KETIK, MALANG – Akademisi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyoroti Kota Batu yang telah berkembang pesat sejak keluar dari Kabupaten Malang di tahun 2000.
Perjalanan 25 tahun Kota Batu menjadi momen di mana kota wisata ini berkembang menjadi kawasan metropolitan dan menjadi tujuan para wisatawan.
Ketua Program Studi Magister Sosiologi Pascasarjana UMM, Rachmad K. Dwi Susilo, M.A. Ph.D., telah melakukan penelitian di Kota Batu sejak tahun 1999.
Ia menyampaikan bahwa Kota Batu ketika didirikan semua pihak, khususnya pemerintahnya memiliki semangat idealis. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyoroti bahwa semangat idealis tersebut telah berkurang.
Ia menjelaskan bahwa di bawah pimpinan Wali Kota Batu 1 dan 2, Kota Batu menjadi kota yang perlu investasi. Sehingga, semangat idealis yang mengawali didirikannya Kota Malang ada yang dikesampingkan.
"Ketika didirikan, Kota Batu itu semangatnya idealis. Semangat berkontribusi untuk membangun kota yang bermanfaat bagi banyak orang, tetapi kan proses politik kan tidak sederhana. Jadi akhirnya orang-orang politik yang punya kepentingan, kekuasaan, modal, itu kan harus berkompetisi, berkontestasi di Kota Batu," ujar Rachmad.
Rachmad menyampaikan bahwa Wali Kota Batu kesatu, Imam Kabul menggandeng para politisi untuk membentuk Kota Batu menjadi kota otonom.
Namun, dalam kepemimpinannya, administrasi pemerintah tidak tertib karena Imam Kabul memiliki watak positif, seperti suka memberi uang.
Setelah itu, kepemimpinan dilanjutkan oleh Eddy Rumpoko selama dua periode. Hingga dilanjutkan oleh Dewanti Rumpoko. Menurut Rachmad, Dewanti memiliki trauma dengan penangkapan KPK kepada Pak ER. Sehingga, program kerja yang dilakukan lebih kepada rutinitas.
Ia menyampaikan bahwa Dewanti memiliki hubungan dekat dengan banyak komunitas. Sehingga, banyak komunitas yang diberikan anggaran dana untuk berkontribusi pada kota. Namun, tak ada pembangunan baru yang dilakukan oleh Dewanti. Ia cenderung melanjutkan program-program dari Eddy Rumpoko.
Dari ketiga pemimpin tersebut, kompromi bersama investor atau pemodal masih terus berjalan. Pengembangan Kota Batu menjadi kota wisata masih terus diupayakan hingga saat ini.
Namun, Rachmad menilai dari kepemimpinan pertama hingga saat ini yang dipegang oleh Nurochman dan Heli Suyanto masih belum ada lompatan besar. Semua program masih cenderung sama.
Pada masa jabatan Nurochman dan Heli Suyanto ia berharap ada sesuatu yang membeda atau gebrakan baru dalam memajukan Kota Batu karena Nurochman dan Heli Suyanto adalah warga asli Kota Batu.
Menurutnya, ada kemungkinan Cak Nur dan Heli lebih terdorong untuk hati-hati dalam memutuskan kebijakan karena mereka warga asli Kota Batu.
"Saya sebenarnya berharap sebagai pengamat ya. Sekarang pemimpin Batu, orang asli Batu, lahir di Batu. Ari-arinya dikubur di Batu, harusnya capaiannya lebih keren daripada bukan orang asli Batu," ungkap Rachmad.
Rachmad mengatakan bahwa saat ini kondisi Kota Batu adalah darurat sampah, di mana sampah belum bisa diolah dengan baik. Ia menyebutkan selama 25 tahun ini, kemajuan Kota Batu cenderung lambat. Menurutnya, tidak ada yang bisa mengubah kebijakan ataupun tatanan kota.
"Ketika merumuskan kebijakan itu tidak all out implementasinya. Jadi setengah-setengah, yang penting sudah laporan, masuk media, gembar-gembor, itu selesai. Kok tidak dikawal sampai menjadi capaian-capaian yang bisa dinikmati oleh masyarakat," jelas Rachmad.
Perkembangan Kota Batu juga didorong oleh banyaknya komunitas. Salah satunya adalah Sapu Bersih Sampah, Nyemplung Kali (Sabers Pungli) dengan misi membersihkan sungai-sungai di Kota Batu. Rachmad berharap dengan banyaknya komunitas penjaga alam, pemerintah Kota Batu bisa mendukung dan memberikan bantuan.
"Risikonya dikendalikan oleh komunitas atau organisasi masyarakat sipil, cenderung tidak berkelanjutan karena komunitas kan tidak punya sumber daya, tidak ada RAB," tuturnya.
Rachmad sebagai seorang akademisi memberikan masukan untuk kedepannya, kepemimpinan Kota Batu tak perlu mencari tagline baru.
Kota Batu telah identik dengan kota pariwisata, sehingga pengembangan wisata lebih ditingkatkan lagi, bukan hanya mengembangkan wisata buatan tetapi lebih digencarkan pada wisata alam.
Selain itu, Rachmad juga ingin Pemerintah Kota Batu ikut serta dalam pengembangan destinasi wisata alam, bukan hanya dikembangkan oleh komunitas, seperti kampung ekologi yang akhirnya tidak berlanjut karena kerja sama dengan masyarakat tidak terlalu bagus.
Selama 25 tahun berdiri, Kota Batu telah bertransformasi menjadi kota metropolitan di mana banyak tanah yang menjadi pemukiman. Menurut Rachmad, masyarakat lokal lebih diutamakan untuk bisa membeli tanah di Kota Batu. Saat ini, banyak investor yang membeli tanah di Kota Batu dari luar Batu.
"Orang-orang lokal itu menjual tanahnya kepada orang luar. Jadi muncullah pemukiman-pemukiman mewah, hotel berbintang. Sementara pemilik tanahnya di Batu menyingkir ke daerah yang tanah-tanah harganya lebih murah. Ketika pertumbuhan villa, pertumbuhan cafe, sebagian besar kan pemiliknya orang luar. Nah, kalau seperti itu kan nanti identitas Batu itu kan hilang," jelas Rachmad.
Di usia ke-25 tahun, Rachmad lebih menekankan pada kenapa Batu harus lepas dari Kabupaten Malang, kemudian ia menuturkan untuk membuka lagi komitmen dan nilai yang dibentuk oleh pokja ketika berdirinya Kota Batu. Serta kembali pada sesantinya Kota Batu.
"Kembali ke sasantinya Batu itu. Sasantinya itu kan luar biasa, itu kan semangat, idealisme dari para pendiri kota Batu, kembali ke rohnya itu aja. Jangan mengikuti tren, kalau mengikuti tren nanti tidak selesai-selesai," ucap Rachmad.(*)
