Waspada Virus Nipah: Fatalitas Tinggi, Pakar UGM Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini dan Kesiapan Sistem Kesehatan

Editor: Muhammad Faizin

14 Feb 2026 05:40

Thumbnail Waspada Virus Nipah: Fatalitas Tinggi, Pakar UGM Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini dan Kesiapan Sistem Kesehatan
Ilustrasi virus Nipah yang diduga dibawa kelelawar. Foto: Kemenkes

KETIK, YOGYAKARTA – Meningkatnya perhatian dunia terhadap penyebaran virus Nipah kembali memicu kewaspadaan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penyakit zoonosis dengan tingkat kematian tinggi ini dikenal berbahaya karena mampu menyerang sistem saraf dan memicu komplikasi serius hingga kematian. Meski Indonesia belum melaporkan kasus pada manusia, kesamaan kondisi ekologis dengan negara terdampak membuat langkah antisipatif tetap diperlukan. Edukasi berbasis medis pun menjadi kunci agar masyarakat memahami risiko secara rasional dan tidak panik.

Dosen Departemen Mikrobiologi FK-KMK UGM sekaligus Dokter Spesialis Mikrobiologi RSA UGM, dr. M. Edwin Widyanto Daniwijaya, Ph.D., Sp.MK, menjelaskan bahwa tingkat kematian akibat virus Nipah sangat bergantung pada kesiapan fasilitas kesehatan dan kecepatan penanganan pasien. Dalam sejumlah wabah, jumlah kematian tercatat sangat tinggi dibandingkan total kasus yang teridentifikasi.

“Case fatality rate virus Nipah diperkirakan berkisar antara 40 hingga 75 persen, bergantung pada sistem kesehatan dan penanganan klinis,” ungkap Edwin seperti dikutip dari laman resmi UGM, Jumat, 13 Februari 2026. 

Virus Nipah tidak hanya mematikan, tetapi juga agresif. Virus ini dapat menyerang sistem saraf pusat dan memicu ensefalitis atau peradangan otak yang berat. Pasien dapat mengalami penurunan kesadaran dan kejang dalam waktu singkat akibat kerusakan neurologis yang progresif. “Virus ini bisa menyerang otak dan memicu penurunan kesadaran, kejang, hingga kematian dalam waktu relatif singkat,” Edwin berujar.

Baca Juga:
WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

Pada tahap awal, infeksi virus Nipah sering kali sulit dikenali karena gejalanya menyerupai infeksi virus biasa. Kondisi ini membuat diagnosis kerap terlambat sehingga meningkatkan risiko perburukan. “Pasien biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan nyeri tenggorokan,” ia berkata.

Dalam beberapa hari, kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat. Gangguan saraf seperti disorientasi, penurunan kesadaran, dan kejang menjadi tanda infeksi telah melibatkan otak. Pada sebagian kasus, gangguan pernapasan juga muncul dan memperberat kondisi klinis. Edwin menegaskan bahwa kecepatan perburukan inilah yang menjadi tantangan utama tenaga medis. “Perjalanan penyakitnya bisa cepat memburuk, sehingga kewaspadaan sejak fase awal sangat penting,” tutur Edwin.

Terkait potensi kemunculan virus Nipah di Indonesia, Edwin memastikan hingga kini belum ada laporan kasus pada manusia. Namun, risiko tetap perlu diwaspadai mengingat Indonesia berada di kawasan dengan karakteristik ekologi serupa dengan wilayah endemis di Asia Tenggara. Keberadaan reservoir alami virus serta laporan wabah di negara tetangga meningkatkan potensi penularan lintas wilayah. “Potensi spillover tetap ada meski risikonya saat ini masih dinilai rendah,” Edwin menjelaskan.

Jika ditemukan pasien dengan gejala yang mengarah pada infeksi virus Nipah, rumah sakit rujukan akan langsung menerapkan protokol penyakit infeksi emerging. Tenaga medis akan mengidentifikasi riwayat perjalanan dan paparan pasien, melakukan isolasi ketat, serta menerapkan standar kewaspadaan transmisi. Pemeriksaan laboratorium molekuler dan terapi suportif intensif menjadi bagian dari penanganan awal. “Penanganan awal mencakup isolasi, pelaporan cepat, pemeriksaan laboratorium molekuler, serta terapi suportif intensif,” katanya.

Baca Juga:
Dampak Gempa M 7,6 di Bitung! Seorang Warga Meninggal di Reruntuhan, Tsunami Terjadi di Bawah 1 Meter

Edwin menambahkan bahwa Indonesia telah memiliki sistem surveilans untuk penyakit infeksi emerging serta jaringan rumah sakit rujukan di berbagai daerah. Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 dan flu burung turut memperkuat kesiapan nasional. Meski demikian, peningkatan kapasitas ruang isolasi dan sumber daya manusia di sejumlah wilayah masih perlu diperkuat.

Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan langkah pencegahan dasar. “Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dengan menerapkan langkah pencegahan sederhana,” pesan Edwin.

Baca Sebelumnya

Tekan Lonjakan Harga Jelang Ramadan, Dinas Ketahanan Pangan Lebak Gelar Gerakan Pangan Murah

Baca Selanjutnya

Kisah Ikan Betta Burdigala, Cupang Alami Endemik Bangka Belitung yang Terancam Punah

Tags:

Virus Nipah UGM Waspada protokol kesehatan mikrobiologi

Berita lainnya oleh Muhammad Faizin

Kerusuhan di Polsek Panipahan imbas Kemarahan Warga Terkait Narkoba, Polda Riau Lakukan Evaluasi Besar

15 April 2026 08:50

Kerusuhan di Polsek Panipahan imbas Kemarahan Warga Terkait Narkoba, Polda Riau Lakukan Evaluasi Besar

So Sweet! Dari Paris, Presiden Prabowo Sampaikan Ucapan Ulang Tahun ke-67 untuk Titiek Soeharto

15 April 2026 08:07

So Sweet! Dari Paris, Presiden Prabowo Sampaikan Ucapan Ulang Tahun ke-67 untuk Titiek Soeharto

Pemerintah Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Akademisi: Langkah Mendesak

15 April 2026 05:41

Pemerintah Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Akademisi: Langkah Mendesak

Bertemu Macron di Istana Élysée, Prabowo Perkuat Kerja Sama Indonesia–Prancis

15 April 2026 05:08

Bertemu Macron di Istana Élysée, Prabowo Perkuat Kerja Sama Indonesia–Prancis

Takut Dibunuh Intel Iran, Anak Buah Netanyahu Minta PM Israel Boleh Tak Hadiri Sidang Korupsi

14 April 2026 07:20

Takut Dibunuh Intel Iran, Anak Buah Netanyahu Minta PM Israel Boleh Tak Hadiri Sidang Korupsi

Makan Sebelum Kenyang, Hara Hachi Bu: Rahasia Umur Panjang Warga Okinawa

14 April 2026 06:20

Makan Sebelum Kenyang, Hara Hachi Bu: Rahasia Umur Panjang Warga Okinawa

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar