KETIK, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Nasaruddin Umar baru saja melaksanakan kunjungan kerja bersama sejumlah tokoh agama dunia di Assisi, Italia.
Sepulang dari pertemuan tersebut, ia mengaku mendapat banyak respons positif atas gagasan diplomasi keagamaan yang digagas Indonesia. Kunjungan itu juga membuka peluang kolaborasi dengan sejumlah negara serta perguruan tinggi di Italia dan Vatikan.
Menag mengatakan, sejumlah perwakilan negara menyampaikan ketertarikan untuk menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) dan Masjid Istiqlal. Di antaranya berasal dari Inggris, Australia, dan Pakistan.
“Mereka ingin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Istiqlal, terutama di Inggris, ya, kemarin Inggris, Australia, dan Pakistan,” ujar Menag setibanya di Tanah Air usai menjalani rangkaian kunjungan kerja ke Italia dan Vatikan, Kamis, 29 Oktober 2026.
Ketertarikan negara-negara tersebut menunjukkan bahwa pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman dan menjaga kehidupan beragama yang moderat semakin mendapat perhatian masyarakat internasional.
"Pokoknya Indonesia itu sekarang jadi model, ya, terutama moderasi beragama kita,” ungkapnya.
Selain peluang kerja sama antarlembaga, Menag menyebut dua perguruan tinggi di Italia dan Vatikan juga menyampaikan ketertarikan untuk membangun kolaborasi dengan Indonesia. Kedua institusi tersebut ingin mempelajari pengalaman Indonesia dalam menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
“Ada dua universitas di Italia dan Vatikan itu mengajak kita kerja sama,” katanya.
Salah satu perguruan tinggi tersebut adalah PISAI (Pontificio Istituto di Studi Arabi e d'Islamistica atau Institut Kepausan untuk Studi Arab dan Islam), lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Takhta Suci Vatikan.
Menag menilai kerja sama tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran bersama. Indonesia memiliki pengalaman dalam mengelola kemajemukan masyarakat, sementara Vatikan menyimpan kekayaan literatur dan tradisi keilmuan yang dapat menjadi sumber pembelajaran.
“Mereka berkepentingan untuk belajar ke Indonesia. Kita pun juga, saya kira, perlu belajar di Vatikan,” tuturnya.
Dalam kunjungan tersebut, Menag juga berkesempatan mengunjungi perpustakaan Vatikan. Ia mengaku menemukan banyak koleksi literatur Islam, termasuk sejumlah kitab yang jarang dijumpainya di Indonesia maupun negara-negara Timur Tengah.
Menurut Menag, pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya pertukaran pengetahuan dan dialog antartradisi keagamaan. (*)
