Balita di Jember Digigit Monyet Peliharaan Orang Tua, BKSDA Imbau Masyarakat Tak Pelihara Satwa Liar

Jurnalis: Muhammad Hatta
Editor: Muhammad Faizin

24 Feb 2026 09:20

Headline

Thumbnail Balita di Jember Digigit Monyet Peliharaan Orang Tua, BKSDA Imbau Masyarakat Tak Pelihara Satwa Liar
BKSDA bersama jajaran terkait usai memberikan edukasi dan menerima penyerahan sukarela Monyet Ekor Panjang dari keluarga di Mayang pasca insiden penyerangan kepada balita. (Foto: BKSDA Jember)

KETIK, JEMBER – Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) mengimbau masyarakat untuk tidak lagi memelihara satwa liar. Selain akan membuat satwa tersebut tersiksa karena dikurung, hal ini juga bisa membahayakan manusia.

Seperti yang dialami seorang keluarga di Kecamatan Mayang, Jember yang memelihara satwa jenis Monyet Ekor Panjang yang pada dasarnya merupakan satwa sosial yang hidup dengan struktur hierarki ketat dan memiliki naluri mempertahankan diri yang kuat. Ketika satwa liar ini dipelihara di lingkungan rumah dengan ruang gerak terbatas serta menghadapi interaksi tak terduga—terutama dengan anak-anak—hewan berpotensi mengalami stres dan bereaksi agresif.

Sikap orang tua di Kecamatan Mayang memelihara Monyet Ekor Panjang berbuntut naas kepada seorang balita perempuan berusia dua tahun. Bocah itu mengalami luka serius akibat gigitan monyet peliharaan orang tuanya. Peristiwa yang terjadi pada Jumat, 30 Januari 2026 itu menjadi pengingat penting tentang risiko memelihara satwa liar di lingkungan domestik.

Korban, Nazila Soya Katra (2), warga Dusun Mrapen RT 003/RW 011, Kecamatan Mayang, langsung dilarikan keluarganya ke RSD Kalisat sekitar pukul 16.00 WIB setelah mengalami gigitan di tangan kanan. Saat kejadian, balita tersebut bermain di halaman rumah dan sempat memberi makan monyet yang telah dipelihara sekitar lima tahun.

Baca Juga:
Heboh Nikah Siri Sesama Jenis di Malang, Pakar UIN Maliki Beberkan Celah Hukum dan Cara Mitigasinya

Tim medis segera melakukan penanganan dengan mencuci luka menggunakan sabun di bawah air mengalir, memberikan antiseptik povidone iodine, serta terapi antibiotik dan vaksin antirabies (VAR). Dokter juga memberikan perawatan lanjutan guna mencegah infeksi.

Kepala Bidang BKSDA Wilayah III Jember, Purwantono, menegaskan bahwa karakter alami satwa liar tidak dapat sepenuhnya dihilangkan meski telah lama dipelihara manusia.

“Satwa liar memiliki karakter dan perilaku alami yang tidak bisa diprediksi sepenuhnya, terlebih jika dipelihara tanpa pengetahuan yang memadai. Konflik seperti ini bukan hanya membahayakan manusia, tetapi juga merugikan satwanya sendiri. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk tidak memelihara satwa liar dalam bentuk apa pun,” ujar Purwantono saat dikonfirmasi di kantornya, Selasa, 24 Februari 2026. 

"Kjadian yang dialami balita itu tentu menjadi pembelajaran bagi kita semua," sambungnya.

Baca Juga:
Merayakan 19 Tahun Dedikasi, Mercure Surabaya Grand Mirama Gelar "The Symphony of Nineteen" dengan Penampilan Airlangga Orchestra

 

Naluri Liar Tetap Muncul Meski Dipelihara Sejak Kecil

Purwantono menjelaskan, di habitat alaminya monyet ekor panjang hidup berkelompok dengan sistem sosial yang kompleks. Mereka mempertahankan wilayah, mengenal hierarki dominasi, serta memiliki respons cepat terhadap ancaman.

Ketika dipelihara di rumah, satwa mengalami perubahan lingkungan drastis. Ruang gerak yang sempit, rutinitas yang tidak sesuai perilaku alaminya, serta interaksi fisik yang tidak terduga dapat memicu stres. Kondisi tersebut meningkatkan potensi reaksi spontan, termasuk menggigit.

“Meskipun saat kecil tampak jinak dan menggemaskan, setelah dewasa sifat liarnya bisa muncul dan menjadi agresif. Ini yang harus dipahami masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, kasus serangan monyet terhadap manusia di wilayah Jember bukan kali pertama terjadi. Sepanjang 2024 hingga 2025, pihaknya mencatat empat hingga lima kasus setiap tahun dengan jumlah korban mencapai puluhan orang. Data tersebut menunjukkan risiko nyata dari pemeliharaan satwa liar tanpa pemahaman memadai.

 

Satwa Diserahkan ke BKSDA dan Edukasi Diperkuat

Sebagai tindak lanjut, petugas BKSDA bersama dokter hewan dari Puskeswan dan aparat setempat melakukan pendekatan persuasif kepada pemilik. Monyet tersebut akhirnya diserahkan secara sukarela dan kini ditempatkan di kandang transit KSDA Wilayah III Jember untuk penanganan lebih lanjut.

"Penyerahannya beberapa hari yang lalu. Langkah ini, dilakukan untuk melindungi masyarakat sekaligus memastikan kesejahteraan satwa," ucapnya.

Dalam waktu dekat, pihak KSDA juga berencana menghadirkan dokter dari Belanda untuk memperkuat edukasi dan peningkatan kapasitas tenaga medis terkait penanganan luka akibat serangan satwa liar.

"Termasuk monyet, guna meningkatkan kapasitas tenaga medis dan pemahaman masyarakat. Karena dokter ini ahli dalam memberikan edukasi dan pemahaman tentang bagaimana penanganan yang benar, terutama soal medis, saat mengalami luka akibat Satwa Liar," jelasnya.

Purwantono berharap kasus di Mayang menjadi momentum refleksi bersama. Ia menekankan bahwa kedekatan emosional dengan satwa liar tidak boleh mengabaikan karakter alaminya.

"Kami berharap, kejadian di Mayang menjadi pembelajaran bersama agar masyarakat tidak lagi memelihara satwa liar di lingkungan rumah tangga, demi keselamatan manusia dan kelestarian satwa di habitat aslinya," pungkasnya. (*)

Baca Sebelumnya

Wali Murid SMAN 1 Kota Blitar Soroti Kualitas MBG, IPAL Dapur SPPG Tlumpu Juga Disorot

Baca Selanjutnya

BMKG Prediksi Cuaca Jakarta Berawan, Bandar Lampung Udara Kabur

Tags:

Monyet Ekor Panjang Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam BKSDA Wilayah III Jember balita di mayang diserang monyet jangan pelihara satwa liar

Berita lainnya oleh Muhammad Hatta

Kebakaran di Permukiman Padat Jember, 3 Rumah Terdampak, Kerugian Capai Rp100 Juta

5 April 2026 21:15

Kebakaran di Permukiman Padat Jember, 3 Rumah Terdampak, Kerugian Capai Rp100 Juta

Video Percikan Api Lokomotif Viral di TikTok, KAI Pastikan Bukan Kebakaran

4 April 2026 11:51

Video Percikan Api Lokomotif Viral di TikTok, KAI Pastikan Bukan Kebakaran

Diduga Terpeleset Saat Menimba Air, Perempuan di Puger Jember Tewas Tercebur Sumur

4 April 2026 11:25

Diduga Terpeleset Saat Menimba Air, Perempuan di Puger Jember Tewas Tercebur Sumur

Terungkap, Dugaan Bullying Siswa SMA di Jember Dipicu Voice Note dan Konflik Lama

4 April 2026 11:00

Terungkap, Dugaan Bullying Siswa SMA di Jember Dipicu Voice Note dan Konflik Lama

Korban Bullying di Jember Alami Trauma, Dinsos Libatkan Psikolog

4 April 2026 10:00

Korban Bullying di Jember Alami Trauma, Dinsos Libatkan Psikolog

Polisi Selidiki Kasus Bullying Siswa SMA di Jember, Diduga Libatkan 10 Remaja

4 April 2026 09:05

Polisi Selidiki Kasus Bullying Siswa SMA di Jember, Diduga Libatkan 10 Remaja

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar