KETIK, BONDOWOSO – Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Bondowoso tidak sekadar diperingati sebagai agenda seremonial tahunan. Momentum ini dimaknai sebagai titik kebangkitan untuk menggerakkan kembali aksi sosial organisasi di tengah masyarakat.
Kegiatan yang digelar Pengurus Cabang Ikatan Alumni PMII (PC IKA PMII) Bondowoso di Aula SD Alifya, Jalan Pelita-Tamansari, Jumat, 17 April 2026 malam, menjadi ruang silaturahmi sekaligus konsolidasi gagasan antara para alumni dan kader aktif PMII.
Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan tawassul dan tahlil yang dipanjatkan untuk para pendiri PMII, para muassis Nahdlatul Ulama, serta tokoh-tokoh yang telah berjasa bagi perjalanan organisasi.
Nuansa religius semakin terasa saat seluruh peserta mengikuti pembacaan Sholawat Qiyam atau Mahalul Qiyam dengan berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga:
Dari Data ke Aksi: Bondowoso Matangkan Strategi Tekan KemiskinanDalam forum tersebut, pengurus IKA PMII Bondowoso menekankan pentingnya menjaga kekuatan internal organisasi agar mampu melahirkan gerakan sosial yang lebih nyata dan berdampak.
Mewakili Ketua PC IKA PMII Bondowoso, Abdul Mufid menegaskan bahwa kekompakan antaranggota merupakan faktor penting untuk menjaga keberlangsungan organisasi sekaligus memperluas peran sosial PMII di tengah masyarakat.
Ia mengajak seluruh kader dan alumni untuk terus merawat kebersamaan serta memberikan dukungan kepada kader yang saat ini masih aktif menjalani proses kaderisasi.
“Kita harus tetap solid. Sebagai kader dan senior PMII, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk mengayomi sahabat-sahabat yang masih aktif berproses di PMII,” ujarnya.
Baca Juga:
PC PMII Bondowoso Tolak Revisi UU TNI karena Disinyalir Bangkitkan Dwifungsi MiliterMenurutnya, sinergi antara alumni dan kader aktif merupakan kekuatan besar yang dapat menjaga eksistensi organisasi sekaligus menjawab berbagai dinamika sosial yang terus berkembang.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum PW IKA PMII Jawa Timur, Moh. Syaeful Bahar, menyoroti pentingnya menghidupkan kembali salah satu program sosial yang pernah menjadi ciri khas gerakan PMII di Bondowoso, yakni Saber Masjid.
Ia menjelaskan bahwa program tersebut dahulu rutin dilakukan oleh para kader dan alumni PMII dengan turun langsung membersihkan masjid di berbagai wilayah.
“Dulu kegiatan Saber Masjid sangat aktif dilakukan oleh teman-teman IKA PMII Bondowoso. Kami bersama-sama membersihkan masjid-masjid di banyak tempat. Kegiatan ini bukan sekadar menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membersihkan hati,” ungkapnya.
Namun, menurutnya, program tersebut kini sudah lama tidak berjalan. Karena itu, momentum Harlah ke-66 PMII dinilai tepat untuk menghidupkan kembali gerakan tersebut.
“Saber Masjid adalah gerakan sederhana, tetapi manfaatnya besar. Selain membuat masjid lebih bersih dan nyaman, kegiatan ini juga menjadi sarana refleksi diri bagi para relawan,” tegasnya.
Ia menilai, kebangkitan kembali program tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat kembali gerakan sosial IKA PMII di Bondowoso, sehingga organisasi tidak hanya aktif dalam diskursus intelektual, tetapi juga hadir langsung memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui momentum Harlah ke-66 ini, PMII Bondowoso diharapkan mampu mempertegas perannya sebagai organisasi kader yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga aktif bergerak menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.(*)