KETIK, SURABAYA – Sadis! Itulah barangkali kata pertama yang terlontar dari masyarakat, saat membawa peristiwa pembunuhan istri dan anak di sebuah hotel di Kota Madiun yang dilakukan oleh DBM.

Bagaimana tidak, usai melakukan tindakan menghilangkan nyawa, ia berusaha menghilangkan jejak dengan menggiling keduanya.

Kasus DBM kini telah ditangani oleh Polda Jawa Timur. Tim penyidik, terus melakukan pendalaman terkait motif apa yang dilakukan tersangka. Dimana ia tega melakukan hal tersebut.

Berikut ini merupakan beberapa fakta-fakta menarik dari kasus DBM:

IQ Tinggi 

Baca Juga:
Polda Jatim Dalami Motif DBM, Suami Siri yang Tega Habisi Istri dan Anak di Hotel Kota Madiun

Tim penyidik terus melakukan pendalaman terhadap DBM, terbaru hasil pemeriksaan psikologis tersangka ternyata memiliki tingkat kecerdasan IQ di atas rata-rata.

Selain itu, dari hasil psikologis juga terungkap bahwa DBM memiliki kecenderungan kepribadian superior.

"Terhadap tersangka, kami sudah lakukan pemeriksaan secara psikologis. Memang hasil tes psikologisnya sudah keluar dan sudah disampaikan kepada kami," kata Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol Roy Hutton Marulamrata Sihombing dalam keterangan resmi yang disampaikan di Mapolda Jatim, Selasa, 27 Oktober 2026.

"Dia memiliki kelebihan, tingkat IQ di atas rata-rata. Kemudian juga dia juga memiliki kepintaran yang cukup tinggi," lanjutnya.

Baca Juga:
Polda Jatim Pamerkan Benih Jagung KIP di Agrinex Expo 2026, Ini Keunggulannya

Hilangkan Jejak 2 Hari

Dalam melancarkan aksinya, berdasarkan keterangan Kombes Pol Roy, DBM membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk menjalankan rangkaian perbuatannya, mulai pembunuhan hingga upaya menyembunyikan bukti kejahatan korban DH dan AGM.

"Waktu yang dibutuhkan yaitu kurang lebih dua hari. Mulai dari dia melakukan peristiwa sampai dia mengamankan seluruh perbuatannya yang dia lakukan," ungkapnya.

Roy menjelaskan, tindakan menggiling korban merupakan upaya DBM untuk menghilangkan jejak agar kejahatannya tidak terungkap.

"Motivasinya untuk menghilangkan jejak dari peristiwa yang sudah dia lakukan," ujarnya.

Kombes Pol Roy juga menuturkan, berdasarkan keterangan yang didapatkan DBM. Ia mengatakan alasan membunuh anak AGM karena khawatir dapat menjadi saksi.

"Ada kekhawatiran dari tersangka yang bersangkutan si anak ini akan menjadi saksi dalam peristiwa tersebut. Makanya ikut juga dihabisi," terang Roy.

Tak Sisakan Jejak 

Tim penyidik kesulitan untuk melakukan identifikasi, jasad DH dan AGM. Polisi hanya menemukan beberapa serpihan tulang setelah tubuh kedua korban diduga dibakar, digiling kemudian dibakar kembali sebelum sisa-sisanya dibuang ke sungai.

Untuk melakukan identifikasi, penyidik Polda Jatim harus mengandalkan pemeriksaan DNA untuk memastikan identitas pemilik serpihan tulang yang ditemukan di sekitar lokasi pembakaran.

"Terkait dengan DNA, sementara beberapa serpihan karena memang ini bersih sekali, artinya kami juga masih mengumpulkan yang bisa kami jadikan DNA, namun masih ada beberapa tulang-tulang yang kami temukan," jelas Roy.

Polisi Temukan Serpihan Tulang

DBM diketahui sadis dalam melakukan upaya penghilangan jejak pembunuhan dengan dibakar. Namun upaya itu tidak sepenuhnya membuat seluruh material lenyap.

"Masih ada beberapa serpihan tulang yang kami temukan di belakang rumah, di saat dia proses pembakaran itu," jelas Roy.

Kendati telah mengamankan serpihan tulang, polisi belum dapat menyimpulkan, temuan serpihan tulang merupakan bagian dari jasad kedua korban. (*)