KETIK, JAKARTA – Demensia tidak selalu dimulai dengan gangguan daya ingat yang mencolok. Perubahan perilaku yang tidak biasa juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan, tetapi keluarga kerap menganggapnya sebagai bagian normal dari proses penuaan.
Anggapan bahwa demensia sama dengan pikun biasa berisiko membuat gejala awal terlambat dikenali. Padahal, pemeriksaan sejak dini dapat membantu keluarga dan tenaga kesehatan memahami kondisi seseorang serta merencanakan penanganan sesuai kebutuhannya.
Dosen Keperawatan Jiwa dan Komunitas Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Sri Mulyani, S.Kep., Ns., M.Ng., menjelaskan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan tersebut. Orang terdekat biasanya menjadi pihak pertama yang menyadari perbedaan perilaku seseorang dibandingkan kebiasaannya sehari-hari.
“Biasanya orang terdekatlah yang pertama kali notice. Tahu ini kok jadi aneh, kok perilakunya begini. Yang paling mengganggu biasanya adalah perubahan perilakunya, bukan hanya lupa-lupanya,” jelasnya seperti dikutip dari laman resmi UGM.
Menurut Sri, kelupaan pada lansia tidak selalu menunjukkan demensia. Namun, keluarga perlu memperhatikan perubahan yang tidak biasa, terutama ketika perilaku seseorang mulai berbeda dari sebelumnya.
Mengenali tanda-tanda tersebut menjadi langkah awal untuk menentukan apakah seseorang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Keluarga juga perlu memahami bahwa hasil skrining belum dapat disamakan dengan diagnosis sehingga pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan tetap diperlukan.
Kesadaran tentang Demensia Masih Menjadi Tantangan
Sri menilai, pemahaman masyarakat mengenai demensia perlu diperkuat agar keluarga mampu membedakan perubahan yang berkaitan dengan penuaan normal dan gejala yang mengarah pada gangguan tersebut.
“Jadi, tantangan terbesarnya adalah awareness dulu. Semua orang perlu tahu demensia itu apa, gejalanya seperti apa, agar bisa membedakan yang penuaan normal itu seperti apa, yang mengarah ke demensia itu yang seperti apa,” terangnya.
Edukasi masyarakat perlu disertai informasi mengenai tempat pemeriksaan, mekanisme rujukan, dan layanan yang dapat membantu orang dengan demensia (ODD). Dengan begitu, keluarga tidak berhenti pada pengenalan gejala, tetapi juga mengetahui langkah yang dapat ditempuh ketika menemukan tanda-tanda yang mengkhawatirkan.
Kebutuhan tersebut semakin penting karena jumlah penderita demensia diperkirakan meningkat seiring bertambahnya usia penduduk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 55,2 juta orang di seluruh dunia hidup dengan berbagai tipe demensia pada 2019. Jumlah tersebut diproyeksikan mencapai 139 juta orang pada 2050.
Di Indonesia, Alzheimer Indonesia memperkirakan terdapat 1,2 juta penderita sindrom demensia pada 2016. Jumlah itu diperkirakan dapat meningkat menjadi 4 juta orang pada 2050. Namun, data nasional yang menggambarkan angka demensia secara menyeluruh masih belum tersedia dengan jelas.
Sri menegaskan bahwa deteksi dini perlu diikuti kesiapan menghadapi perkembangan kondisi penderita. Demensia dapat memburuk seiring waktu sehingga keluarga perlu merencanakan perawatan jangka panjang, termasuk kemungkinan ketika ODD membutuhkan bantuan untuk aktivitas sehari-hari dan pengawasan lebih intensif.
Di sisi lain, pengenalan gejala bukan satu-satunya langkah yang dibutuhkan. Pencegahan faktor risiko sejak usia muda juga penting, sementara penguatan edukasi, data, dan layanan kesehatan diperlukan agar penanganan demensia di Indonesia semakin siap menghadapi kebutuhan pada masa mendatang. (*)
