KETIK, CILACAP – Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP Kabupaten Cilacap mencatat visualisasi data layanan penyelamatan non-kebakaran masih mendominasi sepanjang Januari hingga 31 Agustus 2026. Meski demikian, sebanyak 87 kasus kebakaran tetap terjadi dengan total kerugian material ditaksir mencapai sekitar Rp2,9 miliar.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Cilacap, Gatot Arif Widodo, mengatakan berdasarkan data Damkar Cilacap, dari 87 peristiwa kebakaran yang terjadi selama delapan bulan pertama 2026, sebanyak 54 kasus terjadi di kawasan permukiman, 22 kasus di lingkup usaha, serta masing-masing 7 kejadian di lahan dan 4 kategori lainnya.
Gatot menjelaskan, penyebab kebakaran masih didominasi faktor yang sebenarnya dapat dicegah. Dari total kejadian, 36 kasus dipicu korsleting listrik, 42 kasus akibat kelalaian manusia atau human error, serta 5 kasus disebabkan tungku maupun kebocoran gas LPG dan 3 kasus dari rokok/korek api.
"Jadi mayoritas kebakaran sebenarnya berawal dari kelalaian maupun instalasi listrik yang bermasalah. Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar rutin memeriksa instalasi listrik dan tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan," ujar Gatot, 1 September 2026.
Damkar Cilacap kini tidak hanya berfokus pada penanganan kebakaran, tetapi juga berbagai operasi penyelamatan yang terus meningkat setiap tahunnya. Layanan penyelamatan non-kebakaran justru menjadi aktivitas yang paling banyak ditangani Damkar Cilacap.
"Selama periode Januari hingga Agustus 2026, petugas melakukan 592 operasi penyelamatan, terdiri atas 417 evakuasi sarang tawon, 91 evakuasi ular, 75 pelepasan cincin, serta 8 penanganan hewan liar.
Selain penanganan di lapangan, Damkar Cilacap juga terus mengintensifkan upaya pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat. Hingga akhir Juli 2026, tercatat 207 kegiatan sosialisasi telah dilaksanakan dengan melibatkan 13.458 peserta, disertai 14 inspeksi sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung.
"Akibat dampak kebakaran menyebabkan 73 bangunan mengalami kerusakan, tidak menimbulkan korban jiwa, dan 1 orang dilaporkan mengalami luka-luka, sedangkan itu, total kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp2,9 miliar," ungkap Gatot.
Ia menghimbau masyarakat di musim kemarau ini potensi kebakaran meningkat, oleh sebab itu masyarakat harus lebih waspada dan berhati-hati dalam menggunakan listrik, kompor, maupun sumber api lainnya, terutama di kawasan permukiman padat yang berisiko tinggi mengalami perambatan api.
"Harapan kami segera lapor cepat jika ada kejadian maka akan kami tangani dengan cepat, jangan sampai kita mendapatkan laporan yang terlambat karena sangat beresiko dengan kerugian yang lebih besar hingga keselamatan jiwa terancam," pungkas Gatot. (*)
