KETIK, SURABAYA – DPRD Jawa Timur menggelar pagelaran wayang kulit untuk memeriahkan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, Kamis malam, 29 Oktober 2026. Mengangkat lakon Wahyu Ciptasara, pertunjukan ini menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya tradisional sekaligus menghadirkan hiburan bagi masyarakat.
Pagelaran yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube JTV Rek. Dalang Ki Arif Sarjono memimpin pementasan, yang semakin meriah dengan penampilan Cak Percil dan kawan-kawan, Abah Kirun, serta Guyon Maton.
Sejumlah pimpinan dan anggota DPRD Jawa Timur menghadiri acara tersebut. Di antaranya Ketua DPRD Jatim M. Musyafak Rouf, Wakil Ketua IV Sri Wahyuni, Ketua Komisi E Sri Untari, Ketua Fraksi PKS Lilik Hendarwati, dan anggota DPRD Jatim Rasiyo.
Ketua Komisi E DPRD Jatim Sri Untari mengatakan, kondisi Jawa Timur yang relatif aman, tenteram, dan kondusif patut disyukuri bersama. Menurut dia, situasi tersebut perlu dijaga melalui kepemimpinan yang mampu mengayomi masyarakat serta membangun sinergi antara eksekutif dan legislatif.
"Hubungan kerja yang harmonis antara pemerintah provinsi di Gedung Negara Grahadi dan lembaga legislatif di Gedung DPRD Jatim, Indrapura, menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan daerah," ujar Sri Untari.
Sri Untari juga menyoroti pesan kehidupan dalam lakon Wahyu Ciptasara. Menurut dia, kisah pewayangan tersebut menghadirkan gambaran tentang perjuangan, pertarungan, serta dinamika kemenangan dan kekalahan sebagai bagian dari perjalanan kehidupan.
Bagi Sri Untari, wayang kulit tidak sekadar menjadi tontonan yang menghibur. Kesenian ini juga menyampaikan tuntunan melalui nilai moral, kebijaksanaan, dan pelajaran hidup yang tetap relevan bagi masyarakat saat ini.
Sebelum acara dimul ada pembagian 1000 paket sembako, kepada perwakilan warga yang kurang mampu. (Foto : Sutejo Rc/ketik.com)
Ia berharap pagelaran tersebut dapat menarik minat generasi muda untuk mengenal dan mencintai kesenian tradisional Indonesia. Dengan demikian, warisan budaya leluhur tidak hanya bertahan, tetapi juga terus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Jatim M. Musyafak Rouf menegaskan bahwa pagelaran wayang kulit merupakan bentuk kepedulian lembaganya terhadap pelestarian kebudayaan daerah.
Menurut Musyafak, DPRD tidak hanya menjalankan fungsi kelembagaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kekayaan budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Jawa Timur. Karena itu, kesenian tradisional perlu terus mendapat ruang agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Ia menambahkan, pagelaran tersebut sekaligus menjadi sarana hiburan bagi masyarakat. Kehadiran Abah Kirun, Cak Percil dan kawan-kawan, serta Guyon Maton menghadirkan nuansa humor yang membuat acara lebih meriah dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Musyafak berharap perpaduan seni pewayangan dan lawakan tradisional dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap budaya daerah. Pendekatan yang menggabungkan unsur hiburan dan pesan moral dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kesenian tradisional tetap diminati di tengah perkembangan hiburan modern.
Pagelaran ini juga menegaskan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam pelestarian budaya, mulai dari pemerintah, lembaga legislatif, seniman, komunitas budaya, hingga masyarakat. Dukungan dan kolaborasi tersebut dibutuhkan agar kesenian tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti perubahan zaman.
Melalui pagelaran lakon Wahyu Ciptasara, DPRD Jatim turut menjadikan peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur sebagai momentum untuk memperkuat identitas budaya dan kebersamaan. Selain menikmati pertunjukan, masyarakat diharapkan dapat memetik pesan moral pewayangan sebagai tuntunan dalam kehidupan sehari-hari. (*)
