KETIK, MALANG – Pantai Nganteb dan Pantai Wonogoro di Kabupaten Malang kembali menjadi ruang belajar terbuka bagi mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama).
Sebanyak 26 mahasiswa angkatan 2025 turun langsung ke kawasan pesisir tersebut untuk mempelajari karakteristik bentang alam sekaligus potensi bencana yang mengintai wilayah pantai.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 21 Juni 2026 itu dikemas dalam Kuliah Kerja Lapangan (KKL) terintegrasi untuk dua mata kuliah, yakni Geomorfologi Dasar dan Hidrologi. Melalui observasi langsung, mahasiswa diajak memahami bagaimana proses alam membentuk kawasan pesisir sekaligus memengaruhi kondisi lingkungan di sekitarnya.
Didampingi dosen pengampu Ika Meviana, M.Pd., para mahasiswa melakukan pengamatan di sejumlah titik Pantai Nganteb, Pantai Wonogoro, hingga aliran sungai yang bermuara ke kawasan pantai.
Pada mata kuliah Geomorfologi Dasar, mahasiswa mengangkat tema Analisis Morfologi Pantai Nganteb dan Potensi Bencana Geomorfologi sebagai Dasar Mitigasi Bencana Pesisir di Kabupaten Malang. Fokus utama kegiatan ini adalah mengidentifikasi bentuk lahan pesisir, memahami proses geomorfologi yang terjadi, serta menilai potensi bencana yang dapat muncul akibat dinamika alam.
Di lapangan, mahasiswa mengamati berbagai bentang alam khas pesisir selatan Malang, mulai dari tebing curam (cliff), dataran pantai, hingga tubir (shore platform). Mereka juga menganalisis dampak gelombang laut, abrasi, sedimentasi, serta gerakan massa tanah yang secara perlahan mengubah bentuk kawasan pantai dari waktu ke waktu.
Tak hanya mempelajari bentuk lahan, mahasiswa juga melakukan kajian hidrologi di kawasan estuari Pantai Wonogoro. Lokasi ini menjadi titik pertemuan antara air tawar dari sungai dan air laut, sehingga menyimpan dinamika lingkungan yang menarik untuk diteliti.
Melalui tema Kajian Hidrologi Estuari Pantai Wonogoro melalui Analisis Debit Aliran dan Kualitas Air Sungai, mahasiswa melakukan pengukuran langsung terhadap kecepatan aliran air, debit sungai, hingga pengambilan sampel untuk mengetahui kualitas air.
Data yang diperoleh nantinya akan digunakan untuk memahami kondisi hidrologi kawasan estuari sekaligus melihat keterkaitannya dengan karakteristik morfologi pantai di sekitarnya.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada pengumpulan data akademik. Mahasiswa juga didorong untuk menghubungkan hasil pengamatan dengan upaya mitigasi bencana pesisir.
Dengan melihat kondisi tebing, pola abrasi, hingga perubahan bentang alam secara langsung, mereka diajak menyusun rekomendasi mitigasi yang sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
“KKL ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya menjadi penghafal teori, tetapi menjadi analis lapangan yang mampu membaca ‘cerita’ geomorfologi dari setiap singkapan batuan, lereng, dan struktur pantai yang mereka temui,” ujar dosen pembimbing, Ika Meviana, M.Pd.
Menurutnya, pendekatan pembelajaran berbasis investigasi lapangan tersebut penting agar mahasiswa memiliki kemampuan analisis yang lebih kuat saat menghadapi persoalan lingkungan di masa depan.
Kegiatan ini juga menunjukkan eratnya hubungan antara ilmu geomorfologi dan hidrologi dalam memahami satu kawasan pesisir. Bentuk lahan pantai dapat memengaruhi pola aliran sungai dan kualitas air, sementara debit sungai turut berperan dalam proses pembentukan sedimen serta perubahan garis pantai.
Pantai Nganteb yang dikenal dengan hamparan pasir putih dan pepohonan keben berusia puluhan tahun, serta Pantai Wonogoro yang memiliki pasir berkilau karena kandungan pasir besi, menjadi laboratorium alam yang ideal untuk pembelajaran geografi.
Bagi mahasiswa Pendidikan Geografi Unikama angkatan 2025, pengalaman belajar langsung di lapangan tersebut menjadi bekal penting untuk memahami fenomena alam secara lebih komprehensif sekaligus mempersiapkan diri sebagai calon pendidik dan praktisi geografi di masa mendatang. (*)
.png)