KETIK, MALANG – Gelaran Barikan Anak Nusantara Ke-5 yang berlangsung di Alun-Alun Merdeka Kota Malang mendapat respon positif dan apresiasi tinggi dari Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita.
Ia menilai kegiatan yang digagas oleh Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) tersebut, menjadi sarana yang efektif untuk menanamkan jiwa nasionalisme dan nilai-nilai toleransi kepada anak-anak.
Amithya menyebut kehadiran peserta dari kalangan anak-anak yang juga didampingi pihak orang tua, menjadikan kegiatan tersebut terasa semakin bermakna.
"Saya kira acara seperti ini sangat penting, karena menjadi bagian menghantarkan nilai-nilai budaya dan melestarikannya. Sekaligus juga mengingatkan anak-anak bahwa walau kita beragam, tetap disatukan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia," jelasnya, Minggu, 16 Agustus 2026.
Melihat tingginya antusiasme peserta dibandingkan tahun lalu, ia mendorong Pemkot Malang untuk terus memberikan dukungan penuh. Menurutnya, tradisi Barikan Anak Nusantara patut dipertahankan dan dijadikan sebagai agenda tahunan Kota Malang.
"Saya kira ini acara yang patut didukung dan dilestarikan oleh Pemkot Malang, serta dapat digelar setiap tahunnya karena membawa dampak yang sangat baik. Dibanding tahun lalu, pesertanya hari ini jauh lebih banyak, yang artinya acara ini memang menarik bagi anak-anak," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Kota Malang menggelar Barikan Anak Nusantara Ke-5 di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Minggu, 16 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 350 anak dari jenjang PAUD, SD, hingga SMP.
Keberagaman dan toleransi diwujudkan lewat hadirnya anak-anak pemeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu serta penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tampil bersama dalam satu paduan suara dan menyanyikan lagu-lagu nasional.
Momen istimewa sekaligus puncak dalam kegiatan tersebut ditandai dengan pembacaan Ikrar Anak Nusantara. Lewat ikrar tersebut, para peserta menegaskan komitmen mereka sebagai anak-anak yang mencintai Pancasila dan tanah air serta memandang perbedaan di dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. (*)
