KETIK, JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) mendorong pondok pesantren menjadi pelopor pengelolaan sampah berkelanjutan. Dorongan itu disampaikan dalam Lokalatih Daring Santri Ecosocpreneur yang digelar Direktorat Pemberdayaan Pesantren, Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag, melalui Zoom Meeting pada Jumat, 6 November 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30–11.00 WIB tersebut diikuti pimpinan 58 pondok pesantren pelopor Gerakan Nasional Ecopesantren dan pimpinan 1.914 pesantren pilot pendampingan Program Pesantren Ramah Anak. Turut hadir pimpinan pesantren dari berbagai daerah serta jajaran bidang dan seksi PD Pontren/Papkis/Pendis Kanwil Kemenag provinsi dan Kemenag kabupaten/kota.

Lokalatih ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan santri dalam kewirausahaan sosial dan lingkungan (ecosocial entrepreneurship). Selain itu, kegiatan ini diharapkan memicu lahirnya usaha kreatif dan berkelanjutan yang bertumpu pada potensi pesantren dan masyarakat sekitarnya.

Narasumber yang dihadirkan berasal dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta kalangan akademisi. Diskusi dipandu Founder Yayasan Sigap Kerlip Indonesia, Yanti Sriyulianti. Sejumlah organisasi juga hadir, di antaranya Pesantren Ekologi Ath-Thaariq/Perkumpulan Pesantren Ekologi Indonesia, Forsepsi, Dekopin, KSM Dabaresih, Rumah Cita Kita, dan BSU Asih Kerlip.

Direktur Pemberdayaan Pesantren Yusi Damayanti mengawali kegiatan dengan menyinggung kabut asap dan kebakaran hutan yang melanda banyak wilayah. Menurut dia, dampak persoalan tersebut sangat luas sehingga fokus lokalatih diarahkan pada pengelolaan sampah dan keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga:
Cegah Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Gratis Online!

"Pesantren adalah rumah besar yang menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, pesantren sangat potensial menjadi pelopor perubahan perilaku peduli lingkungan," kata Yusi.

Ia menyoroti besarnya skala aktivitas di lingkungan pesantren. Di Pesantren Lirboyo, misalnya, sekitar 55.000 santri tinggal dan beraktivitas selama 24 jam di satu kawasan. Kondisi itu membuat potensi timbulan sampah plastik harian menjadi sangat tinggi.

Yusi menegaskan, Gerakan Ecopesantren tidak berhenti pada upaya membuat lingkungan bersih dan hijau. "Gerakan ini membangun perubahan perilaku, kebiasaan, dan sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," ujarnya.

Untuk itu, pihaknya memperkenalkan konsep Santri Ecopreneur serta RISE (Riset dan Inovasi Santri Ecopreneur) Club. Wadah ini disiapkan bagi santri untuk meneliti, berinovasi, dan mencari solusi atas persoalan lingkungan. Program tersebut juga menekankan penguatan tiga kapasitas mental santri, yakni ketangguhan (mental toughness), daya lenting (mental resilience), dan keluwesan berpikir (mental flexibility).

Baca Juga:
Temui Prabowo, BRIN Lapor Kembangkan Energi dari Limbah Sawit hingga Vaksin Malaria

Menurut Yusi, gerakan ini bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti mengurangi sampah plastik, memilah sampah, menghemat air dan energi, merawat tanaman, hingga mengembangkan bank sampah.

"Kita tidak harus menunggu semua fasilitas lengkap atau semua persoalan selesai untuk memulai," katanya.

Ke depan, gerakan ini akan diperluas melalui kolaborasi dengan kementerian, lembaga, akademisi, mitra, dan organisasi masyarakat sipil. Kemenag juga akan melakukan kunjungan dan pemetaan kondisi awal pesantren di berbagai provinsi.

Dukungan terhadap gerakan ini datang dari Kemenhut. Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Kemenhut Muhammad Zainal Arifin mengungkapkan, dalam satu dekade terakhir pihaknya telah merehabilitasi lebih dari 2 juta hektare lahan di seluruh Indonesia. Pesantren, kata dia, terlibat intensif dalam upaya pemulihan tersebut.

Saat ini, Kemenhut memiliki 59 pusat persemaian. Sebanyak 50 di antaranya berkapasitas 500.000 hingga 1 juta batang per tahun, sedangkan 9 persemaian besar mampu memproduksi 5 juta hingga 10 juta batang per tahun.

"Seluruh pusat persemaian tersebut siap menyediakan bibit gratis yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk pesantren," ujar Zainal. Bibit itu dapat digunakan untuk rehabilitasi di dalam maupun di luar kawasan hutan, baik melalui pola agroforestri maupun program Kebun Bibit Rakyat.

Zainal juga menjelaskan, kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, dan Jambi sulit dipadamkan karena siklus hidrologi air gambut belum terjaga. Ia pun mendorong pesantren membangun Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) guna menjaga ketersediaan air bersih saat kemarau dan menghadapi perubahan iklim.

Ia menambahkan, Kemenhut tengah menyusun draf perjanjian kerja sama dengan Ditjen Pesantren untuk mengintegrasikan program pemulihan lingkungan dan konservasi air.

Sementara itu, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular KLH Agus Rusly menyebut jumlah santri di Indonesia mencapai sekitar 4 juta orang. Dengan jumlah itu, potensi timbulan sampahnya hampir 2.000 ton per hari.

"Jika dikelola dengan baik, ini justru akan menjadi kekuatan besar menuju Indonesia Emas 2045," kata Agus.

Ia mencontohkan kerja sama KLH dengan rumah ibadah lintas agama melalui penempatan dropbox sampah anorganik, yang hasilnya masuk ke kas rumah ibadah. Model serupa direncanakan diterapkan di pesantren.

Menurut Agus, sampah anorganik yang sudah dipilah santri harus memiliki saluran penampung atau off-taker. "Dengan begitu, hasil pengumpulan tidak terbengkalai dan semangat para santri dalam memilah sampah tetap terjaga," ujarnya.

KLH juga membuka peluang kolaborasi dengan swasta melalui program CSR dan filantropi, berkaca pada pengalaman mendampingi sekitar 15 pesantren sebelumnya. Kementerian itu telah menyiapkan buku panduan pembentukan bank sampah serta merencanakan pelatihan khusus bagi pesantren, baik luring maupun daring.

Dari sisi riset, BRIN menekankan pentingnya audit sampah sebagai langkah awal pengelolaan. Mewakili Kepala Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Sri Wahyono menjelaskan audit dilakukan dengan mengambil sampel di sejumlah titik, seperti asrama santri, dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), ruang kelas, masjid, dan rumah dinas ustaz.

"Melalui audit, kita bisa mengetahui timbulan sampah per orang serta komposisi dan karakteristiknya. Ini sangat penting untuk menentukan teknologi tepat guna yang paling sesuai," jelas Sri.

Teknologi yang dapat dipilih antara lain pengomposan, biogas, pengumpulan sampah layak jual, hingga Refuse Derived Fuel (RDF) dan pirolisis untuk sampah plastik bernilai rendah. BRIN menyatakan siap berkolaborasi agar sampah dapat dikelola mandiri di sumbernya dan beban ke tempat pemrosesan akhir (TPA) berkurang.

Adapun konsultan ahli sekaligus dosen agribisnis dan toksikolog lingkungan Josseph F. William mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap sampah.

"Sampah, kecuali B3, bukanlah masalah, melainkan sumber daya yang dapat dikelola, dimanfaatkan, dan menghasilkan pendapatan ekonomi yang signifikan bagi pesantren," tegasnya.

Josseph memperkenalkan prinsip tiga langkah, yakni paham, peduli, dan lakukan. Ia juga memaparkan sejumlah metode pengolahan sampah organik, mulai dari kompos aerob dan anaerob dengan bantuan ekoenzim, budidaya maggot BSF, vermicompost, hingga reaktor biogas multifungsi yang menghasilkan gas metana, pupuk cair, dan kompos padat sekaligus.

Selain itu, ia menawarkan peta jalan 90 hari bagi pesantren. Tiga puluh hari pertama diisi sosialisasi, pembentukan tim, dan pemilahan sampah. Tiga puluh hari kedua untuk pembangunan sarana dan penanaman, sedangkan 30 hari terakhir untuk panen dan evaluasi.

Dalam sesi diskusi, peserta membahas cara menumbuhkan kesadaran pengurus dan santri agar memandang pengolahan sampah sebagai ikhtiar menjaga bumi, bukan beban operasional. Narasumber menyarankan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi kelompok, baik melalui kajian fikih, Al-Qur'an, dan hadis, maupun melalui potensi ekonominya.

Sarana pemilahan juga dapat disesuaikan dengan kemampuan pesantren, misalnya menggunakan ember, kaleng, atau lubang. Pengecualian berlaku bagi sampah B3 yang harus dikelola secara ketat. Pesantren dengan lahan terbatas pun tetap bisa bercocok tanam memakai pot dinding atau hidroponik sederhana.

Perwakilan Pesantren Ekologi Ath-Thaariq turut mengusulkan agar pertanian di pesantren diarahkan pada agroekologi yang memadukan ekosistem darat, air, dan tanaman campuran sebagai wujud hablum minal 'alam.

Lokalatih Santri Ecosocpreneur akan digelar rutin setiap Jumat dengan materi lanjutan serta pembahasan tantangan praktis di lapangan. Melalui rangkaian kegiatan ini, pesantren diharapkan tumbuh menjadi pelopor gerakan lingkungan sekaligus pusat lahirnya santri wirausaha yang peduli pada keberlanjutan bumi.(*)