KETIK, JEMBER – Upaya membangun budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan terus diperkuat melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Kali ini, SMAN Rambipuji, Kabupaten Jember, mendapat kesempatan menjadi lokasi pelaksanaan program yang disambut antusias oleh seluruh warga sekolah.
Dari 22 SMA dan SMK negeri di Kabupaten Jember, SMAN Rambipuji menjadi satu-satunya sekolah yang terpilih mengikuti program SPAB tahun ini.
Kesempatan tersebut diharapkan menjadi pemicu tumbuhnya kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis, 4-5 Nopember 2026, di sekolah yang berlokasi di Jalan Durian Nomor 30, Desa Pecoro, Kecamatan Rambipuji, itu melibatkan sekitar 100 peserta.
Mereka terdiri atas siswa, guru, tenaga kependidikan, komite sekolah hingga petugas keamanan. Kepala SMAN Rambipuji, Siti Mukhayatin, mengaku bersyukur sekolahnya mendapat kepercayaan menjadi lokasi pelaksanaan SPAB.
Baca Juga:
Siapkan Pesantren Tangguh Bencana, Kolaborasi SRPB Jatim dan Yayasan Resilien Indonesia Cetak Fasilitator RelawanMenurutnya, kegiatan tersebut memberikan tambahan pengetahuan sekaligus motivasi bagi seluruh warga sekolah untuk lebih siap menghadapi ancaman bencana.
"Terlebih, wilayah Rambipuji memiliki sejumlah potensi bencana, mulai dari gempa bumi hingga cuaca ekstrem. Karena itu, pembekalan selama dua hari dinilai penting agar warga sekolah mampu melakukan langkah antisipasi ketika terjadi keadaan darurat," kata Siti.
Dalam pelaksanaannya, tiga fasilitator dari Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur, yakni Dian Harmuningsih, Andreas Eko Muljanto, dan Rizki Daniarto, memberikan pendampingan kepada peserta.
Baca Juga:
Sengit Kongres IV SRPB Jatim, Asruri Terpilih Jadi Koordinator 2026–2029Materi kegiatan antara lain penyusunan dokumen kajian risiko bencana serta simulasi penanganan bencana. Melalui pembekalan tersebut, sekolah diharapkan mampu mengenali potensi ancaman, memetakan risiko, dan menentukan langkah penyelamatan yang tepat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, mengatakan daerahnya menghadapi tantangan kebencanaan yang cukup beragam.
"Selama enam bulan terakhir, Jember mengalami kekeringan sebelum memasuki periode ancaman bencana hidrometeorologi," sebutnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada BPBD Jawa Timur yang telah membantu penanganan kekeringan dengan menyalurkan sekitar satu juta liter air bersih kepada masyarakat terdampak.
Menurut Edy, Kecamatan Rambipuji termasuk wilayah yang memiliki kerawanan banjir karena dilalui aliran sungai dari kawasan hulu menuju hilir. "Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah," ucapnya.
Ia menyambut baik terpilihnya SMAN Rambipuji sebagai lokasi SPAB. Kepercayaan tersebut diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi sekolah untuk membangun sistem kesiapsiagaan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Jawa Timur, Andhika Nurrahmad Sudigda, menegaskan bahwa pengetahuan kebencanaan perlu terus disebarluaskan kepada masyarakat, termasuk melalui lingkungan pendidikan.
Menurutnya, manfaat SPAB tidak hanya dirasakan oleh peserta kegiatan. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan untuk melindungi diri sendiri sekaligus diteruskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Deni Prasetya, yang membuka kegiatan tersebut, menyebut kondisi geografis Jember menjadi salah satu faktor yang menyebabkan wilayah ini memiliki potensi bencana cukup tinggi.
"Karena itu, penanganan bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah," katanya.
Ia menekankan pentingnya kepedulian dan keterlibatan seluruh elemen, baik pemerintah eksekutif, legislatif maupun masyarakat.
Melalui SPAB di SMAN Rambipuji, diharapkan lahir lingkungan pendidikan yang lebih tangguh, memiliki pemahaman risiko, serta mampu melakukan tindakan cepat dan tepat ketika bencana terjadi. (*)