KETIK, JAKARTA – Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) bersinergi melakukan kegiatan panen perdana kedelai di lahan seluas 5 hektar di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur pada Sabtu, 18 April 2026.
Hal ini guna mendukung program Asta Citra Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Panen perdana kedelai ini dihadiri Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kwarnas Gerakan Pramuka sekaligus Ketua Harian HKTI Mayjen TNI (Purn) Bachtiar Utomo.
Lalu, pengurus Kwarnas Gerakan Pramuka di antaranya Mayjen TNI (Purn) Widadgo Hendro Sukoco, Mayjen TNI Mar (Purn) Yuniar Ludhfi, serta para pengurus HKTI antara Ketua Bidang Kedelai HKTI Petrus Tjandra.
Kemudian Wakil Ketua Umum Kadin Andi Muh Yuslim Patawari, Direktur Aneka Kacang dan Umbi (Akabi) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Dyah Susilokarti dan para undangan lainnya.
Sekjen Kwarnas Gerakan Pramuka Mayjen TNI (Purn) Bahtiar Utomo mengatakan, bahwa penanaman kedelai merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subiyanto, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Jenderal Pol (Purn) Budi Waseso, Ketua Umum HKTI Sudaryono tentang ketahanan pangan.
“Kenapa kita memilih kedelai, karena ini impornya sangat besar dan benih-benih kedelai di sini berkurang jauh. Sehingga kita diminta kembalikan kejayaan kedelai kita seperti masa Presiden Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang bisa swasembada kedelai dan mengurangi ketergatungan impor,” kata Bachtiar.
Menurut dia, hasil kedelai yang ditanam cukup bagus, di mana satu batang berisi 40-60 bulir polong kedelai, serta kedelainya besar-besar dan rasa nya lebih gurih.
“Kita hitung hasilnya minimal 2-3 ton per hektar. Kita tanam 5 hektar menggunakan demplot. Dan kita juga mulai menanam di Lebak, Banten 200 hektar dan di Yogyakarta 160 hektar,”katanya.
Untuk penanaman di Cibubur, kata Bahtiar, Gerakan Pramuka menyediakan lahan, sementara HKTI menyediahkan benih dan pendampingan hingga panen, sementara pupuk diberikan secara gratis oleh tiga perusahaan pupuk di Indonesia.
Penanaman kedelai melibatkan para petani setempat yang tergabung dalam Kelompok Petani Pinggir Buperta (KPPB), anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)
Hasil panen diberikan semua kepada petani agar dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
“Benih kedelai berasal dari benih lokal, bukan dari impor. Hasilnya akan dibeli Direktora Jenderal Aneka Kacang dan Umbi Kementan untuk dijadikan benih kedelai berkualitas,” katanya.
Ketua Harian HKTI ini mengatakan, kedelai yang ditanam mengunakan teknologi ‘Demplot’ , yakni menggunakan tiga jenis pupuk organic, semi organik dan kimiawi murni.
Sehingga para petani dapat memilih mana pupuk mana yang digunakan untuk hasil kedelai yang besar dan lebih menguntungkan. “Jadi Demplot ini juga berfungsi sebagai edukasi bagi para petani,” katanya.
Kwarnas Gerakan Pramuka juga akan menanam jagung, menanam bunga matahari, mengembangkan peternakan dan perikanan untuk membangun kekuatan ketahanan pangan nasional.
Gerakan ini akan didukung 450 ribu Gugus Depan Pramuka di seluurh untuk mendukung program swasembada pangan, karena kuatnya sektor pangan menjadi salah satu indikator kemajuan suatu negara
“Kita akan membangun kekuatan ketahanan pangan tidak hanya kedelai saja, dan ini tidak bisa lakukan sendiri, tetapi kolaborasi semua pihak. Tidak ada lagi ego sectoral. Kalau hanya sendiri kita akan jadi apa-apa, kita harus membangun bersama,” kata mantan Direktur Utama Bulog ini.
Ketua Bidang Kedelai HKTI Petrus Tjandra mengaku bangga dengan sosok Mayjen TNI (Purn) Bahtiar Utomo yang berhasil menanam kedelai, dibandingkan para pejabat lainnya.
“Saya ini kerap mendampingi pejabat menanam kedelai, tetapi tidak pernah paneh. Tetapi Pak Bachiar yang seorang tentara, beliiau menanam dan panen juga. Saya bangga dan hormat pada beliau,”
Petrus berharap kedelai yang dihasilkan lebih berkualitas dan tidak kalah dengan kedelai impor, sehingga dapat meningkatkan kesejahteran petani dan terserap pasar.
Sementara itu, Direktur Aneka Kacang dan Umbi (Akabi) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Dyah Susilokarti, menargetkan Indonesia dapat mengurangi impor kedelai secara bertahap hingga mencapai swasembada pada 2029.
Menurut Dyah, saat ini terdapat lahan seluas 37.500 hektare yang ditanami kedelai pada tahun ini. Namun, tantangan yang masih dihadapi adalah keterbatasan ketersediaan bibit unggul.
“Program ini sangat membantu, terutama dalam penyediaan bibit yang berkualitas. Kami mengimbau petani agar melakukan penanaman dengan baik untuk menghasilkan kedelai berkualitas tinggi,” kata Dyah.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, Gerakan Pramuka, HKTI serta pelaku usaha menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mempercepat terwujudnya swasembada kedelai di Indonesia. (*)
