KETIK, MALANG – MTs Kelompok Kerja Madrasah (KKM) 1 Kota Malang bersama Komisi IX DPR RI dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar kegiatan Generasi Berencana (Genre) di MTsN 1 Kota Malang, Senin, 27 Juli 2026. Kegiatan yang diikuti perwakilan 18 madrasah ini menyoroti pembangunan sumber daya manusia (SDM) melalui pencegahan stunting, peningkatan literasi kesehatan reproduksi, serta antisipasi meningkatnya kasus HIV, pernikahan dini, dan persoalan kesehatan remaja.

Forum tersebut dihadiri kepala madrasah, wakil kepala bidang kesiswaan, pembina OSIM, serta perwakilan wali murid dari 18 madrasah yang tergabung dalam KKM MTsN 1 Kota Malang. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas literasi kesehatan keluarga dan remaja di lingkungan madrasah.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Shodiqi, S.H., M.M., mengatakan pembangunan SDM tidak lagi hanya berfokus pada penurunan angka stunting, tetapi harus memperhatikan seluruh siklus kehidupan masyarakat mulai dari calon pengantin, ibu hamil, bayi, balita, remaja hingga lanjut usia.

"Stunting sebenarnya masih bisa dicegah selama anak berada di bawah usia dua tahun. Namun pembangunan SDM tidak berhenti pada stunting saja. Semua tahapan kehidupan harus dipersiapkan agar menghasilkan generasi yang sehat, produktif, dan berkualitas," ujarnya.

Menurut Shodiqi, saat ini Indonesia tengah menghadapi tantangan baru berupa meningkatnya kasus HIV pada kelompok usia produktif. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, sebanyak 74 persen penderita HIV di Indonesia berasal dari kelompok usia 25 hingga 49 tahun. Jawa Timur juga masih menjadi salah satu dari 11 provinsi dengan jumlah kasus HIV yang tinggi.

Baca Juga:
Baris-Berbaris hingga Yel-Yel, Siswa MTsN 1 Kota Malang Bentuk Mental Lewat MATAMUDA di Lanal

Ia juga menyoroti data di Kabupaten Sidoarjo yang mencatat terdapat 522 anak dan pelajar terpapar HIV, terdiri atas 465 pelajar SMA dan mahasiswa, 44 siswa SD dan SMP, serta 13 anak usia PAUD dan TK yang sebagian besar tertular dari ibunya.

Karena itu, BKKBN terus memperkuat Program Generasi Berencana (Genre) melalui pendekatan Triad Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang mengedepankan pencegahan pernikahan usia dini, menghindari hubungan seksual sebelum menikah, serta menjauhi penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif.

Selain itu, BKKBN juga mengembangkan layanan digital Super Apps Konsultasi Keluarga yang menyediakan konsultasi mengenai kehamilan, kesehatan reproduksi, pengasuhan anak, kesehatan lansia, hingga persoalan ketahanan keluarga secara daring guna memperluas akses informasi kesehatan bagi masyarakat.

Penyuluh KB Kecamatan Lowokwaru, Danang Mukti, S.H., menjelaskan bahwa pencegahan stunting dimulai jauh sebelum masa kehamilan. Remaja putri perlu memenuhi kebutuhan gizi sejak dini agar terhindar dari anemia maupun Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang berisiko melahirkan anak stunting di kemudian hari.

Baca Juga:
Hari Pertama Sekolah di MTsN 1 Kota Malang Diwarnai Gerakan Ayah Mengantar Anak

Ia menambahkan pola makan sehat, kesehatan mental, lingkungan keluarga, serta kehadiran figur ayah memiliki peran penting dalam tumbuh kembang remaja. Karena itu, pemerintah juga mendorong Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATIN) sebagai salah satu upaya mengurangi fenomena fatherless.

Sementara itu, anggota Komisi IX DPR RI, dr. Gamal Albinsaid, mengatakan investasi pembangunan SDM harus dimulai sejak dini melalui pemenuhan gizi, pemberian ASI eksklusif, dan pengaturan jarak kehamilan.

Menurutnya, stunting tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berdampak pada penurunan kecerdasan hingga 8–11 poin IQ, penurunan produktivitas saat dewasa sekitar 20 persen, serta berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Melalui kolaborasi dengan BKKBN dan MTsN 1 Kota Malang, kami ingin meningkatkan literasi masyarakat mengenai pentingnya gizi yang cukup, ASI eksklusif, serta pengaturan jarak kehamilan sebagai bagian dari pencegahan stunting," kata Gamal.

Ia juga mengingatkan meningkatnya penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung, stroke, dan obesitas akibat pola makan tidak sehat menjadi tantangan baru yang harus diantisipasi karena berpotensi membebani sistem pembiayaan kesehatan nasional.

Kepala MTsN 1 Kota Malang, Dra. Hj. Erni Qomaria Rida, M.Pd., mengatakan kolaborasi lintas sektor tersebut memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada warga madrasah mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, kesehatan mental, hingga pembentukan karakter.

"Kami sangat berterima kasih atas kolaborasi ini. Wawasan tentang Generasi Berencana menjadi semakin luas karena membahas kesehatan secara utuh, mulai kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, kesehatan mental hingga pembentukan karakter," ujarnya.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari inovasi MTsN 1 Kota Malang melalui program BAKTI (Bersama Kita Tingkatkan Kepedulian Negeri) yang mendorong kolaborasi berbagai pihak dalam meningkatkan kualitas generasi muda.