Korban Cyberbullying Bisa Alami Trauma hingga Menarik Diri dari Lingkungan Sosial

1 Juli 2026 02:30 1 Jul 2026 02:30

Thumbnail Korban Cyberbullying Bisa Alami Trauma hingga Menarik Diri dari Lingkungan Sosial

Nomor hotline Indonesia Sehat Jiwa yang dapat diakses oleh masyarakat yang membutuhkan layanan dan pendampingan psikologis (Foto : Indonesia Sehat Jiwa)

KETIK, BOGOR – Perundungan di media sosial tidak hanya meninggalkan luka emosional sesaat, tetapi juga dapat berdampak panjang terhadap kondisi psikologis korban. Risiko tersebut dinilai semakin besar apabila korbannya berasal dari kelompok rentan, seperti lansia.

Hal ini terkait insiden seorang perempuan tua yang akrab disapa, yang beberapa waktu lalu menjadi bahan hujatan sejumlah warganet iseng. Perempuan yang akrab disapa Oma itu dihina terkait kondisi fisik dan usianya. 

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Yusuf Ryadi, MKM, menjelaskan bahwa hujatan yang muncul secara masif di ruang digital dapat memicu stres, kecemasan, hilangnya rasa percaya diri, hingga membuat korban takut kembali tampil di depan publik.

“Pada lansia, dampaknya bisa lebih berat karena mereka lebih rentan secara emosional dan tidak terbiasa menghadapi tekanan sosial di ruang digital. Dalam jangka panjang, pengalaman negatif yang terjadi terus-menerus ini dapat meninggalkan luka psikologis berupa trauma, rasa malu, atau menarik diri dari lingkungan sosial,” imbuh dr Yusuf.

Menurutnya, dampak psikologis tersebut tidak boleh dianggap remeh karena dapat memengaruhi kualitas hidup korban dalam jangka panjang.

Sementara itu, dari sisi pelaku, fenomena cyberbullying juga menunjukkan adanya persoalan perkembangan psikologis. Remaja yang belum memiliki kontrol emosi dan kemampuan mengendalikan diri secara matang lebih mudah menuliskan komentar kasar, terlebih ketika merasa terlindungi oleh anonimitas media sosial.

“Anak yang terbiasa melakukan bullying berisiko tumbuh dengan pola komunikasi kasar, sulit membangun hubungan sehat, dan bahkan bisa mengalami masalah psikologis seperti kecemasan sosial atau kesulitan beradaptasi di dunia nyata,” ujarnya.

dr Yusuf menilai fenomena tersebut menjadi indikator adanya kesenjangan antara pesatnya perkembangan teknologi dengan kesiapan budaya masyarakat dalam menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.

“Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara perkembangan teknologi dengan kesiapan budaya dan psikologis masyarakat kita. Bullying di media sosial adalah suatu bentuk kekerasan verbal yang nyata dan berdampak serius bagi masyarakat. Fenomena ini harus dipahami sebagai isu serius yang menuntut perhatian kolektif dan perlu kita hadapi bersama,” tegasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia mendorong penguatan literasi digital yang menitikberatkan pada etika komunikasi dan pengembangan empati sejak usia dini.

Selain itu, platform digital, institusi pendidikan, keluarga, dan masyarakat perlu bekerja sama membangun budaya yang menolak perundungan melalui moderasi konten, kampanye edukasi, serta dukungan kepada korban.

“Dengan pendekatan kolektif ini, fenomena hujatan di media sosial akan dianggap sebagai isu bersama yang menuntut solidaritas sosial dan regulasi yang tegas,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Cyberbullying Bullying Media Sosial remaja IPB University Dampak Cyberbullying Trauma Psikologis lansia