KETIK, KEDIRI – Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Komisariat Kediri dan Madiun kembali menyelenggarakan Financial Journalist Class Sesi 2 sebagai upaya memperkuat sinergi antara industri jasa keuangan dan insan pers dalam menghadirkan informasi yang edukatif, akurat, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Mengusung tema 'Menguatkan Ekosistem Syariah : Peran OJK dan FKIJK dalam Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah', kegiatan tersebut membahas perkembangan industri jasa keuangan syariah, khususnya perbankan syariah, BPRS, dan perusahaan pembiayaan syariah.
Kegiatan yang diselenggarakan di BSI KCP Kediri Bandar Kota Kediri, Kamis 27 Agustus 2026 itu diikuti oleh jurnalis dari berbagai media di wilayah Kediri dan Madiun Raya.
Selain membahas perkembangan industri jasa keuangan syariah, kegiatan juga memberikan pemahaman mengenai hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 kategori syariah serta karakteristik dan produk jasa keuangan syariah.
Pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi insan pers dalam menyampaikan informasi mengenai keuangan syariah secara edukatif dan berimbang kepada masyarakat.
Baca Juga:
Lampaui Nasional! BI Sebut Pertumbuhan Ekonomi Malang Capai 5,71%Kepala OJK Kediri selaku Pembina FKIJK Komisariat Kediri dan Madiun, Ismirani Saputri mengatakan, berdasarkan hasil SNLIK 2026, indeks Literasi dan Inklusi Keuangan secara umum mengalami peningkatan meskipun indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah stagnan dan cenderung menurun.
Indeks Literasi Keuangan Syariah nasional tercatat sebesar 43,07%, sementara indeks inklusi tercatat sebesar 13,24%.
"Angka tersebut masih jauh dibawah indeks literasi keuangan nasional sebesar 69,57% dan inklusi keuangan nasional sebesar 93,61%, dengan gap masing-masing 26,50% dan 80,37%," kata Ismirani.
Lebih jauh, ia menjelaskan kondisi serupa juga terlihat di Jawa Timur. Pada 2026, indeks literasi keuangan syariah Jawa Timur berada di 43,41 persen, dibandingkan indeks literasi keuangan komposit sebesar 72,07 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan syariah hanya 12,64 persen, dibandingkan indeks inklusi komposit sebesar 91,86 persen.
Baca Juga:
Tradisi 'Sebar Koin' di Jamsaren, Kultur Peringatan Maulid Nabi yang Potensi Jadi Wisata ReligiData tersebut menunjukkan bahwa secara nasional maupun di Jawa Timur, pemahaman dan pemanfaatan layanan keuangan syariah masih memiliki ruang yang sangat besar untuk ditingkatkan.
Gambaran tersebut juga tercermin dari struktur industri jasa keuangan di wilayah kerja Kantor OJK Kediri. Dari 65 bank umum, terdapat 8 bank umum syariah (12,3%) dan 57 bank umum (87,7%).
Pada kelompok BPR, dari total 62 lembaga, terdapat 9 BPRS (14,5%) dan 53 BPR (85,5%). Sementara pada sektor lembaga keuangan mikro, terdapat 4 LKMS (23,5%) dan 13 LKM (76,5%) dari total 17 LKM.
"Data hasil SNLIK dan sebaran kantor LJK memperlihatkan bahwa porsi lembaga keuangan syariah memang masih lebih kecil dibandingkan konvensional/nonsyariah. Namun, kondisi tersebut sekaligus menjadi peluang untuk memperluas akses, meningkatkan literasi, dan memperkuat ekosistem keuangan syariah," imbuhnya.
Financial Journalist Class Sesi 2 menghadirkan narasumber Area Manager BSI Area Kediri, Angga Wahyuda Prawiroso, Regional Manager PT Adira Multi Finance Tbk Area Jatim, Ahmad Syauqi dan Direktur Utama PT BPRS Tunas Artha Jaya Abadi, Triyas Nurzain.
Melalui Financial Journalist Class Sesi 2, FKIJK Komisariat Kediri dan Madiun berharap sinergi antara industri jasa keuangan dan insan pers semakin kuat sehingga informasi mengenai perkembangan, produk, dan layanan keuangan syariah dapat tersampaikan secara edukatif, akurat, dan bermanfaat bagi masyarakat.
"Karena itu, pengembangan keuangan syariah tidak hanya menjadi tanggung jawab industri, tetapi membutuhkan sinergi OJK, pemerintah daerah, pelaku usaha jasa keuangan, media, komunitas, serta seluruh pemangku kepentingan agar masyarakat semakin mengenal, memahami, dan pada akhirnya memanfaatkan layanan keuangan syariah sesuai kebutuhan," pungkasnya.(*)