KETIK, JAKARTA – Di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono memiliki kegemaran sederhana yang mungkin belum banyak diketahui publik. Ia gemar menyantap rawon, hidangan berkuah hitam khas Jawa Timur.
Cerita tentang kegemaran itu terungkap saat Sudaryono mengunjungi Kota Batu beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, ia menyempatkan diri mampir ke Rawon Nguling di Kota Malang, salah satu warung rawon legendaris.
Sembari menikmati hidangan kesukaannya, Sudaryono bercerita bahwa dirinya bukan sekadar penikmat rawon. Ia juga piawai memasak hidangan berbahan dasar daging sapi tersebut.
Kemampuan itu dipelajarinya dari sang ibu mertua yang dikenal mahir memasak rawon. Dari sana, Sudaryono belajar memilih kluwek berkualitas, meracik bumbu, hingga menghasilkan kuah hitam dengan cita rasa yang pas.
Mengolah rawon memang membutuhkan ketelitian. Kluwek sebagai bahan utama pemberi warna dan karakter khas harus dipilih serta diolah dengan benar agar menghasilkan cita rasa yang diinginkan dan aman dikonsumsi.
Kepiawaian Sudaryono memasak rawon rupanya juga mendapat tempat tersendiri di keluarganya. Ia bercerita bahwa anak-anaknya menyukai rawon buatan sang ayah.
Kegemaran memasak rawon memberikan gambaran tentang sisi personal Sudaryono. Namun, di balik aktivitas sederhana tersebut, ada aspek lain yang menarik untuk dicermati ketika melihat kiprahnya sebagai Kepala BGN: perhatian terhadap proses pengolahan makanan.
Pria kelahiran 23 Januari 1985 itu kini mengemban tanggung jawab besar dalam mengawal program pemenuhan gizi nasional. Tugas tersebut menuntut pengawasan terhadap berbagai aspek, mulai dari kualitas bahan pangan hingga proses penyajian makanan.
Kepala BGN, Sudaryono, kala mengunjungi SDN Cot Meuraja, Kabupaten Aceh Besar, untuk meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Foto: Instagram @badangizinasional.ri)
Dalam pelaksanaan tugasnya, Sudaryono kerap melakukan kunjungan langsung ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kunjungan tersebut menjadi salah satu cara untuk memantau pelaksanaan prosedur dan memastikan operasional dapur berjalan sesuai ketentuan.
Ia juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap standar yang berlaku. Bagi program yang menyasar pemenuhan gizi anak-anak, kualitas makanan dan keamanan pangan merupakan aspek yang tidak bisa ditawar.
Sudaryono pun mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang terbukti tidak menjalankan prosedur sesuai ketentuan. Langkah pengawasan dan pemberian sanksi menjadi bagian dari upaya menjaga pelaksanaan program tetap berada dalam koridor yang ditetapkan.
Sama seperti ketelitian memilih dan mengolah bahan kala memasak rawon, ketelitian dan ketegasan Sudaryono kala menakhodai BGN semata demi menjaga agar semua anak bangsa bisa menikmati makanan bergizi. (*)
