Modal KUR BRI, Kerupuk Samiler Asal Jombang Tembus Pasar Jawa Timur

30 Oktober 2026 14:54 30 Okt 2026 14:54

Syaiful Arif, Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Modal KUR BRI, Kerupuk Samiler Asal Jombang Tembus Pasar Jawa Timur

Usaha kerupuk samiler rumahan milik Titik Martianah (55), warga Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, (Foto: Syaiful Arif/ketik.com)

KETIK, JOMBANG – Usaha kerupuk samiler rumahan milik Titik Martianah (55), warga Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terus berkembang.

Dari usaha sederhana yang hanya mengolah 10 kilogram singkong per hari, kini produksi kerupuk samiler bermerek Luliza tersebut mencapai 200 kilogram singkong setiap hari.

Perkembangan usaha yang dirintis sejak 2011 itu tidak lepas dari ketekunan Titik dalam meneruskan usaha orang tuanya. Selain mempertahankan produk makanan tradisional berbahan dasar singkong, ia juga berupaya meningkatkan kapasitas produksi agar mampu memenuhi permintaan pasar.

Pada awal merintis usaha, Titik hanya mengandalkan peralatan sederhana. Proses produksi dilakukan secara terbatas dengan mengolah sekitar 10 kilogram singkong setiap hari.

Kerupuk samiler dibuat melalui sejumlah tahapan, mulai dari mengupas dan mencuci singkong, menggiling bahan baku, mencampurnya dengan bumbu, hingga mengukus adonan. Setelah dibentuk, kerupuk kemudian dijemur sampai kering sebelum siap dipasarkan.

Seiring meningkatnya kebutuhan produksi, Titik mulai membutuhkan tambahan modal untuk membeli peralatan yang lebih memadai. Pada 2018, ia mengajukan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui BRI Unit Diwek.

Pengajuan tersebut disetujui dengan nilai pinjaman Rp25 juta. Dana itu digunakan untuk membeli mesin penggiling singkong dan sejumlah peralatan penunjang produksi.

Hasilnya, kapasitas pengolahan bahan baku meningkat dari semula 10 kilogram menjadi 50 hingga 60 kilogram singkong per hari.

"Awalnya produksi saya masih sedikit, sekitar 10 kilogram singkong sehari. Setelah mendapatkan pinjaman dari BRI, uangnya saya gunakan untuk membeli mesin giling dan peralatan produksi. Alhamdulillah, produksi bisa meningkat menjadi 50 sampai 60 kilogram sehari," ungkap Titik, Jumat, 30 Oktober 2026.

Menariknya, pinjaman pertama tersebut berhasil dilunasi dalam waktu sekitar satu tahun.

Pertumbuhan usaha membuat Titik kembali membutuhkan tambahan modal. Jumlah pekerja yang semula terbatas bertambah hingga mencapai 25 orang. Pada 2020, ia kembali mengajukan KUR BRI dan memperoleh pembiayaan sebesar Rp160 juta.

Kali ini, dana tersebut digunakan untuk membangun gedung produksi di belakang rumahnya. Dengan tempat produksi yang lebih luas, kegiatan pengolahan kerupuk samiler dapat dilakukan lebih leluasa dan kapasitas produksi meningkat hingga 200 kilogram singkong per hari.

Produk kerupuk samiler Luliza kini tidak hanya dipasarkan di sekitar Jombang. Pemasarannya telah menjangkau sejumlah daerah di Jawa Timur, di antaranya Blitar, Sidoarjo, Tuban, Pasuruan, dan Surabaya.

Titik memproduksi dua varian rasa, yakni original dan pedas. Kerupuk samiler original dijual dengan harga Rp35 ribu per kilogram, sedangkan varian pedas dibanderol Rp38 ribu per kilogram.

Pengembangan usaha tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi. Titik kini juga berupaya menekan biaya pengadaan bahan baku agar keuntungan usaha bisa lebih optimal.

Selama ini, kebutuhan singkong diperoleh melalui tengkulak dengan harga sekitar Rp3.200 per kilogram. Padahal, jika membeli langsung dari petani, harga singkong bisa diperoleh sekitar Rp2.500 per kilogram.

Untuk mendukung rencana tersebut, pada 2024 Titik kembali mengajukan pembiayaan KUR BRI setelah pinjaman sebelumnya dilunasi. Ia memperoleh pinjaman sebesar Rp110 juta yang digunakan untuk membeli mobil pikap sebagai kendaraan operasional pengangkutan singkong.

"Selama ini saya membeli singkong dari tengkulak dengan harga sekitar Rp3.200 per kilogram. Kalau bisa membeli langsung dari petani, harganya sekitar Rp2.500 per kilogram. Karena itu, saya membutuhkan mobil pikap agar lebih mudah mengambil singkong langsung dari petani," jelasnya.

Menurut Titik, kendaraan operasional tersebut diharapkan memudahkan pengadaan bahan baku langsung dari petani sekaligus mengurangi biaya produksi.

Ia mengaku pembiayaan dari BRI telah membantu memenuhi kebutuhan pengembangan usaha secara bertahap. Mulai dari pengadaan mesin produksi, pembangunan tempat usaha, hingga pembelian kendaraan untuk menunjang distribusi dan pengadaan bahan baku.

"Alhamdulillah, usaha saya bisa berkembang seperti sekarang berkat bantuan pinjaman dari BRI. Saya merasa terbantu karena proses pengajuannya mudah, cepat, dan pelayanannya juga baik. Bunganya juga terjangkau sehingga tidak terlalu memberatkan," tuturnya.

Titik mengatakan, sejak pertama kali mengembangkan usaha kerupuk samiler, dirinya belum pernah mengajukan pinjaman ke bank lain. Tambahan modal untuk mengembangkan usahanya selama ini diperoleh melalui pembiayaan BRI.

Perjalanan usaha kerupuk samiler Luliza menunjukkan perkembangan UMKM berbasis produk pangan lokal di Kabupaten Jombang. Dari produksi rumahan dengan pengolahan 10 kilogram singkong per hari, usaha tersebut kini mampu menyerap 25 pekerja dan memasarkan produknya ke sejumlah wilayah di Jawa Timur.(*)

Tombol Google News

Tags:

KUR BRI UMKM Jombang BRI Jombang