KETIK, MALANG – Kenaikan harga avtur yang melonjak tinggi membuat banyak sektor terdampak. Namun, PHRI Kota Malang mengungkapkan bahwa industri perhotelan sebagai salah satu sektor pariwisata masih stabil dan belum berdampak pada okupansi hotel.
Sejak awal April 2026, harga avtur terjadi lonjakan yang cukup tinggi. Pihak maskapai penerbangan akhirnya melakukan penyesuaian tarif sehingga terjadi ya kenaikan harga tiket pesawat.
Tentunya kondisi seperti ini dapat membuat terhambatnya pergerakan wisatawan, khususnya bagi mereka yang ingin berwisata menuju destinasi yang sangat membutuhkan transportasi udara.
Pada keadaan seperti ini, Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki mengungkapkan bahwa saat ini kondisi perhotelan di Kota Malang cenderung stabil, masih banyak kegiatan yang dilakukan di hotel.
Baca Juga:
Bawa Bukti Baru, Intan Laporkan Balik Rey ke Polresta Malang Kota Atas Dugaan FitnahTak hanya itu, wisatawan mancanegara juga masih terlihat menginap pada hotel di Kota Malang. Sehingga, kenaikan avtur masih belum berdampak signifikan pada sektor pariwisata di Kota Malang.
"Kenaikan harga avtur, transportasi paling terkena dampak, kaitannya sama kegiatan wisata atau bisnis-bisnis yang menggunakan sarana udara. Tapi kegiatan masih tetap ada, kegiatan masih tetap jalan, tpi di malang masih ada wisatawan mancanegara, masih belum terasa betul dampaknya," ungkap Agoes Basoeki.
Ia juga mengatakan jika pada weekend kemarin okupansi hotel juga cenderung tinggi jika di rata-rata pada hotel se-Kota Malang terdapat 60 persen. Namun beberapa hotel juga mencapai 80 persen.
"Saat weekend kemarin hingga 60% rata-rata okupansi dan beberapa hotel 80%, dibanding 2025 ada penurunan sedikit, tapi masih di dalam, masih terkendala, target masih bisa terpenuhi," tutur Agoes Basoeki.
Baca Juga:
Kejar Perbaikan Jalan, Pedagang Pasar Gadang Wajib Pindah Hingga 25 April 2026Meski demikian, semua hotel di Kota Malang telah menyiapkan solusi dan strategi ketika nantinya berdampak langsung pariwisata di kota pendidikan ini.
Agoes Basoeki mengatakan jika ia sudah mengimbau pada semua teman-teman hotel untuk menyiapkan strategi kreatif untuk bisa menjaga kestabilan okupansi.
"Solusinya kita harus segera membuat strategi, di kami teman-teman hotel juga membuat solusi, kita jangan terlena, kita harus cepat-cepat membuat solusi," ucap Agoes Basoeki.
"Wisata mancanegara berkurang, terbatasnya penerbangan, harga tiket semakin mahal, plastik mahal, tapi harus ada solusi pakai kertas atau daun, hotel harus semakin kreatif," imbuhnya.
Ia juga mengatakan kenaikan BBM ini yang disebabkan oleh geopolitik tentunya juga membuat industri perhotelan berupaya untuk menggeser segmen dengan memfokuskan pada wisatawan domestik.
Ia mengungkapkan bahwa tamu mancanegara di The Shalimar Boutique Hotel Malang sudah turun dan saat ini mencapai 20 persen. Sehingga, dengan terus memaksimalkan wisatawan lokal bisa membantu untuk tetap mencapai target.
Dalam hal ini, PHRI Kota Malang berharap agar semua konflik yang berkepanjangan bisa selesai dan tidak ada lagi. Selain itu, pemerintah juga diharapkan agar bisa memberikan solusi pada masyarakat agar bisa lebih tenang.
"Harapannya, jadi konflik yg berkepanjangan sudah tidak ada lagi, misalnya perang juga tidak ada lagi, solusi-solusi apa supaya membuat masyarakat tenang, seperti pemasokan bbm, kenapa bbm, karena efeknya ke yang lainnya, istilahnya memberikan solusi untuk mempermudah regulasi dan lainnya jangan sampai membebani," ujar Agoes Basoeki.(*)