Jangan Asal Melabeli Toxic atau Narsistik, Begini Kata Psikolog UM

3 November 2026 19:58 3 Nov 2026 19:58

Nurul Aliyah, Aziz Mahrizal

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Jangan Asal Melabeli Toxic atau Narsistik, Begini Kata Psikolog UM

Psikolog UM, Noventia Sekar Pratiwi, M.Psi. (Foto: Humas UM)

KETIK, MALANG – Di era meningkatnya kepedulian terhadap kesehatan mental, kebiasaan melabeli kondisi psikologis orang lain mulai disoroti. Psikolog Universitas Negeri Malang (UM), Noventia Sekar Pratiwi, M.Psi., mengingatkan bahwa tindakan tersebut tanpa pemahaman konteks justru dapat menimbulkan dampak negatif.

Kesehatan mental kini semakin menjadi perhatian publik. Istilah psikologi tidak lagi hanya ditemukan di ruang konsultasi atau buku akademik, melainkan semakin akrab dalam percakapan sehari-hari, diskusi hubungan asmara, hingga unggahan media sosial. Tingkat kepedulian ini merupakan hal yang positif karena menunjukkan tingginya perhatian masyarakat.

Kendati demikian, sebagian orang kerap dengan mudah melabeli orang lain menggunakan istilah psikologi, seperti "Dia narsistik banget!", "Hubungan ini toxic. Aku mengalami trauma," atau "Pasanganku pasti mengalami NPD."

Noventia menyampaikan bahwa penggunaan istilah psikologi tanpa memahami konteks dan maknanya berpotensi memicu kesalahpahaman, memperburuk konflik, bahkan memperkuat stigma terhadap individu dengan kondisi kesehatan mental tertentu.

Ketika Label menjadi Cara Utama Memahami Diri

Label psikologis pada dasarnya dapat membantu seseorang memahami pengalaman yang sebelumnya sulit dijelaskan, sekaligus menjadi pintu masuk untuk mencari bantuan serta memperoleh pemahaman diri yang lebih baik.

Namun, persoalan muncul ketika label tersebut dijadikan satu-satunya cara untuk menjelaskan seluruh perilaku dan pengalaman seseorang. Padahal, perilaku manusia terbentuk melalui interaksi berbagai faktor, mulai dari pengalaman hidup, kondisi lingkungan, pola relasi, hingga keterampilan dalam mengelola emosi.

Noventia mengingatkan bahwa label psikologis perlu disertai pemahaman terhadap konteks dan pengalaman individu.

“Label psikologis dapat membantu seseorang menemukan bahasa untuk menjelaskan pengalaman yang sebelumnya sulit dipahami. Namun, kita perlu memahami bahwa pengalaman setiap individu tidak selalu dapat dijelaskan melalui satu label. Ada banyak faktor yang memengaruhi perilaku dan kondisi psikologis seseorang,” jelasnya.

Menurutnya, memahami pengalaman pribadi jauh lebih penting dibandingkan mencari kategori atau istilah yang dianggap paling sesuai. Setiap individu perlu diberi ruang untuk memiliki pengalaman yang kompleks dan kemungkinan penjelasan yang beragam.

Ketika Istilah Psikologi Kehilangan Makna

Istilah-istilah seperti trauma, toxic, gaslighting, dan narsistik memiliki makna penting dalam konteks klinis untuk mengenali pengalaman yang merugikan serta dinamika hubungan yang tidak sehat. Namun, ketika penggunaannya semakin longgar, makna istilah tersebut berisiko kabur.

Tidak semua pengalaman menyedihkan merupakan trauma dalam pengertian klinis. Tidak semua perbedaan pendapat adalah gaslighting. Demikian pula, tidak semua orang yang egois atau sulit menerima kritik serta-merta memiliki gangguan kepribadian narsistik (Narcissistic Personality Disorder / NPD).

Penggunaan istilah secara sembarangan dapat membuat seseorang merasa telah memahami kondisi psikologis orang lain hanya berdasarkan potongan perilaku atau informasi yang terbatas.

“Tidak semua perilaku yang kita anggap tidak menyenangkan dapat langsung dikategorikan sebagai gangguan psikologis. Kita perlu membedakan antara perilaku sehari-hari, pengalaman emosional, dan kondisi klinis yang membutuhkan penilaian profesional,” ungkap Noventia.

Penyederhanaan tersebut juga berisiko menciptakan persepsi keliru bahwa mengenal banyak istilah psikologi sama dengan memiliki literasi kesehatan mental yang baik. Padahal, literasi kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyebutkan nama-nama gangguan psikologis, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap gejala, konteks, keterbatasan informasi, serta kesadaran mengenai kapan seseorang membutuhkan bantuan profesional.

Membangun Percakapan Kesehatan Mental yang Lebih Sehat

Masyarakat tentu tidak perlu menghindari seluruh istilah psikologi dalam percakapan sehari-hari. Hal yang lebih penting adalah menggunakan istilah tersebut secara hati-hati, proporsional, dan bertanggung jawab melalui beberapa langkah sederhana berikut:

  1. Deskripsikan Perilaku Sebelum Memberikan Label

Daripada langsung menyebut seseorang manipulatif atau narsistik, lebih baik menjelaskan perilaku spesifik yang membuat kita merasa tertekan atau dirugikan. Cara ini membantu memperjelas persoalan tanpa terburu-buru membuat kesimpulan klinis.

  1. Bedakan Dugaan dari Diagnosis

Ketika merasa mengalami gejala tertentu, gunakan informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk memahami diri, bukan sebagai dasar untuk menetapkan diagnosis sendiri. Seseorang dapat mengungkapkan bahwa dirinya sedang mengalami kecemasan atau kesulitan berkonsentrasi tanpa harus langsung menyimpulkan memiliki gangguan tertentu.

  1. Dengarkan Pengalaman Orang Lain Tanpa Menghakimi.

Seseorang yang menceritakan kesulitan psikologis membutuhkan ruang aman untuk didengar dan dipahami. Respons yang meremehkan maupun kecenderungan memberikan diagnosis secara terburu-buru sama-sama dapat menghambat pemahaman terhadap persoalan yang sebenarnya.

  1. Cari Bantuan Profesional Ketika Diperlukan.

Apabila persoalan psikologis berlangsung terus-menerus, menimbulkan penderitaan yang berarti, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan psikolog klinis atau psikiater dapat membantu seseorang memperoleh pemahaman dan penanganan yang lebih tepat.

Noventia menekankan pentingnya menempatkan informasi psikologi sebagai sarana untuk memahami diri, bukan sebagai alat untuk menghakimi orang lain.

“Ketika menghadapi persoalan psikologis, kita perlu memberikan ruang bagi seseorang untuk menceritakan pengalamannya tanpa buru-buru memberikan label. Jika kesulitan tersebut menetap atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan profesional dapat menjadi langkah yang tepat,” tambahnya.

Kita Butuh Empati, Bukan Sekadar Label

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental, memang patut untuk diapresiasi. Namun, kesadaran tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman bahwa perilaku manusia tidak selalu dapat dicap satu istilah atau potongan informasi.

Kita dapat mengakui bahwa suatu hubungan terasa menyakitkan tanpa harus menetapkan diagnosis kepada pasangan. Kita dapat memahami bahwa seseorang sedang mengalami kesulitan tanpa terburu-buru memberinya label. Kita juga dapat mempelajari berbagai gejala gangguan psikologis tanpa langsung menyimpulkan bahwa diri sendiri atau orang lain mengalaminya.

Dalam konteks ini, empati menjadi bagian penting dari literasi kesehatan mental. Empati mengajak kita untuk mendengarkan, memahami latar belakang, dan menghargai pengalaman orang lain sebelum memberikan penilaian.

Pada akhirnya, tujuan mempelajari psikologi bukanlah untuk mengkategorikan seseorang dengan mudah, melainkan agar semakin mampu memahami perilaku manusia, menghargai konteks, dan merespons penderitaan secara tepat.

Masyarakat yang memiliki literasi kesehatan mental bukan sekadar masyarakat yang mengenal banyak istilah psikologi, melainkan masyarakat yang mampu menggunakan pengetahuan tersebut secara bijaksana. 

Sebab, memahami manusia membutuhkan lebih dari sekadar label. Kita membutuhkan pengetahuan, kehati-hatian, dan yang tidak kalah penting, empati.(*)

Tombol Google News

Tags:

Universitas Negeri Malang Kampus Um Akademisi Psikologi Um Label Psikologi Kampus Malang Kota Malang