Bahan Bakar dari Jerami Dinilai Berpotensi Jadi Energi Alternatif di Indonesia

Jurnalis: Surya Irawan
Editor: Muhammad Faizin

11 Mar 2026 11:39

Thumbnail Bahan Bakar dari Jerami Dinilai Berpotensi Jadi Energi Alternatif di Indonesia
Anggota Komisi VI DPR dari Fraksii Partai Gerindra Mulyadi, Pembina BOBIBOS (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos) (Foto: Fraksi Gerindra)

KETIK, JAKARTA – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Mulyadi, menyoroti peluang pengembangan bahan bakar alternatif berbahan jerami sebagai sumber energi baru di Indonesia. Hal itu disampaikan di tengah meningkatnya harga minyak dunia akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz.

Ia menilai Indonesia perlu mulai membuka ruang lebih luas bagi pengembangan energi alternatif guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak impor.

Salah satu inovasi yang disorot adalah Bobibos, bahan bakar alternatif yang dikembangkan dari jerami oleh peneliti M. Ikhlas Thamrin bersama timnya. Produk tersebut merupakan hasil riset selama sekitar satu dekade dan diluncurkan pada November 2025 di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sebagai pembina pengembangan Bobibos, Mulyadi menyatakan bahwa bahan bakar tersebut pada prinsipnya siap dimanfaatkan sebagai energi alternatif bagi masyarakat. Namun pengembangannya masih menunggu dukungan kebijakan dari pemerintah, terutama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Baca Juga:
Cegah Penyelundupan BBM hingga Narkoba, Satpolairud Polres Situbondo Gencar Lakukan Patroli di Pelabuhan Tradisional

“Kami siap, yang kami butuhkan itu regulasi, investasi dan proteksi (RIP) karena ini alternatif, bukan pengganti, tidak mengganggu bisnis bahan bakar lainnya," kata Mulyadi di Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026. 

Ia menilai dukungan regulasi sangat penting agar inovasi energi tersebut dapat berkembang di dalam negeri. Tanpa perlindungan kebijakan, ia khawatir pengembangan bahan bakar alternatif tersebut akan sulit bertahan.

"Kalau tidak ada proteksi jadi RIP (mati) beneran (bisnis BOBIBOS ini)," ujarnya.

Menurut Mulyadi, hingga saat ini program transisi energi nasional masih memprioritaskan bahan baku tertentu seperti sawit, tebu, dan aren. Sementara bahan baku jerami belum masuk dalam kebijakan pengembangan energi alternatif.

Baca Juga:
Awak Mobil Tangki Fuel Terminal Jenu Tuban Mogok Kerja Dua Hari, Pertamina Patra Niaga Klaim Distribusi BBM Tetap Lancar

"Karena mandatory transisi energi hanya untuk bahan baku sawit, tebu dan aren, jerami belum diberi ruang dan kesempatan," ujar Mulyadi.

Ia juga menyinggung potensi besar jerami sebagai bahan baku energi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, luas lahan sawah nasional mencapai sekitar 11 juta hektare yang menghasilkan limbah jerami dalam jumlah besar setiap tahun.

"Jumlah sawah kita dari info Badan Pusat Statistik sekitar 11 juta hektar, jadi tanpa membuka lahan baru dan meningkatkan kesejahteraan petani juga. Bayangkan 1 hektar jerami bisa menghasilkan 2000 liter, misal ambil 5 juta hektar saja sudah 10 miliar liter," ujar Mulyadi.

Karena belum mendapat dukungan maksimal di dalam negeri, pengembangan Bobibos saat ini juga mulai diarahkan ke pasar luar negeri. Salah satu negara yang disebut telah memberikan persetujuan penggunaan adalah Timor Leste.

"Sedang persiapan Launching di Timor Leste, kami menunggu jadwal perdana Menteri dan Presiden, karena beliau-beliau akan meresmikan," pungkas Mulyadi. (*)

Baca Sebelumnya

Anggota DPRD Kota Malang I Made Riandiana Jatuh Cinta pada Toleransi di Malang

Baca Selanjutnya

Dukung Pekan Islami PT ACA, Bupati Malang Ikut Keliling Santuni Ribuan Anak Yatim Piatu di Bulan Ramadan

Tags:

Bobibos bahan bakar alternatif Mulyadi Gerindra BBM Ramah Lingkungan Bahan Bakar Setara RON 98 Kementerian ESDM Timor Leste Enam Manfaat BOBIBOS

Berita lainnya oleh Surya Irawan

Fahri Hamzah Ungkap Ritme dan Strategi Prabowo Tingkatkan Kinerja Kabinet

18 April 2026 21:35

Fahri Hamzah Ungkap Ritme dan Strategi Prabowo Tingkatkan Kinerja Kabinet

HKTI Diskusi dengan Kementan Soal Hasil Panen Kedelai

18 April 2026 20:06

HKTI Diskusi dengan Kementan Soal Hasil Panen Kedelai

Panen Perdana, Kwarnas Pilih Kedelai untuk Kurangi Ketergantungan Impor

18 April 2026 19:14

Panen Perdana, Kwarnas Pilih Kedelai untuk Kurangi Ketergantungan Impor

Tekan Biaya dan Tenaga Kerja, Rumah Modular ini Cocok untuk Huntara Pasca Bencana

17 April 2026 16:29

Tekan Biaya dan Tenaga Kerja, Rumah Modular ini Cocok untuk Huntara Pasca Bencana

MAKI Kembali Tagih Janji KPK Tahan Dua Tersangka Korupsi CSR BI

15 April 2026 15:11

MAKI Kembali Tagih Janji KPK Tahan Dua Tersangka Korupsi CSR BI

Ramadan 2026, BMI Salurkan Bantuan ke Ribuan Orang

14 April 2026 07:40

Ramadan 2026, BMI Salurkan Bantuan ke Ribuan Orang

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Mantan Kepala SMAN 1 Situbondo Dilantik Jadi Kepsek Garuda

Mantan Kepala SMAN 1 Situbondo Dilantik Jadi Kepsek Garuda