Temui Prabowo, BRIN Lapor Kembangkan Energi dari Limbah Sawit hingga Vaksin Malaria

27 Oktober 2026 20:10 27 Okt 2026 20:10

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Temui Prabowo, BRIN Lapor Kembangkan Energi dari Limbah Sawit hingga Vaksin Malaria

Presiden Prabowo Subianto menerima Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 27 Oktober 2026. (Foto: BPMI Setpres/Rusman)

KETIK, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sejumlah riset strategis, mulai dari pemanfaatan limbah sawit sebagai sumber energi alternatif hingga pengembangan vaksin malaria.

Riset tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan energi, kesehatan, lingkungan, serta memperkuat kemandirian nasional.

Kepala BRIN Arif Satria melaporkan perkembangan sejumlah riset tersebut setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026.

Di sektor energi, BRIN mengkaji pemanfaatan limbah cair pengolahan sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dan tandan kosong sawit untuk menghasilkan energi listrik.

Arif menyebut potensi konversi limbah tersebut mencapai kapasitas sekitar 3,9 gigawatt.

Pemanfaatan limbah sawit juga berpotensi menghasilkan biogas yang dapat dikonversi menjadi gas tabung.

Menurut Arif, pengembangan energi alternatif tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.

“Jadi saat ini kita mengimpor LPG kurang lebih 97 triliun per tahun dengan adanya biogas yang bisa dikonversi menjadi gas tabung, saya kira ini akan menjadi salah satu solusi energi kita ke depan,” ucap Arif.

Di bidang kesehatan, BRIN tengah mengembangkan empat kandidat vaksin malaria.

Arif mengatakan, Presiden meminta agar proses riset dipercepat sehingga pengembangan vaksin tersebut diharapkan dapat selesai tiga tahun lebih cepat dari perkiraan waktu sebelumnya.

“Bapak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat. Dan kita berharap dengan support dari Bapak Presiden terkait dengan vaksin ini, ini bisa kita percepat tiga tahun lebih cepat dari seharusnya karena beliau akan memberikan dukungan penuh terhadap produksi vaksin ini, khususnya vaksin malaria,” ujar Arif.

Menurut Arif, pengembangan vaksin malaria juga berpotensi menjadi kontribusi Indonesia bagi dunia, terutama dalam penanganan jenis parasit yang belum memiliki vaksin, seperti Plasmodium vivax.

Selain vaksin, BRIN mengembangkan riset obat herbal untuk mendukung kemandirian obat nasional.

Saat ini, terdapat 19 kandidat obat herbal yang dikembangkan untuk menuju kategori fitofarmaka, dari yang sebelumnya masih berada pada tahap Obat Herbal Terstandarisasi (OHT).

“Saat ini di BRIN sendiri ada 19 kandidat obat herbal untuk masuk pada fitofarmaka. Jadi beberapa obat yang ada di BRIN kan masih dalam taraf OHT, Obat Herbal Terstandarisasi. Sekarang ingin menuju pada fitofarmaka,” kata Arif.

Di sektor lingkungan, BRIN juga mengembangkan riset untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, serta TNI Angkatan Udara dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), termasuk operasi dry ice.

Selain penanganan jangka pendek, BRIN mengembangkan model perambatan api untuk membantu mengantisipasi karhutla pada masa mendatang.

“Bapak Presiden juga menekankan pentingnya riset jangka menengah, kemudian riset jangka panjang bagaimana mengantisipasi di masa depan, termasuk di dalamnya adalah mencari model-model perambatan api itu seperti apa sebenarnya sehingga kita bisa mengantisipasi di kemudian hari,” tutur Arif.

Sementara itu, dalam penanganan sampah, BRIN didorong untuk mempercepat penerapan teknologi hasil riset agar dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.

BRIN akan berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk melibatkan perguruan tinggi dalam membantu penanganan sampah di desa-desa.

Arif menjelaskan, BRIN berperan mengembangkan prototipe teknologi, sedangkan penerapannya perlu didukung kolaborasi dengan berbagai pihak agar hasil riset dapat memberikan manfaat nyata.

“Bapak Presiden mengarahkan bagaimana teknologi-teknologi level rumah tangga dan level desa ini segera diimplementasikan. Karena BRIN memang bukan lembaga yang memang bertugas memproduksi. Kita hanya membuat prototype, tapi kita ingin memastikan bahwa prototype yang kita buat ini membawa manfaat dan bisa digunakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Penerapan teknologi tersebut diharapkan turut mendukung gerakan ASRI yang dicanangkan Presiden Prabowo.

Melalui berbagai riset tersebut, BRIN berupaya mendorong pemanfaatan inovasi untuk menjawab persoalan nasional, mulai dari kebutuhan energi dan kesehatan hingga perlindungan lingkungan.(*)

Tombol Google News

Tags:

BRIN Arif Satria Riset Nasional Limbah Sawit energi alternatif Biogas Vaksin Malaria Obat Herbal Fitofarmaka Karhutla Teknologi Pengolahan Sampah Berita Nasional Info Indonesia