya, film dokumenter adalah produk budaya yang tergantung dari ideologi yang dibawa. Dengan memberikan pembanding, para audience dapat menilai.
"Ketika ada satu konsepsi, satu film, satu produk budaya tergantung ideologi ini, ya sandingkan dong. Berikan pembandingnya. Sehingga kita sebagai pembaca sejarah, bukan lagi pelaku sejarah, kita sebagai pembaca sejarah itu bisa menilai. Bisa menilai bahwa perjuangan ini, oh iya memang ada jenderal yang dibunuh, iya. Satu nyawa itu, satu nyawa terbunuh itu kan ya bukan hal yang murah," ucap Fatoni Rohman.
Dengan membaca karya sastra, generasi muda dapat lebih mengetahui bagaimana sejarah tahun 1965 terjadi di Indonesia dari berbagai perspektif.
Sehingga, ini akan membuka wawasan baru di mana sejarah tak hanya dari satu sudut pandang melainkan masih ada perspektif lainnya yang juga masuk dalam kisah tahun 1965.(*)
