KETIK, MALANG – Pustakawan Universitas Negeri Malang (UM), Teguh Yudi Cahyono, S.I.Pust, M.M., menanggapi peran pustakawan yang justru semakin penting di era kemajuan teknologi sebagai penghubung antara manusia dan informasi yang benar, kredibel, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara manusia memperoleh informasi. Saat ini, berbagai jawaban dapat ditemukan hanya dengan beberapa detik melalui mesin pencari atau aplikasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Dari kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang direnungkan oleh banyak orang terkait peran pustakawan masih relevan atau tidak di era modern. Teguh menjelaskan bahwa pustakawan tidak hanya relevan tetapi justru semakin penting karena yang berubah bukan kebutuhan terhadap pustakawan, melainkan bentuk perannya.

Namun, hingga saat ini masih banyak pandangan pustaka hanya sebatas penjaga rak buku atau petugas peminjaman koleksi. Menurutnya, pandangan ini sudah tidak lagi sesuai dengan realitas, di mana perpustakaan modern telah bertransformasi menjadi pusat pengetahuan dan pustakawan memiliki peran menjadi penghubung antara manusia dan segala informasi yang benar, kredibel, dan dapat dipertanggung jawabkan.

“Di era ketika siapa pun dapat memproduksi informasi, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan sumber bacaan, melainkan banjir informasi yang sulit dibedakan antara fakta, opini, dan disinformasi,” tegas Teguh.

Baca Juga:
Jaga Ekosistem Hutan Lindung, UB Forest akan Tanam 23 Spesies Tanaman Ficus

Kemajuan teknologi memang telah mampu memberikan jutaan jawaban pencarian dalam hitungan detik, namun tidak semua informasi menjamin kualitas kebenarannya. Pada momen ini, pustakawan memiliki posisi strategis sebagai kurator informasi.

Perguruan tinggi menjadi contoh nyata bagaimana peran pustakawan semakin dibutuhkan. Bukan hanya oleh mahasiswa, dosen, namun para peneliti juga membutuhkan pendampingan dalam menelusuri literatur ilmiah, mengelola referensi, memahami etika akademik, hingga menghindari jurnal predator.

Semua itu bukan hanya sekadar pekerjaan administratif, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas ilmu pengetahuan.

Ironisnya, kontribusi pustakawan sering kali kabur tak terlihat. Keberhasilan publikasi ilmiah kerap hanya dikaitkan pada penulisnya. Namun, di balik proses tersebut, pustakawan memiliki peran untuk memastikan validitas sumber dan ketepatan pengelolaan referensi.

Baca Juga:
Jangan Lewatkan! Puluhan Layangan Hias Bakal Warnai Langit Malang, Ada Lomba Sambit Rp15 Juta

“Pustakawan bekerja di balik layar, tetapi dampaknya sangat nyata terhadap mutu pendidikan dan penelitian,” ujar Teguh.

Saat ini, fitur kecerdasan buatan juga memunculkan tantangan baru. Sebagian pihak menganggap AI akan menggantikan profesi pustakawan. Namun, Teguh menilai anggapan tersebut terlalu sederhana.

“AI memang mampu mempercepat pencarian informasi, tetapi belum mampu menggantikan penilaian kritis, pertimbangan etis, maupun kemampuan memahami konteks akademik secara utuh,” pungkasnya.

Sehingga, pustakawan justru dibutuhkan untuk hadir dalam mengarahkan pemanfaatan teknologi dengan etika penuh tanggungjawab.

Transformasi peran pustakawan tidak hanya berdiri sendiri. Perguruan tinggi perlu memandang perpustakaan sebagai investasi strategis, bukan sekadar unit pendukung.

Sementara itu, pustakawan juga dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi, mulai dari literasi data, pengelolaan informasi digital, hingga kemampuan komunikasi.

Di tengah derasnya arus digital, Teguh menekankan pentingnya perubahan paradigma tersebut bagi pustakawan yang bukan lagi penjaga koleksi buku, akan tetapi penjaga kualitas pengetahuan.

Pada akhirnya, modernitas tidak mengurangi arti penting pustakawan. Justru semakin maju teknologi, semakin besar kebutuhan akan profesi yang mampu memastikan informasi digunakan secara benar.

Pustakawan kini tidak hanya hadir di balik meja layanan, tetapi juga sebagai mitra pembelajaran, pendamping riset, dan penggerak literasi digital.

Sehingga, sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap profesi ini. Pustakawan tidak cukup hanya hadir di balik meja layanan. Mereka harus tampil sebagai mitra pembelajaran, pendamping riset, penggerak literasi digital, sekaligus agen perubahan yang mampu memperkuat daya saing perguruan tinggi. 

Ketika pengetahuan menjadi fondasi kemajuan bangsa, maka pustakawan adalah salah satu pilar yang memastikan fondasi akan tetap kokoh.(*)