KETIK, MALANG – Kiai Dr. Abd. Rouf M.HI berhasil menyelesaikan pendidikan dari jenjang sarjana hingga doktor di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Di tengah kesibukannya mengajar dan merintis Pesantren Tahfidz Bani Yusuf, beliau menuntaskan program doktor (S3) hanya dalam 6 semester dengan IPK sempurna 4,00.
Raihan tersebut mengantarkannya sebagai wisudawan terbaik Program Doktor pada Wisuda ke-81 UIN Malang.
Banyak pihak mempertanyakan rahasia di balik keberhasilannya menyeimbangkan studi S3 dengan jadwal mengajar dan mengelola pesantren. Bagi Kiai Rouf, kuncinya bukan pada seberapa banyak aktivitas yang dimiliki, melainkan rasa cinta terhadap profesi dan kegiatan yang dijalani.
"Kalau kita memilih aktivitas dan mencintainya, sebanyak apa pun pekerjaan tidak akan menjadi masalah," ujarnya.
Setiap hari, rutinitasnya dimulai sejak waktu Subuh dengan mendampingi santri menyetorkan hafalan Al-Qur'an, dilanjutkan dengan mengajar di Fakultas Syariah UIN Malang hingga malam hari. Setelah seluruh agenda akademik dan pesantren tuntas, barulah ia mengalokasikan waktu khusus untuk mengerjakan disertasi.
Baca Juga:
Gelar Pembubaran Panitia ICOLESS, Dekan Fakultas Syariah Apresiasi Kinerja Panitia dan Tekankan Penguatan Reputasi Lembaga"Dari jam 21.00 sampai jam 01.00 malam, di situlah saya menulis disertasi. Dan saya tipikalnya kalau sudah mengerjakan, jangan sampai terputus, karena bisa mulai muncul malasnya" jelasnya.
Konsistensi tersebut membuahkan hasil dalam perjalanan akademiknya. Kiai Rouf menyelesaikan program sarjana (S1) pada semester 7, program magister (S2) pada semester 4, dan program doktor (S3) pada semester 6. Seluruh jenjang pendidikan tersebut ditempuh di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
“Bukan pinter, bukan. Cuma saya memang harus selesai. Soalnya kalau waktunya terlalu panjang, bukan semakin enak, tetapi semakin ngelu (pusing)” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan lahir dari melimpahnya waktu luang, melainkan komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan secara bertahap tanpa menunda tanggung jawab.
Baca Juga:
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Perkuat Internasionalisasi Pendidikan melalui Kolaborasi Akademisi Libya di SDN 02 Mulyoagung"Sedikit tidak masalah, yang penting setiap hari ada progres," ujarnya.
Prinsip tersebut telah diterapkannya sejak menempuh pendidikan tinggi. Beliau mengaku membiasakan diri menulis secara konsisten. Baginya, kemajuan kecil yang dilakukan terus-menerus lebih efektif dibanding menunda pekerjaan hingga menumpuk.
Beliau sangat berharap pengalaman dan capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa maupun para santri agar tidak menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk menunda menyelesaikan tanggung jawab. Menurutnya, kedisiplinan dan keistiqamahan akan menghasilkan satu capaian yang luar biasa. (*)