KETIK, JAKARTA – Piala Dunia FIFA 2026 menghadirkan banyak kejutan. Namun, mungkin tidak ada yang lebih memikat dibanding kisah Cape Verde. Negara kepulauan kecil di Samudra Atlantik itu berhasil menorehkan sejarah dengan lolos ke babak 32 besar pada debut mereka di ajang sepak bola terbesar dunia.
Keberhasilan ini terasa semakin istimewa karena Cape Verde melaju ke fase gugur tanpa sekalipun meraih kemenangan di fase grup. Mereka menahan imbang Spanyol 1-1 pada laga pembuka, bermain imbang 2-2 melawan Uruguay, dan menutup fase grup dengan hasil 0-0 kontra Arab Saudi.
Dengan tiga hasil imbang tersebut, Cape Verde menjadi negara pertama sejak Chile pada Piala Dunia 1998 yang berhasil lolos dari fase grup setelah mengakhiri seluruh pertandingan penyisihan dengan skor imbang.
Namun keajaiban "Hiu Biru" tidak berhenti sampai di situ.
Dengan populasi sekitar 600 ribu jiwa, Cape Verde merupakan negara terkecil ketiga yang pernah tampil di Piala Dunia. Lebih luar biasa lagi, mereka kini menjadi negara dengan populasi terkecil yang pernah berhasil menembus fase gugur Piala Dunia FIFA.
Prestasi tersebut menempatkan Cape Verde di atas sejumlah negara kecil lain yang sebelumnya pernah mencicipi Piala Dunia seperti Islandia, Trinidad dan Tobago, maupun Jamaika.
Sejarah Cape Verde pada Piala Dunia 2026 ditentukan pada laga kontra Arab Saudi. Dalam laga ini, Cape Verde menunjukkan organisasi permainan dan disiplin bertahan yang luar biasa.
Mereka pun sukses mencatatkan peluang yang mengancam Arab Saudi. Jamiro Monteiro hampir membawa timnya unggul pada babak pertama setelah berhasil melewati Saud Abdulhamid, namun penyelamatan gemilang Mohammed Al-Owais menggagalkan peluang tersebut.
Monteiro kembali mengancam pada awal babak kedua setelah menerima umpan dari Wagner Pina, tetapi penyelesaiannya masih terlalu lemah untuk menaklukkan penjaga gawang Arab Saudi tersebut.
Peluang terbaik Cape Verde hadir ketika serangan balik cepat yang dipimpin Nuno da Costa berujung pada peluang emas Laros Duarte. Namun lagi-lagi Al-Owais tampil sigap untuk menjaga gawang Arab Saudi tetap aman.
Meski gagal mencetak gol, hasil imbang tanpa gol itu sudah cukup untuk mengantarkan Cape Verde melaju ke babak 32 besar sebagai runner-up Grup H di belakang Spanyol yang keluar sebagai juara grup.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa dalam sepak bola modern, ukuran negara maupun jumlah penduduk bukanlah penentu utama kesuksesan. Dengan organisasi permainan yang solid, semangat juang tinggi, dan keberanian menghadapi lawan-lawan besar, Cape Verde berhasil menulis salah satu kisah dongeng paling indah dalam sejarah Piala Dunia.
Kini, dunia menanti apakah perjalanan luar biasa negara kepulauan kecil di lepas pantai Afrika Barat itu akan terus berlanjut di fase gugur. Mereka akan menghadapi Argentina pada 3 Juli 2026 mendatang.
Para penggawa Cape Verde tak gentar dengan lawan yang akan mereka hadapi.
Kiper mereka, Vozinho, menyebut bahwa mereka akan berjuang dengan berani menghadapi sihir Lionel Messi dan kawan-kawan.
"Kami adalah negara kecil, tapi kami memiliki hati besar. Kami akan bertarung selayaknya kesatria," tegas Vozinho.
Apa pun hasil akhirnya nanti, Cape Verde telah memastikan satu hal: mereka bukan lagi sekadar peserta debutan, melainkan salah satu cerita terbesar Piala Dunia 2026.
.png)