Hore! AS-Iran Akhirnya Sepakat Berdamai, Ini Bocoran Poin-poin Kesepakatannya

15 Juni 2026 22:35 15 Jun 2026 22:35

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Hore! AS-Iran Akhirnya Sepakat Berdamai, Ini Bocoran Poin-poin Kesepakatannya

Pertemuan diplomatik antara perwakilan Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan menjelang tercapainya kesepakatan kerangka perdamaian untuk mengakhiri konflik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan dengan Iran pada 14 Juni 2026. Draf perjanjian yang beredar memuat rencana pencabutan sanksi, pembukaan Selat Hormuz, hingga program rekonstruksi ekonomi bernilai ratusan miliar dolar AS. (Foto: Generate AI)

KETIK, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran telah tercapai setelah melalui serangkaian negosiasi yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui akun Truth Social miliknya pada Minggu, 14 Juni 2026.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah rampung dan menjadi langkah penting menuju normalisasi hubungan kedua negara.

“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semua!” tulis Trump.

Kesepakatan tersebut dijadwalkan akan ditandatangani secara resmi pada Jumat, 19 Juni 2026, di Swiss.

Pemerintah Iran juga telah mengonfirmasi adanya kesepakatan tersebut, meski menegaskan bahwa sejumlah detail teknis masih harus dibahas lebih lanjut sebelum perjanjian benar-benar final.

Pemerintah Iran menyatakan proses negosiasi belum sepenuhnya berakhir karena kedua negara masih perlu menyelesaikan sejumlah isu yang menjadi bagian dari pembicaraan lanjutan.

Meski demikian, tercapainya kesepakatan awal tersebut telah memicu respons positif dari berbagai negara dan komunitas internasional yang selama ini mendorong penyelesaian konflik antara Washington dan Teheran melalui jalur diplomasi.

Sejumlah informasi mengenai isi kesepakatan mulai terungkap setelah kantor berita Iran, Mehr, mempublikasikan draf nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang disebut terdiri atas 14 poin utama.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran, salah satu poin utama dalam kesepakatan tersebut adalah komitmen untuk mengakhiri konflik secara permanen dan segera di berbagai front, termasuk yang berkaitan dengan situasi di Lebanon.

Selain itu, Amerika Serikat disebut berkomitmen untuk tidak melakukan intervensi terhadap urusan dalam negeri Iran serta menghormati kedaulatan negara tersebut.

Dalam bidang keamanan, draf kesepakatan juga memuat rencana pencabutan total blokade angkatan laut Amerika Serikat dalam waktu 30 hari setelah perjanjian ditandatangani.

Kesepakatan tersebut juga mengatur penarikan pasukan Amerika Serikat dari wilayah-wilayah yang berada di sekitar Iran sebagai bagian dari upaya menurunkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Salah satu poin yang mendapat perhatian luas adalah rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari berdasarkan aturan yang disepakati Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu utama distribusi minyak dunia dari kawasan Teluk menuju pasar internasional. Pembukaan kembali jalur tersebut diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap stabilitas pasokan energi global.

Di sektor ekonomi, draf kesepakatan memuat penangguhan sanksi terhadap penjualan minyak dan produk petrokimia Iran serta pemulihan akses Teheran terhadap sumber daya keuangan yang selama ini dibatasi.

Tidak hanya itu, Amerika Serikat dan sekutunya juga disebut akan menyiapkan rencana rekonstruksi ekonomi bernilai sedikitnya US$300 miliar atau setara lebih dari Rp4.800 triliun untuk mendukung pemulihan ekonomi Iran.

Kesepakatan juga mencakup periode negosiasi lanjutan selama 60 hari guna mencapai perjanjian final mengenai isu nuklir, pencabutan sanksi, dan berbagai pembatasan internasional lainnya.

Dalam draf tersebut, Iran kembali menegaskan komitmennya terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan menyatakan tidak akan memproduksi senjata nuklir.

Sementara itu, Amerika Serikat berkomitmen untuk tidak menerapkan sanksi baru maupun mengerahkan pasukan tambahan selama proses negosiasi berlangsung.

Salah satu poin yang paling dinantikan Iran adalah pencairan dana negara yang selama ini dibekukan. Dalam draf perjanjian disebutkan bahwa dana Iran senilai US$24 miliar akan dicairkan selama masa negosiasi, dengan separuhnya tersedia sebelum pembicaraan lanjutan dimulai.

Untuk memastikan implementasi kesepakatan berjalan sesuai komitmen, kedua pihak juga sepakat membentuk mekanisme pengawasan khusus yang bertugas memantau pelaksanaan seluruh isi perjanjian.

Apabila kesepakatan final tercapai, perjanjian tersebut nantinya akan diratifikasi melalui resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai bentuk legitimasi internasional.

Menariknya, pembahasan terkait program rudal Iran maupun dukungan terhadap kelompok-kelompok perlawanan di kawasan tidak dimasukkan dalam agenda negosiasi akhir. Pembicaraan lanjutan akan difokuskan pada isu pengayaan uranium, material hasil pengayaan, pencabutan sanksi, serta rekonstruksi ekonomi.

Kesepakatan antara AS dan Iran langsung mendapat sambutan positif dari sejumlah negara yang selama ini berperan sebagai mediator.

Perdana Menteri Shehbaz Sharif menjadi salah satu pemimpin yang menyampaikan dukungannya terhadap tercapainya kesepakatan tersebut.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Qatar menilai kesepakatan tersebut sebagai langkah penting dalam menciptakan perdamaian jangka panjang dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Sambil menunggu penandatanganan resmi pada 19 Juni mendatang, kedua negara dijadwalkan kembali melanjutkan dialog guna menyempurnakan kerangka perjanjian yang akan menjadi dasar hubungan baru antara Washington dan Teheran setelah puluhan tahun diliputi ketegangan politik dan ekonomi.(*)

Tombol Google News

Tags:

Donald Trump Iran Amerika Serikat Selat Hormuz Dewan Keamanan PBB qatar Shehbaz Sharif Sanksi Iran Program Nuklir Iran Timur Tengah Diplomasi Internasional Minyak Dunia Rekonstruksi Ekonomi Berita Internasional Info Internasional