Fakta Mengejutkan! 4 Ibu dan 46 Bayi Meninggal di Kota Malang Selama 2025, Hipertensi Kehamilan Jadi Pemicu Utama

5 Mei 2026 16:17 5 Mei 2026 16:17

Lutfia Indah, Gumilang

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Fakta Mengejutkan! 4 Ibu dan 46 Bayi Meninggal di Kota Malang Selama 2025, Hipertensi Kehamilan Jadi Pemicu Utama

Kepala Dinkes Kota Malang Husnul Muarif menjelaskan tentang angka kematian ibu dan bayi sepanjang 2025. (Foto: Lutfia/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Kota Malang masih dihadapkan dengan persoalan kematian ibu dan bayi. Sepanjang tahun 2025, terdapat kasus 4 ibu dan 46 bayi yang meninggal dunia. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Husnul Muarif menjelaskan Angka Kematian Ibu (AKI) banyak disebabkan akibat hipertensi dalam proses kehamilan. 

"AKI ini karena proses kehamilan dari hamil, melahirkan, dan masa nifas. Misalnya dia hamil kemudian kecelakaan meninggal, tidak dimasukkan di angka kematian ibu. Kalau angka kematian bayi balita, penyebab apa pun dimasukkan di dalam angka kematian itu," ujarnya, Selasa, 5 Mei 2026.

Husnul mengungkapkan, penyebab utama kematian ibu masih didominasi oleh hipertensi dalam kehamilan, seperti preeklamsia dan eklamsia. Selain itu, faktor pendarahan pasca persalinan atau ketika nifas juga menjadi penyumbang signifikan.

Sebagai upaya intervensi, Dinkes Kota Malang melakukan pendataan jumlah ibu hamil yang tidak berisiko dan berisiko tinggi. Terdapat 2 kategori ibu hamil berisiko tinggi yakni reversible dan irreversible. 

"Kalau yang irreversible tidak bisa diperbaiki, misalnya panggul sempit, terlalu dekat atau jauh jarak kehamilan. Tapi yang bisa diperbaiki yang risiko tinggi itu tadi, hipertensi kehamilan, diabetes melitus dalam kehamilan," lanjutnya. 

Sedangkan kematian bayi dan balita cenderung disebabkan oleh Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan asfiksia. Kematian akibat BBLR biasanya terjadi pada bayi dengan berat kurang dari 2.300 gram pada saat kelahiran. 

Untuk mencegah bertambahnya angka kematian ibu dan bayi, Dinkes Kota Malang minta bidan koordinator melakukan pendataan. Terlebih banyak kasus ibu hamil yang tidak terdeteksi dan tidak melaporkan kehamilannya. 

Namun pada menjelang kelahiran, baru diketahui statusnya sebagai ibu hamil dengan risiko Kekuranhan Energi Kronis (KEK) dan Lingkar Lengan Atas (Lila) yang kecil. Tak hanya itu, umur kehamilan pun tidak sesuai dengan pengukuran. 

"Misalnya umur kehamilan 6 bulan atau 7 bulan, kalau diukur tinggi fundus uterinya harusnya seperti ini, nah ini nggak. Sehingga pada saat persalinannya, pada saat proses kelahirannya, lahirnya berat bayi lahir rendah," tuturnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Kota Malang Aki Dinkes Kota Malang