Kejar Swasembada Gula 2026, Kementan Targetkan Bongkar Ratoon Tebu 97 Hektar

23 Mei 2026 15:31 23 Mei 2026 15:31

Angga Prasetya, Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Kejar Swasembada Gula 2026, Kementan Targetkan Bongkar Ratoon Tebu 97 Hektar

Khofifah secara simbolis melakukan penanaman perdana bongkar ratoon tebu di Kediri (Foto : Angga/ketik.com)

KETIK, KEDIRI – Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan program bongkar ratoon tebu di lahan seluas lebih dari 97 ribu hektar di berbagai daerah di Indonesia. Program tersebut menjadi salah satu strategi utama pemerintah untuk mempercepat tercapainya swasembada gula konsumsi nasional pada 2026.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Ali Jamil, mengatakan pemerintah terus mendorong hilirisasi sektor perkebunan, termasuk komoditas tebu yang kini mendapat perhatian khusus melalui program peremajaan tanaman.

“Kalau untuk semua komoditas hilirisasi, ada 800-an ribu lebih, ya. Tapi untuk tebu, sekitar 97.097 hektar. Nah, di antaranya paling besar persentasenya lebih dari 60% adalah bongkar ratoon,” kata Ali Jamil saat menghadiri kegiatan bongkar ratoon di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Sabtu, 23 Mei 2026.

Perluasan Lahan Tebu Libatkan Perhutani
Selain memperbarui tanaman menggunakan bibit unggul, pemerintah juga terus memperluas areal tanam tebu untuk memperkuat produksi gula nasional. Kementan membuka peluang kolaborasi lintas sektor, termasuk pemanfaatan lahan milik Perhutani maupun kawasan KHDTK yang belum produktif.

Ali Jamil menilai dukungan berbagai pihak sangat penting agar target swasembada gula nasional, termasuk kebutuhan industri dan bioetanol pada 2028-2030, dapat tercapai.

“Nah, maka harapan kita, sebenarnya perluasan areal tadi saya lupa menyampaikan, harapannya tadi kita singgung, Ibu Gubernur tadi menyinggung, di lapangan menyinggung tadi, terkait dengan mohon tolong teman-teman dari Perhutani, lahan-lahan yang di Perhutani, lahan-lahan yang di KHDTK misalnya begitu, itu tuh sepanjang itu bisa kita manfaatkan dan dia misalnya lahannya idle misalnya, bisa kita manfaatkan oleh petani, pekebun kita untuk nanam tebu, program ini mohon tolong dukungannya semuanya,” tambahnya.

Ia juga meminta para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) lebih aktif mendampingi petani, terutama dalam menentukan varietas tebu yang sesuai dengan kondisi cuaca, curah hujan, dan musim giling.

“PPL tolong dibantu, bahwa penentuan varietas ini ada sebenarnya teknologinya. Supaya dia masuk nanti di musim, di musim giling awal, di tengah, atau di akhir. Nah, itu sangat menentukan karena varietas ini ditentukan, disiapkan untuk sesuai dengan kondisi curah hujan, kondisi iklim, dan lain sebagainya,” pungkasnya.

Jawa Timur Jadi Penopang Produksi Gula Nasional
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Mahmudi, menyebut program bongkar ratoon menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas tebu nasional. Berdasarkan hasil evaluasi 2024, sebagian besar lahan tebu dinilai perlu diremajakan agar hasil panen meningkat.

Menurut Mahmudi, pemerintah menargetkan program bongkar ratoon mencapai sekitar 97 ribu hektar pada tahun ini, dengan Jawa Timur menjadi daerah prioritas karena menyumbang mayoritas produksi gula nasional.

“Untuk meningkatkan produktivitas, 86 persen harus dibongkar. Nah, dari Pak Presiden, lalu Pak Menteri, tentunya Pak Dirjen, disupport Gubernur, tahun kemarin ya kita sudah mulai program bongkar ratoon. Dan tahun ini kita ditarget 100.000 hektar, persisnya 97.000 hektar. Dan di Jawa Timur kami diberikan tugas tentunya, karena 85 persen itu produksinya dari Jawa Timur,” ujarnya.

Kabupaten Kediri menjadi daerah dengan target bongkar ratoon tertinggi di Jawa Timur. Pada 2025, wilayah tersebut memperoleh target peremajaan lahan seluas 3.864 hektar. Namun pada tahun ini targetnya meningkat hampir dua kali lipat menjadi 7.000 hektar dari total luas tanam mencapai 22.297 hektar.

SGN berharap peningkatan produksi tebu di Jawa Timur nantinya mampu memenuhi kebutuhan bahan baku untuk 26 pabrik gula di bawah pengelolaan SGN serta dua pabrik gula swasta.

“Kalau untuk tanam bisa sampai November, setelah tebang, sekitar 3 minggu baru di bongkar ratoon, namun kita harus siapkan lebih awal untuk menyelaraskan bibit sesuai arahan Pak Dirjen, Juni harus selesai semuanya,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan komitmennya untuk mendukung program swasembada gula nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Khofifah berharap modernisasi pertanian dan penggunaan bibit unggul tidak hanya meningkatkan produksi gula nasional, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani.

“Mari kita dukung bersama target pemerintah mewujudkan swasembada gula konsumsi pada 2026,” kata Khofifah. (*)

Tombol Google News

Tags:

Swasembada Gula nasional dirjen perkebunan Pemprov Jatim Khofifah Indar Parawansa mas Dhito Pemkab Kediri Kabupaten Kediri Pemdes Ngletih