KETIK, MALANG – Media sosial dihebohkan dengan pengakuan seorang siswi SMKN 4 Malang yang diduga mengalami pelecehan verbal dari seorang guru. Saat ini, oknum guru tersebut telah diperiksa oleh Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Wilayah Kota Malang dan Kota Batu.
"Menjadi tugas dan tanggung jawab cabang dinas wilayah. Sudah dilakukan pemanggilan dan dilakukan pemeriksaan," ujar Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur, Aries Agung Paewai, pada Rabu, 4 November 2026.
Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala SMKN 4 Kota Malang, Gunawan Dwiyono, yang menyayangkan tindakan oknum guru tersebut. Lontaran kata-kata tak pantas kepada siswa perempuan itu terjadi pada kegiatan di lapangan sekolah pada Jumat, 13 Oktober 2026.
"Memang gurunya ngomong seperti itu (pelecehan verbal), niatnya bercanda tapi memang gak benar, itu salah dan keliru kalau ngomong seperti itu di hadapan siswa," ujar Gunawan.
Ia menyesalkan tindakan guru yang bertugas sebagai Koordinator Tata Tertib sekolah tersebut. Saat ini, pihak sekolah telah menonaktifkan oknum guru itu dari jabatannya.
Baca Juga:
Viral Guru Diduga Buka Jilbab Siswi SMKN 4 Malang, Kepala Sekolah Angkat Bicara"Guru itu sekarang tidak diperkenankan menangani tata tertib, terutama ketika pembinaan di depan umum (siswa). Sanksinya kita menonaktifkan di jabatan Koordinator Tatib," katanya.
Diduga, guru tersebut melontarkan pelecehan verbal kepada siswi yang mengenakan seragam ketat. Berdasarkan informasi yang beredar di akun Instagram @moodpendidikan.co, seorang siswa mengatakan bahwa oknum guru tersebut berbicara di depan semua murid di lapangan.
“Guru tersebut bilang, siswi tolong kalau pakai seragam itu double karena ngecap. Kamu kira guru itu tidak suka liatnya? Suka rek, tapi ini di sekolah,” tulis aduan siswa yang viral tersebut.
Kalimat bernada seksis berdalih candaan inilah yang memicu kemarahan para siswa dan warganet. Menanggapi kronologi tersebut, Gunawan membenarkan bahwa kalimat tak pantas itu memang diucapkan kepada siswi di sekolah.
Baca Juga:
Santiaji Pancasila II UM Soroti Ancaman Kemunduran Demokrasi, Inayah Wahid Ikut Angkat Suara"Anak-anak itu kalau berpakaian sering gak pas (ketat, dll). Terus guru-guru perempuan gak berani ngomong. Seharusnya keliru, harusnya guru perempuan yang ngomong. Akhirnya menyuruh guru tersebut untuk mengingatkan anak-anak karena sebagai koordinator. Maksudnya pendekatan persuasif tapi ngomongnya kok ditambahi seperti itu," kata Gunawan. (*)