Ekonom UIN Malang: Pemilik Pajero dan Fortuner Lebih Terasa Dampak Kenaikan BBM Ketimbang Rakyat Kecil

9 Mei 2026 14:24 9 Mei 2026 14:24

Nurul Aliyah, Aziz Mahrizal

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Ekonom UIN Malang: Pemilik Pajero dan Fortuner Lebih Terasa Dampak Kenaikan BBM Ketimbang Rakyat Kecil

Pakar ekonomi UIN Malang bicara tentang kenaikan harga BBM nonsubsidi di Kota Malang. (Foto: Dandy/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Pakar Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. H. Slamet, S.E., M.M., Ph.D., menyoroti kenaikan harga BBM nonsubsidi yang dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap kondisi ekonomi masyarakat luas. 

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional masih berada dalam kondisi relatif aman selama kenaikan harga hanya terjadi pada BBM nonsubsidi, seperti Pertamax (RON 92), Pertamax Green 95, Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex.

Prof. Slamet menuturkan bahwa dinamika geopolitik global saat ini belum menyentuh ekonomi lapisan bawah. Kenaikan BBM nonsubsidi justru lebih dirasakan oleh masyarakat kelas atas yang mengonsumsi bahan bakar berkualitas tinggi untuk kendaraan pribadi mereka.

"Kalau geopolitik sementara ini, kalau yang berkaitan dengan masih dampaknya ekonomi, naiknya harga BBM, ini belum berdampak kepada ekonomi-ekonomi bawah, yang merasakan hari ini sebenarnya orang-orang yang punya Pajero, Fortuner, dan lainnya," tutur Prof. Slamet, Sabtu, 9 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa mobilitas transportasi umum dan operasional bisnis sejauh ini belum terganggu. Hal ini dikarenakan kendaraan pemerintah dan mobil mewah adalah segmen utama yang terdampak kebijakan tersebut.

"Mobil pemerintahan dan mobil-mobil yang mewah itu yang terkena dampak. Mobil-mobil operasional atau bisnis kan belum kena. Artinya kalau dari situ pertumbuhan ekonomi saya pikir masih relatif aman bagi kacamata saya, kecuali kalau nanti sudah Solar, Bio Solar naik, lah itu beda lagi sudah, efeknya tinggi," ujar Ketua Program Studi Doktor (S3) Ekonomi Syariah UIN Malang tersebut.

Kendati demikian, Prof. Slamet memberikan peringatan keras jika pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Bio Solar. Jika kedua jenis bahan bakar ini naik, efek domino berupa lonjakan harga kebutuhan pokok tidak akan terhindarkan akibat membengkaknya biaya distribusi dan transportasi.

Sektor-sektor produktif seperti ojek online (ojol), pedagang pasar, hingga pelaku UMKM akan menjadi pihak yang paling terpukul.

"Kalau sudah Bio Solar, Pertalite, Pertamax nanti. Pertamax pun sebenarnya belum begitu. Tapi kalau sudah Pertalite itu sektor-sektor gojek dan seterusnya. Termasuk orang pasaran. Itu semua kan di situ semua. Itu pelaku-pelaku ekonomi rendah, UMKM dan seterusnya, masyarakat kecil itu kena. Pasti akan menaikkan harga," ungkap Prof. Slamet.

Menghadapi situasi geopolitik global yang kian dinamis, pemerintah diharapkan bertindak cerdas dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Fokus utama saat ini adalah memastikan dampak kenaikan di level atas tidak merembet ke lapisan masyarakat bawah.

Dengan pengelolaan yang tepat, pemerintah diyakini mampu melokalisasi dampak ekonomi sehingga kesejahteraan masyarakat kecil tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.(*)

Tombol Google News

Tags:

UIN Malang Pajero Fortuner Harga Bbm Nonsubsidi bbm nonsubsidi UIN Maulana Malik Ibrahim harga BBM Pertamina Dex Pertalite Pertamax