KETIK, JAKARTA – Christopher Nolan kembali mengguncang dunia perfilman. Pasca Oppenheimer, kini muncul karya yang tak kalah menarik, The Odyssey. Salah satu film yang dinanti-nanti tahun ini telah tayang sejak 15 Juli 2026 di bioskop Indonesia.
Film ini bukan sekadar mengisahkan perjalanan kembalinya Raja Ithaca, Odysseus, yang dipenuhi berbagai rintangan, melainkan juga sarat akan pelajaran kepemimpinan, sehingga relevan untuk ditonton oleh pemimpin publik saat ini.
Sayangnya, hanya sedikit media yang mengangkat sisi kepemimpinan Raja Ithaca ini. Oleh karena itu, mari kita bahas lebih dalam.
Alkisah, seorang Raja Ithaca bernama Odysseus, baru saja menuntaskan Perang Troya dan bersiap kembali ke kerajaannya. Namun, perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu beberapa minggu itu berubah menjadi petualangan sepuluh tahun penuh rintangan.
Beberapa tantangan yang dihadapi, yaitu ia bersama anak buahnya yang berada di kapal bertemu dengan Cyclops bermata satu, Circe; penyihir yang mampu mengubah manusia menjadi babi, serta ditahan oleh Calypso di pulau terpencil. Belum lagi ia bertemu Scylla; monster laut berkepala enam, badai dahsyat di lautan, hingga murka Dewa Poseidon yang terus menghalangi kepulangannya.
Sementara itu, di Ithaca, Penelope, sang istri Odysseus, dan Telemachus, sang putra, tetap setia menunggu kepulangannya sambil mempertahankan takhta dari ratusan bangsawan yang berambisi merebut takhta.
Di balik rintangan-rintangan tersebut, tersimpan pelajaran kepemimpinan yang bisa dipetik. Keberaniannya terlihat saat ia nekat menghadapi Polyphemus meski nyawa taruhannya. Loyalitas timnya terjaga lewat caranya membagi tugas dan memberi kepercayaan pada anak buahnya, termasuk Eurylochus, saat ia sendiri tak bisa memimpin langsung. Sementara strategi dan kecerdikannya tampak dari caranya mengelabui Cyclops maupun menghindari nyanyian maut para Siren.
Tak jauh berbeda dengan kehidupan saat ini, setiap pemimpin pasti menghadapi ‘badai’-nya masing-masing yang membutuhkan kesabaran dan strategi jangka panjang untuk menghadapi semua itu.
Di luar jalan cerita tersebut, publik pun ramai mempertanyakan apakah Odysseus ini layak disebut sebagai pemimpin yang baik.
Di satu sisi, dia bisa dibilang pemimpin yang tangguh dan cerdik karena ia berhasil melawan segala rintangan dan akhirnya kembali ke Ithaca. Namun di sisi lain, dia juga gagal dikatakan sebagai pemimpin sebab akhirnya seluruh anak buahnya tewas, dan ambisi pribadinya menempatkan mereka dalam bahaya.
Dari sini kita bisa menarik pelajaran bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal karisma dan keberanian, melainkan tanggung jawab untuk menjaga ‘anak buah’ tetap selamat.
.png)