KETIK, BATU – Perubahan iklim dan pertumbuhan permukiman menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dalam upaya mengendalikan risiko penularan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Kenaikan suhu dinilai dapat memengaruhi pola hidup nyamuk Aedes aegypti, sementara perkembangan kawasan permukiman membuat tantangan pengendalian penyakit semakin kompleks.
Kepala Dinkes Kota Batu, Aditya Prasaja, mengatakan perubahan kondisi iklim turut memengaruhi pola penyebaran nyamuk Aedes aegypti. Kondisi itu diperkuat dengan pertumbuhan penduduk dan permukiman yang cukup signifikan di Kota Batu.
“Ada dampak perubahan iklim di mana suhu di Kota Batu kini tidak sedingin dulu. Kondisi ini ikut memengaruhi pola penyebaran nyamuk Aedes aegypti. Ditambah lagi, pertumbuhan penduduk dan permukiman kita sangat signifikan,” ujarnya, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Penanganan DBD, tambahnya, juga menghadapi persoalan perbedaan pencatatan dan kriteria diagnosis antara rumah sakit dengan data program yang digunakan Dinkes dan puskesmas. Perbedaan tersebut dinilai dapat memengaruhi proses tindak lanjut serta pemetaan kasus di lapangan.
Baca Juga:
KUA-PPAS 2027 Kota Batu Dibahas, Smart Farming hingga 1.000 Sarjana Jadi Prioritas“Masih ada pembenahan antara yang disampaikan rumah sakit dengan kami yang harus melakukan ceklis kriteria program. Perbedaan data ini membuat tindak lanjut penanganan di lapangan kadang belum maksimal,” katanya.
Berdasarkan data Dinkes Kota Batu, kasus DBD pada 2024 tercatat sebanyak 442 kasus, sedangkan Demam Dengue (DD) mencapai 447 kasus. Jumlah tersebut kemudian menurun pada 2025 dengan 165 kasus DBD dan 253 kasus DD.
Sementara hingga Juni 2026, masih terdapat perbedaan pencatatan antara rumah sakit dan data program puskesmas. Rumah sakit melaporkan 69 kasus DB dan 13 kasus DBD, sedangkan data program puskesmas mencatat 66 kasus DD dan tujuh kasus DBD.
Aditya mengatakan Dinkes Kota Batu bersama rumah sakit, puskesmas, dan lintas sektor terus berupaya menyamakan persepsi mengenai tata laksana klinis sekaligus memperkuat sistem surveilans.
Baca Juga:
Bongkar Dugaan Penyimpangan Dana Hibah KONI Kota Batu, Kejari Periksa Lebih dari 15 SaksiPenguatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta peningkatan kapasitas petugas kesehatan lingkungan di desa dan kelurahan juga menjadi bagian dari upaya tersebut.
“Kami berharap melalui pertemuan tersebut semua pihak bisa menyepakati tata laksana klinis yang sama dan mendapatkan rencana tindak lanjut yang konkret demi melindungi masyarakat Kota Batu. Intinya, dalam pencegahan perlu dukungan semua pihak, terutama masyarakat di lingkungan masing-masing,” tuturnya.(*)