KETIK, MALANG – Prof. Dr. Sc. Asep Awaludin Prihanto, S. Pi., M.P., kian dikenal sebagai figur sentral dalam pengembangan pendidikan dan riset bidang perikanan serta kelautan di Kota Malang.
Sebagai Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB), ia memiliki peran terdepan dalam mendorong transformasi pembelajaran berbasis inovasi dan kebutuhan industri perairan modern.
Pria asal Jombang ini telah melakukan lebih dari ratusan penelitian untuk memberikan ilmu terkait hasil olah pangan dari ikan sebagai sumber protein. Dalam mengembangkan suatu instansi, tentunya ia terus mendorong mahasiswa untuk bisa inovatif yang tidak hanya berdampak secara akademis, tetapi memberikan solusi nyata bagi masyarakat Indonesia.
Dalam kepemimpinannya, Prof. Asep berupaya untuk memperluas jejaring kerja sama, baik dengan instansi pemerintah, sektor swasta, hingga mitra internasional. Ia mengatakan jika banyak mahasiswa yang dipanggil untuk bekerja di perusahaan Jepang. Namun, saat ini masih dikurangi.
Prof. Asep sendiri memiliki background pendidikan Doktor S3 di Ritsumeikan University, Jepang. Dengan pengalamannya menempuh pendidikan di negara sakura, Dekan FPIK UB tersebut ingin memajukan fakultas di tingkat global.
Tak hanya itu, dalam memimpin fakultas, ia mengatakan jika telah menguatkan laboratorium dan fasilitas pembelajaran. Saat ini, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya memiliki tiga laboratorium air tawar di Pakis, air payau di Probolinggo, dan air laut di Sendang Biru.
Selain laboratorium untuk pembelajaran, Prof. Asep juga mengatakan jika saat ini juga telah mengelola beberapa tempat menjadi sebuah destinasi wisata bahari, seperti Pantai tiga warna dan Bangsring Underwater Banyuwangi.
Sehingga, dalam memajukan FPIK UB, Prof. Asep ingin mendorong semua mahasiswa untuk bisa berinovasi dalam menciptakan produk hasil olah pangan perikanan hingga dan meningkatkan kualitas dalam ilmu kelautan.
Selain itu, sebagai seorang akademisi, ia terus melakukan penelitian terkait isu-isu yang sedang ramai terutama pada bidang perikanan. Ia juga menyoroti pada program MBG yang mendapatkan pro kontra dimana pemerintah mematok harga yang tidak masuk akal untuk per seratus gram protein.
"Ternyata begitu tahu harganya, karena mereka mematok harga per 100 gram. Masih nggak masuk akal. Harga segitu, waduh masih nggak masuk akal. Bukan bisnisnya, dengan protein segitu, dari komoditas ikan ikan ya, kemudian dihargai segitu, masih tidak masuk akal," jelas Prof. Asep.
"Kecuali nanti biasanya, kalau yang lain-lain itu kan tidak proteinnya, tapi protein ditambahkan seperti, bakso ikan. Cuma nggak murni, ini kalau full protein dengan harga segitu ya nggak mungkin kita bisa. Tapi kalau misalnya kalori sekian, protein minimum sekian, itu bisa kita modifikasi," imbuhnya.
Menurutnya, program tersebut bagus hanya saja belum siap untuk dilaksanakan. Selain itu, ia juga menyampaikan jika program tersebut bisa berbasis dengan data stunting agar tidak salah sasaran.
Saat ini, Prof. Asep berupaya untuk bisa membranding Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ia mengungkapkan jika saat ini masih banyak orang yang tidak tahu jika dalam dunia pendidikan ada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
"Banyak orang yang tidak tahu ada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan," ungkapnya
Menurutnya, saat ini literasi anak muda sangat rendah. Sehingga, ia sedikit kesulitan ketika ingin memberikan hasil penelitian kepada generasi muda.
Dengan demikian, Prof. Asep ingin berupaya untuk bisa mencapai target generasi muda dengan melihat apa yang menarik untuk mereka. Sehingga, dengan kolaborasi bersama media, ia berharap agar segala ilmu terkait perikanan dan kelautan bisa sampai dengan bahasa yang sederhana.
"Memang literasi anak-anak itu kan rendah juga. Sehingga yang dikemukakan itu, beberapa keyword yang paling besar muncul itu ya mancing, lele. Rumput laut saja itu muncul juga beberapa kali," ujar Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan tersebut.(*)
