KETIK, MALANG – Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan terus berlanjut di dunia pendidikan tinggi. Momentum Hari Kartini menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai ujung tombak dalam mendorong kesetaraan gender serta menciptakan perempuan yang mandiri dan siap menghadapi tantangan era digital.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Merdeka Malang, Dr. Yuntawati Fristin, S.Sos., M.AB., menegaskan bahwa kampus memiliki tanggung jawab dalam menanamkan nilai kesetaraan gender di lingkungan akademik.
Menurutnya, tidak boleh ada perbedaan perlakuan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan dalam proses pendidikan maupun kesempatan berprestasi.
“Mahasiswa kalau untuk biasanya mahasiswa itu untuk laki-laki, dengan mahasiswi kita tidak boleh adakan perbedaan, perlakuan atau perlakuan khusus antara laki dan perempuan. Jadi semua yang laki mau perempuan yang memiliki prestasi itu yang memang kita push, yang kita memang angkat,” ujarnya.
Ia menambahkan, fenomena yang terjadi di lingkungan akademik menunjukkan bahwa mahasiswa perempuan kerap menempati posisi teratas dalam pencapaian akademik. Hal tersebut menjadi bukti bahwa perempuan memiliki kemampuan yang setara dan mampu bersaing dengan laki-laki di dunia pendidikan tinggi.
Selain itu, peluang perempuan untuk berkontribusi dalam dunia akademik dinilai semakin terbuka. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya perempuan yang menduduki posisi strategis, mulai dari pimpinan lembaga hingga rektor.
Namun, ia mengakui bahwa pandangan stereotip terhadap perempuan masih ditemukan di masyarakat.
“Tapi kadang itu di mata laki-laki itu perempuan itu buat apa pendidikan tinggi-tinggi, ujungnya nanti juga di dapur,” ujarnya.
Pandangan tersebut dinilai perlu diubah, karena perempuan tetap membutuhkan kesempatan untuk berkembang dan mandiri, meskipun memiliki tanggung jawab dalam rumah tangga. Kemandirian perempuan dinilai penting agar tidak sepenuhnya bergantung pada laki-laki, khususnya dalam aspek ekonomi dan pengembangan diri.
“Saya menyarankan kepada wanita-wanita, anak-anak yang sekarang, wanita yang sekarang harus berdaya, harus berdikari, harus mandiri. Jangan kita tergantung laki-laki,” ujarnya.
Lebih lanjut, perempuan juga didorong untuk berani mengambil peran kepemimpinan serta aktif menyampaikan pendapat. Keteguhan dalam mempertahankan prinsip dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan zaman modern.
Di sisi lain, tantangan era digital juga menjadi perhatian, terutama dalam pola pendidikan anak. Peran perempuan, khususnya ibu, dinilai sangat penting dalam membangun karakter generasi sejak usia dini.
Melalui momentum Hari Kartini, semangat kesetaraan tidak hanya dimaknai sebagai perjuangan memperoleh kesempatan yang sama, tetapi juga sebagai dorongan bagi perempuan untuk menjadi pribadi yang mandiri, berdaya, dan siap menghadapi perubahan zaman tanpa mengabaikan peran penting dalam keluarga.
