KETIK, PACITAN – Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andri Atmoko, mengatakan hujan yang mengguyur wilayah Kota 1001 Gua adalah hasil dari operasi modifikasi cuaca (OMC) di Jawa Timur.
Pasalnya, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim penghujan di wilayah baru akan dimulai pada akhir November 2026.
“Prediksinya BMKG itu kan kalau Pacitan dasarian tiga, sekitar 20-30 November. Tapi karena ada OMC, akhirnya hujan turun lebih cepat,” kata Erwin kepada Ketik.com, Kamis, 29 Oktober 2026.
Erwin menjelaskan, pelaksanaan OMC di wilayah Pacitan dimungkinkan setelah BMKG mengamati adanya bibit awan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui BPBD provinsi kemudian berkoordinasi dengan BPBD Pacitan untuk mempertimbangkan dampak operasi modifikasi cuaca terhadap wilayah Pacitan.
Baca Juga:
BNPB Catat Banjir di Sumut dan Aceh, Gempa M6,4 Guncang Kepulauan TanimbarSalah satu hal yang menjadi perhatian dalam koordinasi tersebut adalah kondisi petani tembakau dan petani garam.
Pasalnya, aktivitas produksi kedua kelompok tersebut berisiko terdampak oleh kondisi cuaca hujan.
"Kan petani garam, petani tembakau berharap jangan ada hujan dulu, itu yang jadi pertimbangan. Tapi ternyata petani tembakau di Pacitan sudah panen, jadinya bisa," ungkapnya.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan OMC di wilayah Jawa Timur selama dua hari, yakni Sabtu, 24 Oktober 2026 hingga Minggu, 25 Oktober 2026.
Baca Juga:
Mobilisasi Pemilih Pilkades Pacitan ke TPS Rawan, Rakhman Minta Disepakati Bersama CakadesOperasi tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.
Dalam kegiatan itu, pesawat Cessna Caravan yang dioperasikan BNPB menyemai 1.000 kilogram garam atau natrium klorida (NaCl) di udara.
Berdasarkan laporan BPBD Provinsi Jawa Timur, pesawat tersebut menjalankan satu sorti penerbangan dari Base Ops Lanudal Juanda.
Penyemaian berlangsung pada pukul 14.45 hingga 16.45 WIB di wilayah udara Probolinggo, Pasuruan, dan sekitarnya.
Kekeringan Masih Berlanjut
Meski hujan mulai turun, BPBD Pacitan belum menghentikan penanganan kekeringan.
Erwin mengatakan, hujan memang berpotensi mengurangi dampak kekeringan, tetapi kondisi sumber air di sejumlah wilayah belum tentu langsung pulih.
Ia menyebut, berdasarkan pengalaman pada awal musim penghujan sebelumnya, sejumlah desa masih mengalami keterbatasan sumber air meskipun hujan telah turun.
Bahkan, ada desa yang menghubungi BPBD karena khawatir distribusi air bersih dihentikan saat sumber air mereka belum tersedia.
“Di lapangan ada beberapa desa malah menelepon ke kami, takut kalau dropping airnya dihentikan, karena kondisi sumber air memang belum ada,” ujarnya.
Karena itu, distribusi air bersih masih dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak.
Menurut Erwin, penghentian bantuan tidak hanya bergantung pada batas waktu status tanggap darurat, tetapi juga mempertimbangkan kondisi riil di lapangan.
“Kalau memang sudah tidak diperlukan, ya kita sudah selesai. Kalau saat ini masih diperlukan, kami tetap melihat kondisi di lapangan,” katanya.
Hingga Kamis, 29 Oktober 2026, BPBD Pacitan masih melaksanakan dropping air bersih.
Berdasarkan data terbaru yang disampaikan Erwin, kekeringan masih terjadi di 88 desa dan 281 dusun di Kabupaten Pacitan.(*)