KETIK, BREBES – Ratusan massa mendatangi sebuah warung yang diduga menjual obat-obatan terlarang di Kelurahan Pasarbatang Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes, pada Rabu malam, 15 April 2026. Aksi penggerebekan ini dipicu oleh keresahan warga terhadap maraknya peredaran obat keras di lingkungan mereka.
Warga biasa menyebut warung penjual obat-obatan terlarang itu dengan istilah "Warung Aceh",- istilah yang tidak ada hubungannya dengan provinsi dan masyarakat Aceh di Sumatera.
Namun, aksi massa tersebut diduga telah bocor. Sehingga saat warga tiba di lokasi, para pelaku sudah tidak ada di tempat. Meski para pengedar berhasil melarikan diri, sejumlah barang bukti masih ditemukan tertinggal di dalam bangunan tersebut.
Warga bahkan sempat merangsek masuk sebuah bangunan dibelakangnya yang diduga sebagai tempat kosnya namun dapat dicegah sejumlah petugas keamanan.
Baca Juga:
8 Kasus Narkoba Ungkap Polres Tegal Kota, 9 Pengedar DiamankanKekesalan warga memuncak karena tidak berhasil menangkap para pelaku. Sebagai bentuk protes, warga merusak lapak yang diduga kuat menjadi tempat transaksi tersebut. Tak hanya itu, bangunan itu kemudian dibongkar dan diceburkan ke kali yang berada tepat di depan lokasi kejadian.
Menurut penuturan beberapa warga, aktivitas transaksi di warung tersebut sudah sering terlihat. Warga bahkan sebelumnya sempat mencoba menegur secara baik-baik, namun para pengedar justru bersikap arogan.
"Warga sudah pernah menegur, tapi mereka malah lebih galak. Bahkan ada warga yang diancam menggunakan senjata tajam saat mencoba mengingatkan," ujar salah satu warga di lokasi.
Di tempat yang sama, Asrofi, tokoh masyarakat setempat menyatakan kegeramannya atas keberadaan warung tersebut yang dinilai merusak moral pemuda di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa aksi massa ini merupakan puncak dari kesabaran warga.
Baca Juga:
Sempat Dihadang Warga, Penggerebekan Kampung Narkoba di Palembang Sita Ganja dan Tangkap Lima Terduga PelakuMereka juga menilai kemarahan warga lantaran transaksi berlangsung terbuka. Ia menyoroti banyaknya pembeli dari kalangan remaja yang masih berstatus pelajar, Iapun menegaskan aksi masa sudah koordinasi ke pihak pemerintahan dan para penegak hukum.
“Kami sudah geram, peredaran ini merusak generasi muda kami, kami melihat langsung peredarannya. Seolah tidak ada penindakan,” kata Asrofi.
Meteka juga menduga informasi penggerebekan telah lebih dulu diketahui oleh pihak penjual. Meski demikian warga menyatakan akan terus memantau dan tidak menutup kemungkinan melakukan aksi serupa jika aktivitas tersebut kembali terjadi.
Aksi massa tersebut berlangsung dengan pengawalan ketat dari sejumlah Aparat Penegak Hukum (APH) untuk mencegah kericuhan lebih lanjut. Situasi mulai kondusif setelah lapak berhasil diratakan, namun warga meminta aparat untuk terus memantau agar praktik serupa tidak kembali muncul di kemudian hari. (*)