KETIK, JAKARTA – Belakangan ini, penggunaan artificial intelligence (AI) atau akal imitatif/kecerdasan buatan, semakin marak di berbagai kalangan masyarakat. Bahkan remaja dan anak-anak yang masuk kelompok Gen-Z dan Gen Alpha, juga semakin akrab dengan AI.
Termasuk dalam hal belajar atau menjawab PR atau tugas sekolah. Salah satu AI yang cukup marak digunakan adalah ChatGPT, produk AI buatan perusahaan teknologi asal AS, OpenAI.
Namun, pakar mengingatkan, penggunaan ChatGPT secara berlebihan berisiko mengurangi kesempatan anak melatih daya ingat dan kemampuan berpikir kritis. Karena itu, orang tua dan pendidik perlu mengawasi pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) tersebut, terutama pada anak usia sekolah dasar.
Guru Besar Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika IPB University, Prof. Yeni Herdiyeni, mengatakan ChatGPT memang memudahkan anak memperoleh informasi. Namun, kebiasaan menerima jawaban secara instan tanpa berusaha memahami persoalan dapat membuat kemampuan kognitif anak kurang terlatih.
“Teknologi ini memiliki dua sisi. Ada sisi positif dan negatifnya. Dari sisi positif, ChatGPT mempermudah kita mengeksplorasi pengetahuan. Namun, jika digunakan secara instan tanpa berpikir, otak anak tidak akan terlatih,” jelas perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Kecerdasan Buatan IPB University ini.
Baca Juga:
120 Potensi Konflik Keagamaan Berhasil Dicegah Berkat Inovasi Kemenag EWS Si-RukunMenurutnya, anak yang terus mengandalkan ChatGPT berpotensi kehilangan kesempatan untuk mengingat, menganalisis, dan menyusun jawaban secara mandiri.
“Kalau kita mencari sesuatu langsung pakai ChatGPT, informasi memang keluar dengan cepat, tapi setelah itu bisa lupa. Otak tidak terlatih untuk mengingat dan menganalisis,” ujarnya.
Yeni menilai orang dewasa relatif lebih siap menggunakan teknologi tersebut karena telah memiliki kemampuan untuk memeriksa informasi. Sementara itu, anak usia dini, termasuk siswa sekolah dasar, masih membutuhkan pengawasan.
“Kalau usia dini, seperti anak SD, sebaiknya penggunaan ChatGPT harus dalam pengawasan," ujarnya.
Baca Juga:
Keren! Alumni Unikama Ungkap Strategi Jitu Integrasi AI untuk Inovasi Sekolah di PasuruanIa juga mengingatkan bahwa anak-anak masih membutuhkan stimulasi untuk mengembangkan kemampuan motorik dan kognitif. Penggunaan teknologi yang menggantikan terlalu banyak aktivitas belajar berisiko mengurangi kesempatan anak mengembangkan kemampuan tersebut.
“Anak-anak masih butuh pengembangan motorik dan kognitif. Kalau kemampuan itu tergantikan oleh ChatGPT, otak mereka tidak berkembang optimal,” katanya menegaskan.
Yeni menyarankan orang tua dan guru tetap mengajarkan anak memahami materi serta mencari jawaban sendiri. ChatGPT dapat membantu proses belajar, tetapi tidak boleh mengambil alih seluruh aktivitas berpikir.
“Kalau ada tugas sekolah, sebaiknya tetap ajari anak berpikir dan mencari jawaban sendiri. ChatGPT bisa dipakai untuk membantu, tapi bukan untuk menggantikan proses belajar,” katanya.
Selain pengawasan terhadap penggunaan ChatGPT, anak juga perlu memahami bahwa jawaban AI tidak selalu benar karena teknologi tersebut dapat menghasilkan informasi bias dan halusinasi. Di sisi pendidikan, penguatan kemampuan berpikir komputasional juga dinilai penting agar anak mampu menghadapi perkembangan AI secara kritis. (*)