Dulu Jadi PRT Migran, 25 Perempuan Kabupaten Malang Difasilitasi FISIP UB dan SBMI Dilatih Jadi Pengusaha Digital

24 Agustus 2026 11:34 24 Agt 2026 11:34

Hanifuddin Musa, Gumilang

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Dulu Jadi PRT Migran, 25 Perempuan Kabupaten Malang Difasilitasi FISIP UB dan SBMI Dilatih Jadi Pengusaha Digital

Nike Kusumawanti, ketua tim pengabdian Departemen Sosiologi FISIP UB, menyampaikan materi cara berjualan di marketplace kepada anggota SBMI Kabupaten Malang Raya di Gedung PLUT Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Malang. (Foto: Dok. Sosiologi UB)

KETIK, MALANG – Produk olahan pangan milik mantan pekerja rumah tangga (PRT) migran di Kabupaten Malang mulai diarahkan menuju pasar digital. Hal itu diwujudkan melalui kolaborasi Serikat Bruh Migran Indonesia (SBMI) Kabupaten Malang Raya dan Departemen Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya (UB),

Keduanya berkolaborasi dengan memberikan pembekalan terhadap para pelaku usaha mengenai kemampuan pemasaran online sekaligus penguatan legalitas produk melalui Sertifikat Halal.

Kegiatan tersebut digelar Kamis, 7 Agustus 2026, di Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan Usaha Mikro (PLUT KUMKM) Dinas Koperasi Kabupaten Malang, Area GOR Ken Arok. Kegiatan tersebut diikuti 25 anggota SBMI yang menjalankan usaha olahan pangan rumahan.

Foto Foto bersama Tim Pengabdian Departemen Sosiologi FISIP UB dengan pengurus SBMI Kabupaten Malang Raya seusai pelatihan Digital Marketing dan Sertifikasi Halal. (Foto: Dok. Sosiologi UB)Foto bersama Tim Pengabdian Departemen Sosiologi FISIP UB dengan pengurus SBMI Kabupaten Malang Raya seusai pelatihan Digital Marketing dan Sertifikasi Halal. (Foto: Dok. Sosiologi UB)

Ketua Tim Pengabdian Departemen Sosiologi FISIP UB, Nike Kusumawanti, mengatakan pelatihan ini merupakan tahap lanjutan setelah sebelumnya peserta mendapatkan pendampingan terkait branding dan kemasan produk.

Menurutnya, produk yang sudah memiliki kemasan menarik tetap membutuhkan strategi pemasaran digital agar mampu menjangkau pasar lebih luas. Selain itu, legalitas berupa Sertifikat Halal menjadi salah satu faktor penting agar produk dapat bersaing di pasar modern.

“Produk sudah dikemas menarik, tapi kalau tidak dipasarkan lewat kanal digital, jangkauannya tetap terbatas pada tetangga dan warung sekitar. Sebaliknya, ada juga produk yang belum ada Sertifikat Halalnya sehingga sulit masuk retail modern dan sebagian marketplace. Dua hal ini yang kami bantu bereskan bersama-sama,” ujar Nike.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi yang terbagi dalam tujuh sesi, mulai dari pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui sistem OSS, teknik fotografi produk menggunakan smartphone, hingga pengelolaan akun bisnis di media sosial dan marketplace.

Peserta juga diajarkan cara mengoptimalkan Instagram Business, membuka toko di Shopee serta TikTok Shop, termasuk strategi membuat konten yang menarik untuk meningkatkan jangkauan konsumen.

Nike menjelaskan, pemasaran digital tidak selalu membutuhkan biaya besar. Menurutnya, konsistensi membuat konten serta mengangkat cerita autentik dari pelaku usaha menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun kepercayaan konsumen.

“Cerita pemilik usaha bisa menjadi pembeda. Konsumen saat ini tidak hanya membeli produk, tetapi juga tertarik dengan proses dan kisah di balik produk tersebut,” katanya.

Dalam praktik fotografi produk, peserta diperkenalkan dengan teknik sederhana yang bisa dilakukan menggunakan smartphone, seperti memanfaatkan cahaya alami, menggunakan latar sederhana, serta mengambil gambar produk dari berbagai sudut.

Sementara itu, sesi marketplace dilakukan melalui demonstrasi langsung penggunaan aplikasi Shopee Seller Center dan TikTok Seller Center. Peserta diperlihatkan tahapan mulai dari pendaftaran akun, verifikasi identitas, pengaturan rekening, hingga mengunggah produk.

Ketua SBMI Kabupaten Malang Raya, Husnati, menyambut baik pelatihan tersebut. Ia menyebut banyak anggota SBMI yang sebenarnya sudah memiliki produk berkualitas, namun masih terkendala pemasaran.

“Selama ini anggota kami sudah bisa produksi keripik gaplek, keripik pepaya, sampai pisang lumer. Tapi pemasarannya masih dari mulut ke mulut. Kalau bisa masuk Shopee dan TikTok Shop, pasarnya akan jauh lebih luas dan pendapatan keluarga bisa naik,” ujar Husnati.

Selain pemasaran digital, tim pengabdian juga melakukan pendampingan terkait Sertifikasi Halal. Dari hasil pemetaan, sebanyak 23 dari 25 anggota mitra atau sekitar 92 persen telah memiliki Sertifikat Halal untuk produk mereka.
Sementara dua pelaku usaha lainnya masih dalam proses pengajuan.

Tim membantu menyiapkan dokumen pendukung seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), daftar produk, daftar bahan baku, foto lokasi produksi, serta foto produk untuk pengajuan Sertifikasi Halal Self-Declare melalui platform SIHALAL milik Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama.

Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai perbedaan skema Halal Reguler dan Self-Declare, termasuk tahapan verifikasi oleh Pendamping Proses Produk Halal (P3H).

Antusiasme peserta terlihat saat materi TikTok Shop berlangsung. Sejumlah peserta yang sebelumnya hanya menggunakan TikTok sebagai penonton mulai mencoba memanfaatkannya sebagai sarana pemasaran produk.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengabdian jangka panjang Departemen Sosiologi FISIP UB bersama SBMI Kabupaten Malang Raya untuk mendorong eks PRT migran bertransformasi menjadi pelaku ekonomi mandiri.

Pendampingan akan terus dilakukan selama minimal tiga bulan setelah pelatihan untuk memastikan peserta mampu mengelola akun digital bisnis secara konsisten sekaligus menyelesaikan proses sertifikasi halal bagi usaha yang masih dalam tahap pengajuan. (*)

Tombol Google News

Tags:

Pekerja Rumah Tangga Pelatihan Digital Nike Kusumawanti Kabupaten Malang