Produksi Jahe Nasional Turun: Pasokan Terancam, Ketergantungan Impor Berpotensi Meningkat

15 Juli 2026 18:20 15 Jul 2026 18:20

Thumbnail Produksi Jahe Nasional Turun: Pasokan Terancam, Ketergantungan Impor Berpotensi Meningkat

Jahe sejak dulu dipercaya bisa mengobati flu. (Foto: Pexels)

KETIK, BOGOR – Produksi jahe nasional mengalami penurunan pada 2025. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan komoditas rempah strategis tersebut, sekaligus membuka peluang meningkatnya ketergantungan Indonesia terhadap impor apabila tidak segera diantisipasi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi jahe nasional turun dari 190,26 ribu ton pada 2024 menjadi 168,97 ribu ton pada 2025. Pada periode yang sama, luas panen juga menyusut dari 7,49 ribu hektare menjadi 6,51 ribu hektare.

Dosen Departemen Agribisnis IPB University, Dr Anisa Dwi Utami, menilai penurunan tersebut mencerminkan tekanan yang terjadi pada sisi penawaran komoditas jahe di dalam negeri.

Menurutnya, ketika produksi menurun sementara kebutuhan masyarakat dan industri tetap tinggi, bahkan terus meningkat, keseimbangan pasar akan terganggu. Dampaknya tidak hanya berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen, tetapi juga memperbesar kebutuhan pasokan dari luar negeri.

“Jahe merupakan komoditas hortikultura strategis yang berperan sebagai bahan pangan, rempah, hingga bahan baku industri obat tradisional dan minuman herbal. Karena itu, penurunan produksi perlu menjadi perhatian bersama,” ujar Dr Anisa, dalam keterengan tertulisnya, Rabu, 15 Juli 2026. 

Ia menjelaskan, jahe memiliki posisi penting dalam rantai pangan nasional karena digunakan oleh rumah tangga, industri makanan, minuman, hingga sektor farmasi. Ketika produksi dalam negeri melemah, seluruh mata rantai tersebut berpotensi merasakan dampaknya.

Selain mengganggu stabilitas pasokan, penurunan produksi juga dapat memengaruhi kepastian bahan baku bagi pelaku industri yang membutuhkan suplai dalam jumlah besar dan berkesinambungan.

Dr Anisa menambahkan, persoalan impor jahe sebenarnya tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya produksi nasional. Indonesia masih menghadapi tantangan berupa ketidaksesuaian waktu panen dengan kebutuhan pasar sepanjang tahun, standar kualitas tertentu yang dibutuhkan industri, serta kontinuitas pasokan yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Akibatnya, impor masih menjadi salah satu pilihan untuk menutup kekurangan pasokan ketika produksi domestik tidak mampu memenuhi kebutuhan secara konsisten.

Dalam jangka panjang, menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar meningkatkan hasil panen, tetapi juga membangun sistem agribisnis jahe yang lebih efisien. Penguatan kelembagaan petani, pembentukan kawasan sentra produksi, hingga kemitraan dengan industri dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan impor.

Dengan sistem produksi yang lebih terorganisasi, petani diharapkan memperoleh akses lebih baik terhadap benih unggul, teknologi, pembiayaan, dan kepastian pasar sehingga produksi jahe nasional dapat tumbuh secara berkelanjutan. (*)

Tombol Google News

Tags:

Produksi Jahe Nasional Produksi Jahe Turun Impor Jahe Pasokan Jahe Jahe Nasional BPS IPB University