Kronologi G30S 1965, dari Penculikan Perwira hingga Penemuan Jenazah di Lubang Buaya

30 September 2026 11:54 30 Sep 2026 11:54

Hanifuddin Musa, Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Kronologi G30S 1965, dari Penculikan Perwira hingga Penemuan Jenazah di Lubang Buaya

Ilustrasi pada jenderal yang menjadi korban Tragedi G30S PKI. (Foto: AI)

KETIK, JAKARTA – Setiap 30 September, masyarakat Indonesia kembali mengingat salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah politik nasional, yakni Gerakan 30 September 1965 atau yang selama ini populer disebut G30S PKI.

Peristiwa tersebut berlangsung pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965. Rangkaian kejadian itu ditandai dengan penculikan sejumlah perwira Angkatan Darat yang kemudian ditemukan meninggal dunia di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

G30S terjadi ketika kondisi politik Indonesia sedang berada dalam situasi penuh ketegangan. Saat itu, pemerintahan Presiden Soekarno menerapkan Demokrasi Terpimpin. Persaingan dan perbedaan kepentingan di antara berbagai kekuatan politik semakin tajam, termasuk antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Angkatan Darat.

PKI dan Situasi Politik Indonesia 

Dilansir dari laman resmi Universitas Sains dan Teknologi Komputer, Semarang, Jawa Tengah (Jateng), dijelaskan, pada era 1960-an, PKI menjadi salah satu kekuatan politik besar di Indonesia. Partai yang dipimpin D.N. Aidit tersebut memiliki basis dukungan dari berbagai kelompok masyarakat, terutama buruh dan petani.

PKI juga mempunyai hubungan politik yang dekat dengan Presiden Soekarno. Namun, di sisi lain, hubungan PKI dengan Angkatan Darat semakin diwarnai ketegangan.

Perbedaan kepentingan tersebut terlihat dalam sejumlah persoalan politik dan keamanan. Salah satunya adalah gagasan pembentukan Angkatan Kelima yang berkaitan dengan persenjataan buruh dan petani.

Situasi politik juga semakin rumit dengan munculnya isu mengenai Dewan Jenderal. Kelompok tersebut dituding sebagai kumpulan jenderal Angkatan Darat yang disebut-sebut memiliki rencana untuk mengambil alih kekuasaan Presiden Soekarno.

Pada saat yang sama, kondisi kesehatan Soekarno juga menjadi bahan pembicaraan politik. Kekhawatiran mengenai kemungkinan perubahan kekuasaan ikut memperbesar ketegangan di antara kelompok-kelompok politik saat itu.

​​​​​​Malam 30 September dan Penculikan Perwira 

Ketegangan politik tersebut mencapai titik penting pada malam 30 September 1965.
Memasuki dini hari 1 Oktober, pasukan yang terlibat dalam Gerakan 30 September bergerak menuju sejumlah kediaman perwira tinggi Angkatan Darat. Gerakan tersebut dipimpin Letkol Untung, sementara Lettu Dul Arief ditunjuk memimpin pasukan penculik.

Sejumlah perwira Angkatan Darat kemudian menjadi sasaran. Mereka diculik dan dibawa ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Enam jenderal dan satu perwira pertama yang menjadi korban penculikan tersebut adalah:

• Jenderal Ahmad Yani
• Letjen R. Soeprapto
• Letjen M.T. Haryono
• Letjen S. Parman
• Brigjen D.I. Panjaitan
• Brigjen Sutoyo Siswomiharjo
• Lettu Pierre Tendean

Jenderal A.H. Nasution juga menjadi salah satu sasaran. Namun, ia berhasil menyelamatkan diri dari penculikan.

Dalam kejadian tersebut, putri A.H. Nasution, Ade Irma Suryani Nasution, turut menjadi korban. Ajudannya, Lettu Pierre Tendean, juga ditangkap dan kemudian ditemukan meninggal dunia.

Selain itu, Brigadir Polisi K.S. Tubun gugur ketika menjalankan tugas pengamanan di sekitar rumah Dr. J. Leimena.

RRI Dikuasai, Situasi Jakarta Berubah 

Setelah melakukan penculikan, pasukan G30S menguasai gedung Radio Republik Indonesia (RRI) di Jakarta.

Melalui siaran radio, gerakan tersebut menyampaikan Dekrit Nomor 1. Mereka menyatakan gerakan dilakukan untuk menyelamatkan negara dari ancaman Dewan Jenderal yang disebut berencana mengambil alih kekuasaan.

Situasi kemudian berubah setelah Mayjen Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat pada 1 Oktober 1965. Langkah tersebut dilakukan setelah diketahui sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat menghilang.

Pasukan TNI kemudian bergerak menguasai kembali sejumlah lokasi strategis di Jakarta.

Kolonel Sarwo Edhi Wibowo ditugaskan mengambil alih gedung RRI dan pusat telekomunikasi. Setelah kedua fasilitas tersebut berhasil dikuasai, Soeharto menyampaikan pengumuman melalui radio sekitar pukul 20.00 WIB.

Penguasaan kembali sejumlah fasilitas penting membuat gerakan tersebut kehilangan kendali atas Jakarta.

Petunjuk Menuju Lubang Buaya 

Operasi pemerintah kemudian berlanjut ke kawasan Halim Perdanakusuma pada 2 Oktober 1965. Kawasan tersebut sebelumnya menjadi salah satu lokasi yang berkaitan dengan aktivitas G30S.

Pada hari yang sama, pasukan pemerintah mendapatkan petunjuk penting dari seorang polisi bernama Sukitman.

Sukitman sebelumnya ikut menjadi korban penculikan, tetapi berhasil meloloskan diri. Informasi yang diberikan kemudian mengarahkan pasukan ke sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya.

Di lokasi tersebut ditemukan jenazah para perwira Angkatan Darat yang sebelumnya diculik.

Proses pengangkatan jenazah dilakukan pada 4 Oktober 1965. Sehari kemudian, para korban dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Tujuh perwira yang ditemukan di Lubang Buaya kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.

Tujuh Pahlawan Revolusi 

Mereka yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi terdiri atas:

1. Jenderal Ahmad Yani
2. Letjen R. Soeprapto
3. Letjen S. Parman
4. Letjen M.T. Haryono
5. Mayjen D.I. Panjaitan
6. Mayjen Sutoyo Siswomiharjo
7. Kapten Pierre Tendean

Ketujuh tokoh tersebut memiliki latar belakang dan perjalanan karier militer yang berbeda. Sebelum menjadi korban G30S, mereka menduduki berbagai posisi penting di lingkungan Angkatan Darat.

Peristiwa G30S kemudian menjadi titik balik penting dalam sejarah Indonesia. Setelah kejadian tersebut, kondisi politik nasional berubah secara drastis dan menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang kemudian mengantarkan pada berakhirnya kekuasaan Presiden Soekarno dan munculnya Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto.

Hingga kini, peristiwa G30S tetap menjadi bagian penting dalam pembelajaran sejarah Indonesia. Peringatan setiap 30 September menjadi momentum untuk mengenang para korban sekaligus memahami kembali rangkaian peristiwa yang terjadi di tengah situasi politik Indonesia yang penuh ketegangan pada 1965. (*)

Tombol Google News

Tags:

Lubang Buaya Pahlawan Indonesia Peringatan G30s Pki G30s Pki