Viral Kasus Bullying Siswa di Jember, Akademisi Soroti Bahaya Normalisasi Kekerasan Remaja

Editor: Muhammad Faizin

7 Apr 2026 11:30

Thumbnail Viral Kasus Bullying Siswa di Jember, Akademisi Soroti Bahaya Normalisasi Kekerasan Remaja
Ilustrasi perundungan atau bullying siswa. (Ilustrator: Rihad/Ketik)

KETIK, JEMBER – Kasus dugaan perundungan yang dialami seorang siswa kelas 1 SMA di Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, memicu perhatian luas publik setelah video kejadian tersebut beredar dan viral di media sosial.

Peristiwa yang melibatkan sejumlah pelajar dari berbagai sekolah ini mendorong desakan masyarakat agar aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut. Di sisi lain, kejadian ini juga menjadi peringatan serius terkait meningkatnya fenomena kekerasan di kalangan remaja.

Korban diketahui berinisial F (15), warga Kecamatan Kencong, yang diduga menjadi sasaran kekerasan oleh sekitar 10 orang rekannya. Insiden tersebut disebut terjadi di wilayah Kecamatan Jombang dan kini tengah ditangani oleh pihak kepolisian setempat.

Dalam rekaman video yang beredar, korban terlihat mengalami perlakuan yang mengarah pada intimidasi dan kekerasan fisik. Tayangan tersebut memicu reaksi keras dari masyarakat yang mengecam tindakan para pelaku.

Baca Juga:
Target Nol Kemiskinan Ekstrem 2029, Bupati Jember Dorong Optimalisasi Hutan Sosial

Sejumlah kalangan menilai, kasus ini tidak sekadar persoalan individu antara pelaku dan korban. Peristiwa tersebut dianggap mencerminkan persoalan sosial yang lebih luas, khususnya terkait pola pergaulan remaja yang mulai mengarah pada normalisasi kekerasan.

Menanggapi hal itu, dosen Sosiologi FISIP Universitas Jember, Nurul Hidayat, menegaskan bahwa bullying merupakan persoalan serius yang tidak boleh dianggap sebagai hal wajar dalam interaksi sosial.

“Kalau bullying secara umum memang sebuah fenomena yang tidak bisa dianggap biasa, walaupun terjadi di lingkungan terbatas. Pikiran bahwa bullying adalah bagian dari pergaulan yang dianggap wajar, itu tidak bagus karena efek jangka panjangnya bisa merembet ke mana-mana,” ujar pria yang akrab disapa Nuhi saat dikonfirmasi di Kampus Unej, Senin malam, 6 April 2026. 

Ia menekankan, masyarakat yang sehat seharusnya tidak memberikan ruang toleransi terhadap segala bentuk kekerasan. Menurutnya, penanganan kasus bullying tidak boleh dilihat dari besar kecilnya skala kejadian, melainkan dari prinsip dasar perlindungan terhadap setiap individu.

Baca Juga:
Dugaan Menu MBG Tak Layak di Sreseh Sampang, Ini Klarifikasi Ketua Yayasan Barisan Garuda Muda

“Kalau kita bicara soal toleransi, angkanya harus nol. Bukan soal besar atau kecil, tapi ada atau tidak. Begitu ada, harus segera ditangani,” tegasnya.

Nuhi juga mengingatkan bahwa pembiaran terhadap praktik bullying berpotensi menimbulkan efek berantai. Kekerasan yang awalnya terjadi dalam lingkup kecil bisa berkembang menjadi fenomena yang dianggap biasa jika tidak segera ditindak.

“Ketika dibiarkan, suasana yang menormalisir kekerasan itu akan menjadi common issue atau peristiwa yang dianggap biasa. Ini yang berbahaya, karena membuka peluang terjadinya kembali kasus serupa di tempat lain dengan pelaku dan korban yang berbeda,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa manusia sebagai makhluk sosial memiliki kemampuan memori yang panjang, sehingga pengalaman buruk seperti bullying dapat meninggalkan dampak psikologis yang mendalam.

“Kodrat Manusia itu tidak sama seperti hewan yang bila mengalami intimidasi bisa selesai di hari yang sama sesaat kejadiannya selesai, Contoh, pada momen idul Adha, seekor sapi yang disembelih, anaknya tidak dendam," ungkapnya.

"Tapi kalau manusia kan makhluk berbeda, makhluk simbolik yg memiliki kemampuan interpretasi. Kapasitas memorinya yang panjang memungkinkan manusia terikat dengan sebuah peristiwa cukup lama. Ssbuah peristiwa bisa menimbulkan arti yg mendalam sepeeti trauma yang membekas kuat sebagai denda.

Oleh sebab itu setiap pengalaman buruk yang dipicu oleh perlakuan tidak adil, Kalau tidak segera dan diselesaikan dengan cara yang baik, bisa memicu konflik turunan di masa depan,” jelasnya.

Dalam konteks penanganan, Nuhi menyarankan agar penyelesaian awal dilakukan melalui pendekatan persuasif, seperti komunikasi dalam keluarga dan lingkungan sosial. Namun, jika tidak menemukan titik temu yang adil, maka jalur hukum harus ditempuh sebagai bentuk perlindungan terhadap hak korban.

Ia juga menegaskan pentingnya peran bersama dari masyarakat untuk mencegah kasus serupa terulang. “Pergaulan yang sehat seharusnya menjadi ruang untuk saling belajar dan tumbuh, bukan sebaliknya menjadi arena kekerasan,” tandasnya.

Saat ini, kasus yang menimpa F masih dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian. Masyarakat pun berharap penanganan dilakukan secara transparan dan menyeluruh, tidak hanya demi keadilan bagi korban, tetapi juga sebagai langkah pencegahan agar praktik bullying tidak terus terjadi di lingkungan pendidikan.

Baca Sebelumnya

Polres Bojonegoro Gelar Tasyakuran HUT ke-74 Korps Sabhara, Tegaskan Peran Garda Terdepan Kamtibmas

Baca Selanjutnya

Pesta Miras Berujung Pembacokan di Jember, Pria Alami Luka Parah di Kepala dan Leher

Tags:

bullying pelajar Jember kekerasan remaja perundungan siswa video viral keamanan sekolah kasus kriminal pelajar

Berita lainnya oleh Muhammad Faizin

Akses Pengobatan Hemofilia Belum Merata, Terapi Pencegahan Masih Terbatas

19 April 2026 09:40

Akses Pengobatan Hemofilia Belum Merata, Terapi Pencegahan Masih Terbatas

Gejala Hemofilia yang Sering Tak Disadari, dari Nyeri Sendi hingga Perdarahan Internal

19 April 2026 09:20

Gejala Hemofilia yang Sering Tak Disadari, dari Nyeri Sendi hingga Perdarahan Internal

Banyak Kasus Hemofilia Baru Terungkap Setelah Perdarahan, Dokter Soroti Minimnya Deteksi Dini

19 April 2026 09:00

Banyak Kasus Hemofilia Baru Terungkap Setelah Perdarahan, Dokter Soroti Minimnya Deteksi Dini

Mengenal Hemofilia: Penyebab, Jenis dan Bahaya Perdarahan Internal yang Kerap Tak Disadari

19 April 2026 08:40

Mengenal Hemofilia: Penyebab, Jenis dan Bahaya Perdarahan Internal yang Kerap Tak Disadari

Kasus Hemofilia di Indonesia Masih Minim Terdeteksi, Baru 13 Persen Terdiagnosis

19 April 2026 08:00

Kasus Hemofilia di Indonesia Masih Minim Terdeteksi, Baru 13 Persen Terdiagnosis

Harga Plastik Naik hingga 100 Persen, Pemerintah Diminta Lindungi UMKM

19 April 2026 07:00

Harga Plastik Naik hingga 100 Persen, Pemerintah Diminta Lindungi UMKM

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Mantan Kepala SMAN 1 Situbondo Dilantik Jadi Kepsek Garuda

Mantan Kepala SMAN 1 Situbondo Dilantik Jadi Kepsek Garuda