KETIK, SAMPANG – Santri Pondok Pesantren (PP) Gedangan sukses mengukir prestasi gemilang dalam ajang Musabaqoh Antar Delegasi Pengguna Al-Miftah Mifda Sampang (Munada 4).

Pondok Pesantren yang terletak di Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Jawa Timur itu resmi dinobatkan sebagai Juara Umum dalam kompetisi bergengsi antarsantri tersebut.

Ajang Munada 4 yang diselenggarakan oleh Tatimmah Sidogiri di PP Tarbiyatus Shibyan pada tanggal 18 Oktober 2026 tersebut diikuti oleh sekitar 108 lembaga pengguna Al-Miftah se-Kabupaten Sampang.

Kompetisi ini menjadi wadah untuk menguji kedalaman ilmu agama, pemahaman kitab kuning, hingga ketangkasan para santri.

Dalam perhelatan tahun ini, terdapat enam cabang lomba yang dipertandingkan, di antaranya Baca Kitab Al-Miftah, Baca Kitab Takhossus, Cerdas Cermat, Eat Bulaga, dan Muhafadzah Estafet.

Baca Juga:
Bawa Nama Sampang ke Kancah Internasional, Santri MA Mambaul Ulum Bira Timur Raih Juara 3 Qira'atil Kutub

Al-Miftah PP Gedangan berhasil menduduki posisi tertinggi pada klasemen akhir dengan raihan total 1.511 poin setelah menyabet piala di dua cabang utama.

Secara rinci, kemenangan tersebut diraih melalui Juara 1 Cabang Cerdas Cermat, diraih regu santri yang terdiri atas Auliaul Hasanah, Umamah, dan Humaira Az-Zahra. Kemudian Juara 2 Cabang Baca Kitab Takhossus diraih individu oleh Istiqomah.

Koordinator Al-Miftah PP Gedangan, Badrus Sholeh Zeid, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas pencapaian tersebut.

Ia menilai keberhasilan ini merupakan buah dari proses pembelajaran, kedisiplinan, serta kesungguhan para santri dalam mendalami ilmu agama.

Baca Juga:
Keterbatasan Biaya Tak Surutkan Semangat Belajar Kakak Beradik Yatim Piatu di Sampang

“Alhamdulillah, kemarin kami berhasil meraih juara umum tingkat kabupaten dari sekitar 108 lembaga yang mengikuti perlombaan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin, 19 Oktober 2026.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Mas Badrus itu menjelaskan, cabang Takhossus memiliki tingkat kesulitan dan tantangan tersendiri bagi para peserta.

“Dalam lomba Takhossus, peserta tidak hanya membaca kitab, tetapi juga menerjemahkan dan memaknai isinya. Jadi, kemampuan yang diuji tidak sebatas kelancaran membaca,” jelasnya.

Meski berhasil membawa pulang gelar juara umum dan mengharumkan nama pesantren, ia mengingatkan seluruh santri agar tidak cepat berpuas diri maupun bersikap sombong.

“Prestasi ini sudah cukup membanggakan. Namun, prestasi itu jangan hanya menjadi catatan di atas kertas, apalagi sampai membuat kita merasa paling hebat,” tuturnya.

Mas Badrus berharap raihan ini dapat terus membakar semangat para santri dalam memperdalam ilmu agama.

“Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya. Karena itu, jangan sampai terlena dengan prestasi yang sudah diperoleh. Tetap semangat belajar dan jangan mudah berpuas diri,” pungkasnya. (*)